Laporkan Masalah

Penggunaan Disfemisme dalam Kolom Komentar di Akun Instagram @stateofisrael

Faradila Awalia Fasa, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, M.A.

2025 | Tesis | S2 Linguistik

Penelitian ini berfokus pada penggunaan ungkapan disfemisme yang ditujukan kepada negara Israel dalam kolom komentar akun Instagram resmi pemerintah Israel, @stateofisrael. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya intensitas konflik geopolitik antara Israel dan Palestina, yang memicu reaksi emosional yang signifikan dari pengguna media sosial di seluruh dunia. Melalui analisis ini, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan ungkapan disfemisme berdasarkan bentuk lingual, pembentuk ungkapan, jenis disfemisme, fungsi komunikatif, serta faktor sosial yang melatarbelakangi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat sebagai metode pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan metode agih dan metode padan kontekstual, sedangkan penyajian hasil analisis menggunakan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan disfemisme yang ditemukan mencakup (1) bentuk kata, frasa, dan klausa; sementara pembentuk ungkapan disfemisme mencakup ekspresi figuratif, hiperbola, akronim, hingga penggunaan bahasa pinjaman; (2) jenis disfemisme yang digunakan mencakup istilah tabu yang digunakan untuk memaki, mengejek, dan menyakiti; berupa serapah yang cabul; perbandingan manusia dengan hewan yang dianggap memiliki perilaku tertentu; istilah yang berasal dari organ tubuh yang ditabukan, effluvia tubuh (bau atau sekresi), dan perilaku seksual; julukan yang diambil dari karakter fisik yang terlihat sehingga dianggap seolah menjadi orang yang abnormal; julukan yang menggunakan istilah dari abnormalitas mental atau penyakit jiwa; disfemisme sexist, racist speciesist, classist, ageist, dan kata yang berakhiran -ist lainnya yang berfungsi sebagai penghinaan; dan istilah yang menyerukan penghinaan terhadap karakter yang dituju; (3) fungsi komunikatif utama dari penggunaan ungkapan disfemisme dalam konteks ini adalah untuk merendahkan atau menyampaikan penghinaan; bentuk ekspresi ketidaksukaan atau ketidaksetujuan terhadap seseorang atau sesuatu; memperkuat atau mempertajam penghinaan; menciptakan citra negatif terhadap lawan politik, baik dari segi pandangan, sikap, maupun pencapaiannya; meluapkan kemarahan atau kejengkelan; mengumpat atau menunjukkan tingkat kekuasaan; dan (4) faktor sosial penyebab munculnya ungkapan disfemisme dalam komentar dianalisis melalui teori SPEAKING Dell Hymes. Sehingga, kontribusi penelitian ini terhadap bidang linguistik terletak pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika penggunaan bahasa dalam konteks media sosial. Selain itu, penelitian ini juga menggaris bawahi relevansi sosial dari ungkapan disfemisme sebagai alat untuk mengekspresikan identitas ideologis dan kritik terhadap kebijakan politik yang mencerminkan ketegangan sosial dan budaya dalam masyarakat global. 

This study focuses on the use of dysphemism expressions directed at the state of Israel in the comments’ column of the official Israeli government Instagram account, @stateofisrael. This study was motivated by the high intensity of the geopolitical conflict between Israel and Palestine, which triggered significant emotional reactions from social media users around the world. Through this analysis, this study aims to identify and group dysphemism expressions based on lingual form, expression builders, types of dysphemism, communicative functions, and underlying social factors. This study uses a qualitative descriptive method with a listening and note-taking technique as a data collection method. Data analysis was carried out using the distribution method and contextual matching method, while the presentation of the analysis results used an informal method. The results of the study show that the dysphemism expressions found include (1) word forms, phrases, and clauses; while the builders of dysphemism expressions include figurative expressions, hyperbole, acronyms, and the use of borrowed language; (2) the types of dysphemism used include taboo terms used to curse, mock, and hurt; in the form of obscene curses; comparison of humans with animals that are considered to have certain behaviours; terms derived from taboo body organs, body effluvia (odors or secretions), and sexual behaviour; nicknames taken from visible physical characteristics so that they are considered to be abnormal people; nicknames that use terms from mental abnormalities or mental illness; sexist dysphemism, racist speciesist, classist, ageist, and other words ending in -ist that function as insults; and terms that call for insults to the targeted character; (3) the main communicative function of the use of dysphemism expressions in this context is to belittle or convey insults; a form of expression of dislike or disagreement with someone or something; strengthen or sharpen insults; create a negative image of political opponents, both in terms of views, attitudes, and achievements; vent anger or irritation; curse or show a level of power; and (4) social factors causing the emergence of dysphemism expressions in comments are analyzed through Dell Hymes' SPEAKING theory. Thus, the contribution of this research to the field of linguistics lies in a deeper understanding of the dynamics of language use in the context of social media. In addition, this study also underlines the social relevance of dysphemism expressions as a tool to express ideological identity and critique political policies that reflect social and cultural tensions in global society.

Kata Kunci : disfemisme, kolom komentar, Instagram

  1. S2-2025-512387-abstract.pdf  
  2. S2-2025-512387-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-512387-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-512387-title.pdf