Laporkan Masalah

KONSTRUKSI PEREMPUAN SEBAGAI MONSTER DALAM NOVEL THE POWER KARYA NAOMI ALDERMAN

Sandra Damar Siswanti, Prof. Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., D.E.A

2025 | Tesis | S2 Sastra

Penggambaran perempuan sebagai monster bukanlah hal yang jarang ditemui di karya sastra. Perempuan dalam karya sastra sering kali dipandang negatif, baik sebagai korban, maupun sebagai penjahat atau monster. Untuk membebaskan diri dari posisi korban, perempuan melakukan upaya tersebut secara berlebihan dan bukan lagi menjadi upaya pembebasan melainkan upaya balas dendam. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengkonstruksian perempuan sebagai monster yang dilakukan oleh pengarang serta mengetahui alasan yang mendasari mengapa pengarang melihat perempuan sebagai monster ketika sudah memiliki kekuatan yang melebihi laki-laki. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori monster Braidotti (1997) teori trauma acting out dan working through LaCapra (2014). Objek material pada penelitian ini adalah novel karya Naomi Alderman berjudul The Power
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam The Power karya Naomi Alderman, konstruksi perempuan sebagai monster diwujudkan melalui transformasi fisik dan tindakan kekerasan setelah mereka memperoleh kekuatan listrik melalui organ skein. Tubuh perempuan yang berubah secara biologis menjadi simbol monstrositas, dipandang berlebihan, mengancam, dan menimbulkan ketakutan kolektif. Perubahan ini menandai pergeseran perempuan dari sosok pasif yang menanggung kekerasan menjadi subjek aktif yang menebar kekuasaan dan ancaman. Konstruksi fisik ini diperkuat oleh beragam tindakan kekerasan yang dilakukan tokoh-tokoh perempuan, seperti Allie yang membunuh ayah angkatnya dan mendirikan agama baru, Roxy dan pasukan perempuan Moldova yang membalas dendam melalui pembunuhan, Tatiana yang merebut kekuasaan politik secara brutal, dan Margot yang menyalahgunakan jabatannya demi kepentingan pribadi. Kekerasan yang dilakukan meliputi kekerasan fisik, psikologis, seksual, struktural, dan institusional. Pemonsteran perempuan menjadi narasi dominan karena pengarang menampilkan perempuan yang trauma akibat sistem patriarki, namun justru merespons trauma tersebut dengan tindakan destruktif. Alih-alih melalui proses penyembuhan (working through), tokoh-tokoh perempuan menunjukkan pola acting out berupa balas dendam dan kekerasan baru. Narasi ini mencerminkan ambivalensi pengarang terhadap gagasan emansipasi perempuan. Di satu sisi, perempuan ditampilkan berdaya dan mampu membalikkan struktur patriarki, namun di sisi lain kekuatan mereka digambarkan sebagai sumber ketakutan baru. Perempuan yang berkuasa diposisikan sebagai pihak yang lebih kejam dan destruktif daripada laki-laki. 

The depiction of women as monsters is not uncommon in literary works. Women in literature are often portrayed negatively, either as victims or as villains and monsters. In an attempt to free themselves from victimhood, women sometimes resort to extreme actions, which turn efforts of liberation into acts of revenge. Therefore, the aim of this study is to examine how the author constructs women as monsters and to explore the underlying reasons why the author portrays women as monstrous figures once they possess power greater than that of men. This study employs Braidotti’s (1997) theory of the monster as well as LaCapra’s (2014) trauma theory of acting out and working through. The material object of this research is The Power, a novel by Naomi Alderman.

The findings of this study show that in The Power by Naomi Alderman, the construction of women as monsters is manifested through physical transformation and acts of violence after they acquire electrical power via the skein organ. The biologically altered female body becomes a symbol of monstrosity—perceived as excessive, threatening, and a source of collective fear. This transformation marks a shift from women as passive victims of violence to active subjects who wield power and pose danger. This physical construction is reinforced by various violent actions committed by female characters: Allie kills her adoptive father and establishes a new religion, Roxy and the Moldovan female militia enact revenge through murder, Tatiana seizes political power through brutality, and Margot abuses her position for personal gain. The violence portrayed includes physical, psychological, sexual, structural, and institutional forms. The portrayal of women as monsters becomes the dominant narrative because the author depicts women traumatized by patriarchal systems who respond to that trauma not through healing (working through), but through destructive behavior (acting out), such as revenge and further violence. This narrative reflects the author’s ambivalence toward the idea of women’s emancipation. On one hand, women are portrayed as empowered and capable of overturning patriarchal structures, but on the other, their power is depicted as a new source of fear. Women in positions of power are presented as more ruthless and destructive than men.

Kata Kunci : perempuan monster, monstrositas, trauma, acting out, working through

  1. S2-2025-511989-abstract.pdf  
  2. S2-2025-511989-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-511989-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-511989-title.pdf