Efikasi Ekstrak Etanol Kulit Duku (Lansium domesticum Corr.) dan Ekstrak Air Daun Kenikir (Cosmos caudatus Kunth) Terhadap Mortalitas dan Perkembangan Larva Aedes aegypti L. 1762
Septiana Audina, Dr. Dra. Rr. Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, B.Sc., DAP&E. M.Biomed.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Indeks bahaya DBD di Kelurahan Baledono Kabupaten Purworejo tergolong tinggi. Tindakan pencegahan seperti penanggulangan vektor Aedes aegypti dengan larvasida dari bahan alami dinilai lebih aman untuk lingkungan maupun manusia. Kulit duku dan daun kenikir berpotensi mempengaruhi mortalitas atau perkembangan larva karena mengandung metabolit sekunder yang mendukung. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak etanol kulit duku dan ekstrak air daun kenikir, mengetahui efektivitas pemberian ekstrak pada kematian dan perkembangan larva nyamuk, dan mengetahui gambaran nilai Angka Bebas Jentik (ABJ) dan House Index (HI) di Baledono. Penelitian ini mencakup tahap sampling nyamuk, pemeriksaan golongan senyawa kulit duku metode KLT dan golongan senyawa daun kenikir dengan spektrofotometri UV-Vis, pemeriksaan toksisitas serta perkembangan larva Ae. aegypti, dan analisis statistik. Hasil pemeriksaan golongan senyawa menunjukkan kandungan alkaloid, fenol dan saponin pada kulit duku, sementara pada daun kenikir mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin. Mortalitas ekstrak kulit duku dalam 24 jam 0?n mampu menghambat perkembangan larva pada konsentrasi 2?ngan nyamuk dewasa yang terbentuk 4/40 ekor. Daun kenikir menyebabkan mortalitas larva 92,50?lam konsentrasi 80?n memiliki nilai LC50 dan LC90 secara berurutan yaitu 43,60?n 69,17%. Daun kenikir menyebabkan hormesis pada perkembangan larva nyamuk. Nilai ABJ dan HI masing-masing di Kelurahan Baledono yaitu 37 dan 63%. Ekstrak kulit duku dan daun kenikir memiliki potensi sebagai sebagai larvasida alami untuk mengendalikan populasi Ae. aegypti di daerah endemis karena memiliki kandungan metabolit sekunder yang mendukung.
The dengue fever hazard index in Baledono Subdistrict, Purworejo Regency, is classified as high. Preventive measures such as vector control of Aedes aegypti using natural larvicides are considered safer for both the environment and humans. Duku peel and wild cosmos leaves have the potential to influence larval mortality or development due to their content of secondary metabolites. This study aimed to identify the classes of secondary metabolites in ethanol extract of duku peel and aqueous extract of wild cosmos leaves, evaluate the effectiveness of the extracts on larval mortality and development, and assess the Larvae Free Index (ABJ) and House Index (HI) in Baledono. The research included mosquito sampling, phytochemical screening of duku peel using TLC and phytochemical screening of wild cosmos leaves using UV-Vis spectrophotometry, larval toxicity and development tests on Ae. aegypti, and statistical analysis. Phytochemical screening showed that duku peel contained alkaloids, phenols, and saponins, while wild cosmos leaves contained alkaloids, tannins, flavonoids, and saponins. The ethanol extract of duku peel showed 0% larval mortality within 24 hours but inhibited larval development at 2% concentration, resulting in only 4/40 larvae developing into adults. The aqueous extract of wild cosmos leaves caused 92.50% larval mortality at an 80% concentration, with LC?? and LC?? values of 43.60% and 69.17%, respectively. Wild cosmos extract also exhibited hormetic effects on larval development. The ABJ and HI values in Baledono Subdistrict were 37% and 63%, respectively. These findings suggest that duku peel and wild cosmos leaves extracts possess potential as natural larvicides for controlling Ae. aegypti populations in endemic areas due to their content of bioactive secondary metabolites.
Kata Kunci : Aedes aegypti, daun kenikir, kulit duku, mortalitas, perkembangan larva