Deteksi Molekuler Babesia sp. pada Domba di Peternakan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Tabitha Andrea Putri, drh. Yudhi Ratna Nugraheni, M.Sc., Ph.D
2025 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Babesiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infestasi protozoa darah dari genus Babesia yang dapat menurunkan performa kesehatan, produktivitas ternak, dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi peternak. Domba sebagai salah satu hewan ternak yang banyak dibudidayakan di Indonesia rentan terhadap penyakit ini, terutama dalam pemeliharaan tradisional. Gejala klinis yang sering timbul dari babesiosis adalah demam ringan, anemia, hemoglobinuria, dan pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan Babesia sp. pada domba di wilayah Sleman dengan pemeriksaan mikroskopis dan molekuler menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR), serta mengidentifikasi spesies yang terdeteksi melalui analisis sekuensing. Sebanyak 35 sampel darah dikumpulkan dari beberapa peternakan di Kabupaten Sleman. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan metode apus darah pewarnaan Giemsa 10%, sementara metode PCR dilakukan menggunakan primer panpiro dengan gen target 18S rRNA. Hasil menunjukkan bahwa terdapat satu sampel yang terdeteksi Babesia sp. baik melalui mikroskopis maupun molekuler. Hasil penghitungan menunjukkan tingkat parasitemia sebesar 1,2% yang tergolong parasitemia rendah. Prevalensi pada penelitian ini adalah 0,03. Hasil analisis sekuensing dan filogenetik menunjukkan bahwa isolat memiliki kekerabatan dekat dengan Babesia motasi. Penemuan ini menunjukkan meskipun prevalensi kasus tergolong rendah, risiko infeksi tetap ada. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam diagnostik penyakit parasit darah pada domba dan mendorong penerapan deteksi dini untuk meningkatkan kesehatan serta produktivitas ternak.
Babesiosis is a disease caused by blood protozoan infestation from the genus Babesia, which can impair animal health, reduce livestock productivity, and have a significant economic impact on farmers. Sheep, one of the most commonly farmed animals in Indonesia, are susceptible to this disease, especially under traditional farming systems. Common clinical signs of babesiosis include mild fever, anemia, hemoglobinuria, and in severe cases, death. This study aimed to detect the presence of Babesia sp. in sheep in the Sleman area through microscopic and molecular examination using Polymerase Chain Reaction (PCR), as well as to identify the detected species through sequencing analysis. A total of 35 blood samples were collected from several sheep farms in Sleman Regency. Microscopic examination was conducted using 10% Giemsa-stained blood smears, while the PCR method was performed using panpiro primers with 18S rRNA target genes. Results showed one sample tested positive for Babesia sp. through both microscopic and molecular examinations. Parasitemia level was calculated at 1.2%, classified as low parasitemia. The prevalence found in this study was 0.03. Sequencing and phylogenetic analysis revealed that the isolate was closely related to Babesia motasi. These findings suggest that despite the low prevalence, the risk of infection remains. This study is expected to contribute to the diagnostics of blood parasite diseases in sheep and support early detection efforts to improve livestock health and productivity.
Kata Kunci : Babesiosis, Domba, PCR, Filogenetik