Laporkan Masalah

Strategi Pengelolaan Areal Bernilai Konservasi Tinggi Berbasis Masyarakat Di Kawasan Wisata Kelabba Madja

Ferdinand Makonda, Dr. Ir. Much. Taufik T. Hermawan, S.Hut., M.Si., IPU; Dr. Ir. Hero Marhaento, S.Hut., M.Si., IPM

2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Kawasan Wisata Kelabba Madja di Kabupaten Sabu Raijua merupakan wilayah dengan nilai konservasi tinggi, mencakup ekosistem langka atau terancam punah, identitas budaya lokal, serta pemanfaatan lahan untuk kebutuhan dasar masyarakat melalui aktivitas penggembalaan. Kawasan ini ditetapkan sebagai salah satu Sasaran Pengembangan Pariwisata Estate Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2022, yang berpotensi menambah tekanan terhadap keberlanjutan kawasan.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengelolaan Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT) di Kelabba Madja. 
Metode yang digunakan meliputi pemetaan ABKT, behavioral mapping untuk mengidentifikasi aktivitas manusia dan potensi ancaman, analisis SWOT untuk menyusun strategi pengelolaan ABKT berbasis masyarakat, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi pengelolaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelabba Madja mengandung tiga kategori ABKT, yaitu ABKT 3 (ekosistem langka/terancam punah) seluas 44,7 ha, ABKT 5 (pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat) seluas 332 ha, dan ABKT 6 (nilai budaya dan spiritual) seluas 44,7 ha yang beririsan dengan ABKT 3. Aktivitas masyarakat, baik wisata maupun non-wisata, umumnya belum mengancam kawasan secara langsung, namun ditemukan potensi ancaman serius seperti penggembalaan di area sensitif dan penumpukan sampah wisatawan di zona ABKT 3 dan 6. Melalui pendekatan AHP terhadap sebelas strategi alternatif yang dirumuskan berdasarkan analisis SWOT, diperoleh lima prioritas strategi yang dianggap paling relevan dan efektif dalam upaya pengelolaan kawasan ABKT di Kelabba Madja. Strategi tersebut antara lain: (1) Pengelolaan lingkungan berkelanjutan, (2) Membangun koordinasi antarpemangku kepentingan, (3) Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, (4) Peningkatan kesejahteraan dan edukasi masyarakat, dan (5) Penguatan regulasi perlindungan kawasan. Hasil AHP juga menunjukkan bahwa aspek ekologi dan tata kelola merupakan dua dimensi utama yang harus diperkuat dalam strategi pengelolaan kawasan. Dengan demikian, pendekatan pengelolaan Kelabba Madja harus diarahkan pada penguatan sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, dengan menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dan perlindungan terhadap nilai-nilai budaya serta identitas lokal. Strategi-strategi tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan kawasan Kelabba Madja sebagai kawasan wisata sekaligus sebagai wilayah konservasi yang bernilai tinggi.

The Kelabba Madja tourism area in Sabu Raijua Regency is recognized as a High Conservation Value Area (HCVA), encompassing rare or endangered ecosystems, local cultural identity, and land use essential for local livelihoods through grazing activities. Designated as one of the Tourism Estate Development Targets by the East Nusa Tenggara Provincial Government in 2022, the area faces increasing pressure that may threaten its sustainability. This study aims to formulate a management strategy for the HCVA in Kelabba Madja. 
The methodology includes mapping of HCVA, behavioral mapping to identify human activities and potential threats, SWOT analysis to develop a community-based HCVA management strategy, and the Analytic Hierarchy Process (AHP) to determine strategic priorities.
The results indicate that Kelabba Madja comprises three HCVA categories: HCVA 3 (rare/endangered ecosystems) covering 44.7 ha, HCVA 5 (basic needs of local communities) covering 332 ha, and HCVA 6 (cultural and spiritual values) covering 44.7 ha, overlapping with HCVA 3. While current local activities—both tourism-related and non-tourism—do not pose immediate threats, potential risks have been identified, including grazing in sensitive areas and waste accumulation in zones categorized as HCVA 3 and 6. Based on the AHP analysis of eleven alternative strategies derived from the SWOT framework, five priority strategies were identified as the most relevant and effective for managing the HCVA in Kelabba Madja: (1) Sustainable environmental management, (2) Strengthening coordination among stakeholders, (3) Collaboration with government, communities, and the private sector, (4) Enhancing community welfare and education, and (5) Strengthening regulations for area protection. The AHP results also highlight ecology and governance as the two key dimensions to be emphasized in the management approach. Therefore, the management of Kelabba Madja should focus on enhancing synergies between environmental conservation and community empowerment, emphasizing multi-stakeholder collaboration and the protection of cultural values and local identity. These strategies are expected to support the long-term sustainability of Kelabba Madja as both a tourist destination and a high-value conservation area.

Kata Kunci : areal bernilai konservasi tinggi, analytical hierarchy process, analisis SWOT, strategi pengelolaan berbasis masyarakat

  1. S2-2025-512105-abstract.pdf  
  2. S2-2025-512105-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-512105-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-512105-title.pdf