Geografi Bunuh Diri: Karakteristik dan Pola Spasial di Zona Baturagung, Basin Wonosari, dan Karst Gunungsewu, di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia
MUHAMAD RIFKI RAFIDA, Dr. Erlis Saputra, S.Si., M.Si.
2025 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Bunuh diri merupakan permasalahan serius yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya dari sisi psikologis individu, tetapi juga oleh kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan tempat tinggalnya. Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk wilayah yang mencatat angka kejadian bunuh diri yang tinggi dan terus berulang dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap karakteristik kejadian bunuh diri, menganalisis pola penyebarannya berdasarkan pembagian zona geografis (Baturagung, Basin Wonosari, dan Karst Gunungsewu), serta mengkaji pelaksanaan kebijakan yang telah dibuat dan menyusun rekomendasi berdasarkan hasil temuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan strategi sequential explanatory, yakni menggabungkan analisis spasial (Moran’s I dan LISA) serta wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian bunuh diri paling sering ditemukan pada kelompok laki-laki, warga lanjut usia, dan petani, dengan metode gantung diri sebagai cara yang paling umum. Dari sisi spasial, wilayah Karst Gunungsewu merupakan zona dengan jumlah kejadian terbanyak. Evaluasi terhadap kebijakan daerah menunjukkan bahwa meskipun telah ada regulasi dan modul pencegahan yang disusun oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, pelaksanaan di lapangan masih mengalami kendala, terutama terkait ketersediaan tenaga kesehatan jiwa. Kebijakan yang ada masih bersifat umum dan belum fokus pada kelompok rentan dan kondisi wilayahnya. Oleh karena itu, rekomendasi kebijakan dalam penelitian ini ditujukan untuk memperkuat pendekatan yang telah ada, melalui penerapan kerangka THIS (Tematik, Holistik, Integratif, dan Spasial) dan model USI (Universal, Selective, Indicated) agar intervensi pencegahan dapat lebih tepat sasaran dan adil.
Suicide is a serious public issue that is influenced not only by individual psychological conditions but also by broader social, cultural, economic, and geographical factors. In Gunungkidul Regency, located in Special Region of Yogyakarta, suicide rates remain high and have persisted consistenly from year to year. This study aims to identify the characteristics of suicide incidents, examine spatial patterns based on physiograpic zones (Baturagung, Wonosari Basin, and Gunungsewu Karst), and evaluate the implementation of local policies while formulating recommendations based on the findings. A mixed method approach was employed using sequential explanatory strategy, combining spatial analysis (Moran’s I and LISA) with qualitative interviews. The result indicate that suicide incidents are more frequent among males, the elderly, and farmers, with hanging identified as the most commonly used method. Spatial analysis reveals that the highest concentration of incidents occurs in the Gunungsewu Karst zone. Policy evaluating shows that, despite the existence of local regulations and a suicide prevention module formulated by the Gunungkidul government, implementation in the field continues to face challenges, particulary regarding the availability of mental health personnel and community involvement tailored to local vulberabilities. Consequently, thus study recommends strengthening the current approach by incorporating the THIS framework (Thematic, Holistix, Integrative, Spatial) alongside the USI mode (Universal, Selective, Indicated), in order to improve the accuracy and equity of suicide prevention efforts.
Kata Kunci : Bunuh diri, Pola Spasial, Geografi Kesehatan, Geografi Bunuh Diri, Kebijakan