Laporkan Masalah

Analisis Perbandingan Kinerja Bitcoin, Indeks LQ45, dan Indeks SRI KEHATI

Kendatu Hannon Sagoto, Prof. Dr. Mamduh Mahmadah Hanafi, M.B.A.

2025 | Skripsi | MANAJEMEN

    Penelitian ini menganalisis perbandingan kinerja Bitcoin, indeks LQ45, dan indeks SRI KEHATI di Indonesia selama periode 2015—2024 dari aspek imbal hasil, risiko, dan kinerja yang disesuaikan dengan risiko. Penelitian ini menggunakan data historis harga penutupan bulanan dengan total 360 sampel. Metode yang digunakan mencakup analisis statistik deskriptif dan uji non-parametrik Kruskal-Wallis untuk menguji signifikansi perbedaan antar instrumen investasi.

    Hasil menunjukkan bahwa Bitcoin memiliki rata-rata imbal hasil tertinggi sebesar 7,29?ngan risiko paling tinggi sebesar 24,31%. Indeks LQ45 mencatat imbal hasil sebesar 0,04?n risiko 4,80%, sedangkan indeks SRI KEHATI mencatat imbal hasil sebesar 0,30?ngan risiko 4,87%. Meskipun Bitcoin memiliki imbal hasil tertinggi, hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa perbedaan imbal hasil antar ketiga instrumen tidak signifikan (p = 0,063). Namun, terdapat perbedaan yang signifikan dalam risiko (p < 0>

    Secara keseluruhan, Bitcoin menunjukkan keunggulan dalam kinerja yang disesuaikan dengan risiko: Sharpe Ratio (0,29450), Treynor Measure (0,06659), dan Jensen’s Alpha (6,86%). Sementara itu, indeks LQ45 dan SRI KEHATI menunjukkan kinerja yang relatif lebih rendah, bahkan negatif pada beberapa indikator. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun berisiko tinggi, Bitcoin mampu memberikan kompensasi risiko yang lebih tinggi bagi investor agresif. Di sisi lain, saham konvensional (LQ45) dan saham berbasis keberlanjutan (SRI KEHATI) tetap relevan bagi investor konservatif dengan preferensi risiko yang lebih rendah.

    Keterbatasan studi ini terletak pada acuan pasar indeks MSCI All Country World Indeks (MSCI ACWI) dan tidak menggunakan acuan pasar berupa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk LQ45 dan SRI KEHATI, serta indeks pasar kripto global untuk Bitcoin. Bagi penelitian mendatang, disarankan untuk menggunakan indeks-indeks tersebut sebagai acuan pasar. Implikasi dari penelitian ini berupa pertimbangan alokasi ke aset kripto berupa Bitcoin untuk mengoptimalkan imbal hasil. Sementara itu, investor konservatif dapat memilih indeks SRI KEHATI sebagai aset investasi.

    This study analyzes the comparative performance of Bitcoin, the LQ45 Index, and the SRI KEHATI Index in Indonesia over the period 2015–2024, focusing on return, risk, and risk-adjusted performance. The research utilizes historical monthly closing price data, totaling 360 observations. Descriptive statistics and the non-parametric Kruskal-Wallis test were applied to examine the significance of differences among the investment instruments.

    The results show that Bitcoin recorded the highest average return of 7.29%, along with the highest risk level of 24.31%. Meanwhile, the LQ45 Index yielded a return of 0.04% with a risk of 4.80%, and the SRI KEHATI Index generated a return of 0.30% with a risk of 4.87%. Although Bitcoin had the highest return, the Kruskal-Wallis test revealed no statistically significant difference in returns across the three instruments (p = 0.063). However, significant differences were found in terms of risk (p < 0>

    Overall, Bitcoin demonstrated superior risk-adjusted performance: Sharpe Ratio (0.29450), Treynor Measure (0.06659), and Jensen’s Alpha (6.86%). In contrast, the LQ45 and SRI KEHATI indices exhibited relatively lower and even negative risk-adjusted performance values. These findings confirm that despite its high volatility, Bitcoin provides sufficient risk compensation for aggressive investors. On the other hand, conventional (LQ45) and sustainability-based (SRI KEHATI) stocks remain relevant options for conservative investors with lower risk tolerance.

    The limitation of this study lies in its use of the MSCI All Country World Index (MSCI ACWI) as the market benchmark, rather than using the Composite Stock Price Index (IHSG) as the benchmark for LQ45 and SRI KEHATI, and a global cryptocurrency market index for Bitcoin. For future research, it is recommended to use these respective indices as market benchmarks. The implication of this study is the consideration of allocating assets to cryptocurrency, specifically Bitcoin, to optimize returns. Meanwhile, conservative investors may opt for the SRI KEHATI index as an investment asset.

Kata Kunci : Bitcoin, indeks LQ45, indeks SRI KEHATI, imbal hasil, risiko, kinerja yang disesuaikan dengan risiko.

  1. S1-2025-480278-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480278-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480278-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480278-title.pdf