Laporkan Masalah

Pola Keruangan Deindustrialisasi Kabupaten Kota di Pulau Jawa

Budi Prasetyo, Prof. Dr. Lutfi Muta'ali, S.Si., M.T.

2025 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Pulau Jawa merupakan wilayah dengan aktivitas ekonomi paling padat di Indonesia, salah satunya ditandai oleh kontribusi sektor industri pengolahan yang signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Namun, dalam rentang waktu 2014 hingga 2023, terjadi fenomena yang mengindikasikan adanya deindustrialisasi pada sejumlah kabupaten dan kota di Pulau Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat deindustrialisasi kabupaten dan kota di Pulau Jawa; mengetahui pola spasial tingkat deindustrialisasi kabupaten dan kota di Pulau Jawa; serta menyusun strategi dan arahan terkait deindustrialisasi kabupaten/kota di Pulau Jawa . Penelitian ini berlokasi di Pulau Jawa dengan unit analisis yaitu 119 kabupaten dan kota. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif dan menggunakan data sekunder. Teknik analisis yang digunakan yaitu indeks Moran, LISA, dan tipologi wilayah. Hasil yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan peta.

Berdasarkan data yang telah diolah dalam penelitian ini, diperoleh bahwa terdapat 48 kabupaten dan kota di Pulau Jawa yang mengalami deindustrialisasi dengan rincian 19 kabupaten dan kota termasuk kategori deindustrialisasi tinggi serta 29 kabupaten dan kota termasuk kategori deindustrialisasi rendah. Secara spasial, pola menunjukkan bahwa deindustrialisasi di Pulau Jawa tidak tersebar secara acak, melainkan membentuk pola mengelompok (clustered), dengan nilai Indeks Moran sebesar 0,244533 dan Expected Index sebesar -0,008475. Temuan ini mengindikasikan adanya autokorelasi spasial positif, yang berarti daerah-daerah yang mengalami deindustrialisasi cenderung berdekatan secara geografis. Analisis LISA lebih lanjut memperlihatkan adanya empat kuadran pola lokal yaitu High-High (H-H), Low-Low (L-L), High-Low (H-L), dan Low-High (L-H), dengan sebaran masing-masing 15 kabupaten/kota dalam kuadran H-H, 17 kabupaten/kota dalam kuadran L-L, 5 kabupaten/kota dalam kuadran H-L, dan tidak ada kabupaten/kota dalam kuadran L-H. Tipologi yang terbentuk di Pulau Jawa memiliki tipe I sebanyak 13 kabupaten/kota, tipe II sebanyak 6 kabupaten dan kota, tipe III sebanyak 23 kabupaten/kota, serta tipe IV sebanyak 6 kabupaten/kota. Selanjutnya, rekomendasi dan arah kebijakan dapat digali dengan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman tiap tipe wilayah yang terbentuk dengan memperhatikan dokumen perencanaan pembangunan.


Java is the most economically active region in Indonesia, with manufacturing contributing significantly to the region's gross domestic product (GDP). However, several provinces and cities in Java are expected to deindustrialise between 2014 and 2023. The objectives of this study are to determine the extent of deindustrialisation in Java's provinces and cities, to identify spatial patterns of the extent of deindustrialisation in Java's provinces and cities, and to formulate strategies and directions related to deindustrialisation in Java's provinces and cities. The study was conducted in Java and the unit of analysis was 119 provinces and cities. The methodology was quantitative descriptive method based on secondary data. Analytical methods such as Moran index, LISA, and regional typology were used. The results are presented in the form of tables and maps.

According to the data collected in this study, there are 48 non-industrial provinces and cities in Java, of which 19 provinces and cities are classified as highly industrial and 29 as less industrial. Spatially, non-industrialization in Java is not randomly distributed, but forms a cluster structure with a Moran index of 0.244533 and an expectation index of -0.008475. This result suggests positive spatial autocorrelation, implying that non-industrialized areas tend to be geographically close to each other. The LISA analysis also shows that the regional structure has four quadrants: high-high (H-H), low-high (L-L), high-high (H-L), and low-high (L-H), with 15 districts/localities in the H-H quadrant, 17 districts/localities in the L-L quadrant, 5 districts/localities in the H-L quadrant, and no districts/locality in the L-H quadrant.  The typologies created in Java are 13 districts/locations for Type I, 6 districts/locations for Type II, 23 districts/locations for Type III, and 6 districts/locations for Type IV. In addition, an analysis of the strengths, weaknesses, opportunities and threats of each area type created, taking into account the development plan documents, allows for the exploration of recommendations and policy directions.


Kata Kunci : deindustrialisasi, industri, kontribusi, PDRB, pola spasial

  1. S1-2025-478042-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478042-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478042-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478042-title.pdf