Laporkan Masalah

DAYA DUKUNG JALUR WISATA TRACKING DI DESA PENYANGGA MATOTONAN TAMAN NASIONAL SIBERUT

Ilham Tri Aji, Ir. Retno Nur Utami, M. P.

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Kebudayaan Desa Matotonan memiliki nilai kearifan lokal yang erat kaitannya dengan hutan. Adanya pengembangan hutan Desa Matotonan sebagai destinasi wisata tracking dapat memiliki efek negatif pada lingkungan, sehingga akan mengancam nilai-nilai kebudayaan yang sudah diwarsikan turun-temurun. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai daya dukung jalur wisata tracking sebagai bagian dari fondasi perencanaan awal pengelolaan untuk memastikan keberlanjutan pariwisata, menjaga kelestarian lingkungan, serta melindungi kekayaan budaya Mentawai agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara, dan digabungkan dengan data sekunder, untuk menghitung daya dukung wisata tracking di Desa Matotonan. Perhitungan daya dukung dilakukan dengan pendekatan Carrying Capacity menurut Cifuentes (1992) yang mencakup daya dukung fisik/physical carrying capacity (PCC), daya dukung riil/real carrying capacity (RCC), dan daya dukung efektif/effective carrying capacity (ECC). Faktor koreksi pada daya dukung riil mempertimbangkan karakteristik lingkungan dari wisata tracking Desa Matotonan itu sendiri. Oleh karena itu, faktor koreksi yang digunakan berupa curah hujan, lama penyinaran matahari, kelerengan, kepekaan tanah terhadap erodibilitas, tanah berlumpur, suhu, kelembaban, dan jarak antar grup.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai PCC memiliki besaran 11.674 orang/hari, sedangkan setelah mempertimbangkan faktor koreksi, nilai RCC menunjukkan besaran 207 orang/hari. Sementara itu, berdasarkan nilai ECC yang mempertimbangkan kapasitas pengelolaan wisata yang tersedia, menghasilkan besaran 50 orang/hari. Hasil menunjukan bahwa tingkat kunjungan wisata tracking di Desa Matotonan belum melampaui batas dari nilai PCC, RCC, maupun ECC. Namun demikian, wisata tracking tetap perlu dikelola secara lebih baik dengan pengelolaan yang strategis. Adapun strategi yang dapat diimplementasikan saat ini, seperti peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan peningkatan pemasaran wisata, sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan guna memastikan keberlanjutan wisata.

The culture of Matotonan Village has local wisdom values that are closely related to the forest. The development of the Matotonan Village forest as a tracking tourism destination can have a negative effect on the environment, thus threatening the cultural values that have been passed down from generation to generation.Therefore, research is needed on the carrying capacity of the tracking tourism route as part of the foundation of initial management planning to ensure the sustainability of tourism, maintain environmental sustainability, and protect the cultural wealth of Mentawai so that it remains sustainable for future generations.

This study uses field observation methods, interviews, and is combined with secondary data to calculate the carrying capacity of tracking tourism in Matotonan Village. The calculation of carrying capacity is carried out using the Carrying Capacity approach according to Cifuentes (1992) which includes physical carrying capacity (PCC), real carrying capacity (RCC), and effective carrying capacity (ECC). The correction factor for real carrying capacity takes into account the environmental characteristics of Matotonan Village tracking tourism itself. Therefore, the correction factors used are rainfall, duration of sunlight, slope, soil sensitivity to erodibility, muddy soil, temperature, humidity, and distance between groups.

The results of the study showed that the PCC value was 11,674 people/day, while after considering the correction factor, the RCC value showed a value of 207 people/day. Meanwhile, based on the ECC value which considers the available tourism management capacity, it produces a value of 50 people/day. The results show that the level of tracking tourism visits in Matotonan Village has not exceeded the limits of the PCC, RCC, or ECC values. However, tracking tourism still needs to be managed better with strategic management. The strategies that can be implemented at this time, such as increasing human resource capacity and increasing tourism marketing, so that it can increase the number of visits while maintaining environmental sustainability to ensure tourism sustainability.

Kata Kunci : Desa Matotonan, daya dukung wisata, desa penyangga, jalur wisata tracking, Taman Nasional Siberut

  1. S1-2025-459112-abstract.pdf  
  2. S1-2025-459112-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-459112-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-459112-title.pdf