STUDI KECERNAAN DAN FERMENTASI DALAM RUMEN BUNGKIL BIJI NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L.) SECARA IN VITRO
Valentino Bayu Adi, Ir. Andriyani Astuti, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2025 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN
Bungkil biji
nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan produk sampingan dari
pembuatan biofuel dan minyak nyamplung yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pakan inkonvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan dan
karakteristik fermentasi dalam rumen dari bungkil biji nyamplung (BBN)
dibandingkan dengan bahan pakan konvensional yaitu bungkil kopra (BKK), jerami
kacang tanah (JK), dan daun lamtoro (DL) secara in vitro. Cairan rumen
dikoleksi dari Sapi Bali betina berfistula. Cairan rumen yang dikoleksi
disaring dan dicampurkan dengan larutan McDougall (buffer) pada
perbandingan (1:4) mengikuti metode Tilley and Terry (1963) satu tahap.
Setiap sampel diinkubasi selama 48 jam pada suhu 390C menggunakan tiga kali replikasi. Variabel
yang diamati selama penelitian adalah kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan
bahan organik (KcBO), serta produk produk fermentasi rumen yaitu pH, amonia (NH3),
dan volatile fatty acid (VFA). Variabel hasil pengamatan dianalisis
secara statistik menggunakan analisis (ANOVA) pola searah dan dilakukan uji
lanjutan menggunakan Tukey test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BBN memiliki
nilai kecernaan KcBK dan KcBO yang sama tingginya dengan sampel BKK dan JK (P<0>3
menunjukkan hasil yang normal, menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05)
dengan sampel bahan pakan lainnya. Akan tetapi, nilai VFA total, asetat,
propionat, dan butirat menunjukkan perbedaan nyata (P<0>0,05), yang diakibatkan oleh kandungan nutrien seperti serat dan pati
yang terkandung dalam setiap bahan baku selama proses fermentasi. Oleh karena
itu, berdasarkan hasil penelitian BBN dapat digunakan sebagai bahan pakan
inkonvensional sumber protein dan serat bagi ternak ruminansia.
Nyamplung
seed meal (Calophyllum
inophyllum L.) is a
by-product of biofuel and nyamplung oil production that could be utilized as an
unconventional feed ingredient. This study aimed to determine the digestibility
and rumen fermentation characteristics of nyamplung seed meal (BBN) compared to
conventional feed ingredients, namely copra meal (BKK), peanut straw (JK), and tamarind leaves (DL), through
in vitro incubation. Rumen fluid was collected from fistulated female Bali
cattle. The collected rumen fluid was filtered and mixed with McDougall’s
buffer solution at a ratio of 1:4, following the one-stage method of Tilley and
Terry (1963). Each feed sample was incubated for 48 hours at 390C
using three replications. The variables observed in this study were dry matter
digestibility (DMD), organic matter digestibility (OMD), and rumen fermentation
products, including pH, ammonia (NH?), and volatile fatty acids (VFA).
The observed data were statistically analyzed using one-way analysis of
variance (ANOVA), followed by Tukey’s post hoc test. The results showed that BBN
had similar DMD and OMD values to BKK and JK samples (P<0> DL.
The fermentation characteristics of BBN, such as pH and NH? levels, were within the normal
range and showed no significant differences (P>0.05) compared to the other
feed ingredients. However, total VFA, acetate, propionate, and butyrate values
showed significant differences (P<0>0.05),
which was influenced by the nutrient composition such as fiber and starch
content present in each feed ingredient during the fermentation process.
Therefore, based on the results, BBN could be used as an unconventional feed
ingredient, serving as a source of protein and fiber for ruminant livestock.
Kata Kunci : Bungkil Biji Nyamplung, Fermentasi Rumen, In Vitro, Kecernaan