Kajian Luaran Klinis dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki pada Pengobatan Pasien Sistemik Lupus Eritematosus di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Juli-September 2023
Nurrika Diah Faozizah, Prof. Dr.apt. Zullies Ikawati
2025 | Skripsi | FARMASI
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun yang menyerang berbagai sistem tubuh, Manifestasi klinis yang terjadi beragam, tergantung individu masing-masing, meliputi keterlibatan kulit dan mukosa, sendi, darah, jantung, paru, ginjal, susunan saraf pusat (SSP) dan sistem imun, sehingga terapi yang dilakukan sangat individual. SLE sendiri merupakan penyakit kronis, dimana penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu lama seringkali juga menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pola peresepan, luaran klinis, dan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) penggunaan obat pada pasien SLE.
Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Data pengobatan, luaran klinis, dan kejadian yang dicurigai sebagai ROTD diambil dari data rekam medis pasien rawat jalan RSUP Dr. Sardito dengan pengambilan data secara retrospektif. Subjek yang digunakan dalam penelitian yaitu semua pasien SLE yang menjalani perawatan rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito dan melakukan kontrol pada periode Juli-September 2023 dan telah melakukan pengobatan selama 6 bulan terhitung dari periode waktu tersebut. Parameter yang diamati yaitu terkait pola peresepan, efektivitas, serta ROTD pengobatan lupus dari luaran klinis yang tercatat dalam rekam medis pasien, baik dalam bentuk subjektif maupun objektif.
Terapi utama yang diberikan kepada pasien SLE terdiri dari imunosupresan (36,21%), kortikosteroid (26,25%) dengan metilprednisolon sebagai agen terbanyak (25,58%), NSAID (24,58%), dan antimalaria (12,96%). Sebagian besar pasien SLE (69,7%) menunjukkan luaran klinis berupa aktivitas penyakit yang terkontrol dalam enam bulan pemantauan, sedangkan sisanya (30,30%) mengalami aktivitas penyakit yang tidak terkontrol. ROTD yang paling sering ditemukan adalah rambut rontok (34,02%), dengan obat yang dicurigai adalah golongan imunosupresan.
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is an autoimmune disease that attacks various body systems. Clinical manifestations vary depending on the individual and may involve the skin and mucous membranes, joints, blood, heart, lungs, kidneys, central nervous system (CNS), and the immune system, making therapy highly individualized. SLE is a chronic condition in which long-term use of medications often leads to unwanted effects. The aim of this study was to examine prescription patterns, clinical outcomes, and adverse drug reactions (ADRs) associated with medication use in patients with SLE.
The study was conducted using a descriptive method with a cross-sectional study design. Data on treatments, clinical outcomes, and suspected ADRs were obtained retrospectively from the medical records of outpatient SLE patients at RSUP Dr. Sardjito. The study population comprised all SLE patients who received outpatient care at RSUP Dr. Sardjito, attended follow-up between July until September 2023, and had been on treatment for at least six months from that period. The parameters observed included prescription patterns, effectiveness, and ADRs of lupus medications based on both subjective and objective clinical outcomes recorded in patient charts.
The main therapies given to SLE patients consisted of immunosuppressants (36.21%), corticosteroids (26.25%) with methylprednisolone as the most common agent (25.58%), NSAIDs (24.58%), and antimalarials (12.96%). Most SLE patients (69.7%) showed clinical outcomes in the form of controlled disease activity within six months of monitoring, while the rest (30.30%) experienced uncontrolled disease activity. The most common adverse drug reaction found was hair loss (34,02%), with the suspected drug being the immunosuppressant group
Kata Kunci : Sistemik Lupus Eritematosus (SLE), Efektivitas, Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD), efek samping