IPOLOGI PERMASALAHAN TATA RUANG BIDANG PERTANIAN DALAM IMPLEMENTASI LSD, LP2B DAN RTR DI KAB BANTUL UNTUK MENDUKUNG SMART FARMING ( Kasus : Kecamatan Bantul dan Kecamatan Imogiri)
Johan Irawan, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., IPU
2025 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Tanah
memainkan peran penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat Indonesia,
terutama untuk aktivitas agraris dan ketahanan pangan. Namun, alih fungsi lahan
sawah akibat urbanisasi menjadi ancaman serius terhadap keberlanjutan sektor
pertanian. Kebijakan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan (LP2B) telah diterapkan untuk mencegah alih fungsi lahan,
tetapi implementasinya sering menghadapi kendala, seperti ketidaksesuaian
antara peta kebijakan dengan Rencana Tata Ruang (RTR). Ketidaksesuaian ini
menimbulkan celah dalam perlindungan lahan sawah serta menciptakan
ketidakpastian hukum di daerah seperti Kabupaten Bantul, yang bergantung pada
sektor agraris.
Untuk
mengatasi masalah ini, analisis Geographic Information System (GIS)
digunakan sebagai alat strategis dalam mendukung perencanaan tata ruang. GIS
memungkinkan identifikasi ketidaksesuaian peta LSD, LP2B, dan RTR melalui
analisis overlay. Selain itu, GIS mendukung klasifikasi tipologi permasalahan
tata ruang bidang pertanian, yang mencakup identifikasi permasalahan fungsi
lahan dan pengelompokan masalah RTR bidang perumahan atau permukiman yang
tumpang tinding dengan LSD maupun LP2B. Dengan pemetaan tipologi ini,
pemerintah dapat memahami pola dan akar permasalahan, baik yang telah terjadi
maupun yang berpotensi muncul di masa depan.
Integrasi
analisis GIS dengan kebijakan LSD, LP2B, RTR, serta tipologi permasalahan tata
ruang memungkinkan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat menyusun
perencanaan berbasis data yang lebih efektif. Pendekatan ini memperkuat
koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, dan mendukung keberlanjutan
sektor pertanian di tengah tantangan urbanisasi.
Land
plays a crucial role in supporting the welfare of the Indonesian people,
particularly for agrarian activities and food security. However, the conversion
of rice fields due to urbanization poses a serious threat to the sustainability
of the agricultural sector. The Protected Rice Field (LSD) and Sustainable
Agricultural Land (LP2B) policies have been implemented to prevent land
conversion, yet their implementation often encounters challenges, such as
misalignment between policy maps and Spatial Planning (RTR). These
inconsistencies create gaps in the protection of rice fields and legal
uncertainty in areas like Bantul Regency, which relies heavily on the
agricultural sector.
To
address this issue, Geographic Information System (GIS) analysis is used as a
strategic tool to support spatial planning. GIS enables the identification of
discrepancies between LSD, LP2B, and RTR maps through overlay analysis.
Furthermore, GIS supports the classification of typologies of spatial planning
issues in the agricultural sector, including the identification of land-use
function problems and the categorization of residential or settlement-related
spatial planning issues that overlap with LSD and LP2B areas. Through this
typology mapping, the government can better understand the patterns and root
causes of both existing and potential future problems.
The
integration of GIS analysis with LSD, LP2B, and RTR policies, along with the
spatial planning issue typologies, enables local and central governments to
develop more data-driven and effective planning strategies. This approach
strengthens coordination between national and local governments and supports
the sustainability of the agricultural sector amid urbanization challenges.
Kata Kunci : Kab. Bantul, LSD, LP2B,RTR Perumahan, Tipologi Permasalahan