PENGGUNAAN SAPAAN DALAM NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN TERJEMAHANNYA DALAM BAHASA INGGRIS THIS EARTH OF MANKIND
Lisa Yulfi Anggraini, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Tujuan penelitian adalah menganalisis identitas pribumi pada sapaan setelah diterjemahkan dengan batasan ujaran yang mengandung fatis. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan sapaan bahasa sumber dengan bahasa sasaran untuk melihat apakah identitas pribumi tetap bertahan atau mengalami perubahan setelah melewati proses penerjemahan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan hasil penelitian dijabarkan menggunakan narasi yang dilengkapi tabel. Data sapaan diambil dari novel Bumi Manusia lalu membandingkannya dengan hasil terjemahan berbahasa Inggris berjudul This Earth of Mankind. Hasil penelitian menunjukkan ada 207 sapaan pada 193 data ujaran.
Bentuk sapaan menurut Wibowo & Retnaningsih (2015) adalah kata, monomorfemik dan polimorfemik, dan frasa. Kedua bentuk tersebut ditemukan di dalam data. Referen sapaan, menurut Kridalaksana (2011), pada penelitian ini meliputi nama hewan, kesukuan/kedaerahan, status sosial, profesi bahkan jenis kelamin. Klasifikasi sapaan, juga berdasarkan Kridalaksana (2011), menunjukkan ada sembilan jenis sapaan meliputi nama diri, istilah kekerabatan, gelar dan pangkat, dan bentuk nominal+ku, gabungan dari nama diri dengan gelar dan pangkat, gabungan nama diri dengan istilah kekerabatan, gabungan bentuk nominal+ku dengan gelar dan pangkat, dan terakhir adalah gabungan istilah kekerabatan dengan gelar dan pangkat.
Teknik penerjemahan Molina dan Albir (2002) yang digunakan pada penerjemahan sapaan penelitian ini ditemukan sebanyak 13 teknik penerjemahan yaitu adaptasi, amplifikasi, peminjaman, kompensasi, variasi, kreasi diskursif, kesepadanan lazim, generalisasi, penerjemahan harfiah, transposisi, modulasi, partikulasi, dan reduksi. Variasi penerjemahan menurut Fitriana (2014) dan Asih (2024) ditemukan pada penelitian ada empat yaitu tunggal, kuplet, triplet, kuartet. Kesepadanan penerjemahan menurut Munday (2016) terdiri atas kesepadanan tingkatan kata, kesepadanan di atas tingkatan kata, kesepadanan gramatikal, dan kesepadanan pragmatik. Sementara itu, menurut Vinay dan Darbelnet, ketidaksepadanan terdiri atas pembalikan makna, penghilangan makna, penambahan makna, penyimpangan makna, perubahan makna. Faktor sosial budaya Wong & Shen (1999) yang mempengaruhi penerjemahan ditemukan pada data yaitu faktor antarbudaya antara lain ekspresi budaya yang spesifik, perbedaan estetik, dan pengaruh etis.
The study aims to analyze the indigenous identity in address terms which are limited to utterances containing phatic in the novel Bumi Manusia and then explore the translated address term in the target language by comparing the address term in the source language to target language to see whether the indigenous identity persists or changes after passing through the translation process. This research employs a descriptive qualitative method, presenting the results in a narrative format accompanied by tables and diagrams to provide detailed explanations of the data. The data is taken from the utterances in Bumi Manusia and compared with the English translation titled This Earth of Mankind. The results show 207 address terms in 193 datas.
According to Wibowo & Retnaningsih (2015), the address terms form are words, monomorphemic and polymorphic, and phrases. Both forms are found in the data. According to Kridalaksana (2011), referents of address terms in this study include animal names, ethnicity/region, social status, profession, and even gender. The classification of address terms, also based on Kridalaksana (2011), shows that there are nine types of address terms, including proper names, kinship terms, titles and ranks, nominal form + ku, a combination of proper names with titles and ranks, a combination of proper names with kinship terms, a combination of nominal form + ku with titles and ranks, and finally a combination of kinship terms with titles and ranks. In addition is outside of Kridalaksana theory classification of address terms, there is an epithet.
Molina and Albir’s (2002) translation techniques used in the translation of the address terms in this study are 13: adaptation, amplification, borrowing, compensation, variation, discursive creation, common equivalence, generalization, literal translation, transposition, modulation, articulation, and reduction. According to Fitriana (2014) and Asih (2024), there are four translation variations: singlet, couplet, triplet, and quartet. According to Munday (2016), translation equivalence consists of word-level equivalence, above-word-level equivalence, grammatical equivalence, and pragmatic equivalence. Meanwhile, according to Vinay and Darbelnet, inequality consists of reversal of meaning, omission of meaning, addition of meaning, deviation of meaning, and change of meaning. Wong & Shen’s (1999) socio-cultural factors affecting translation found in the data are intercultural factors, including specific cultural expressions, aesthetic differences, and ethical influences.
Kata Kunci : penerjemahan, identitas pribumi, sapaan, ungkapan fatis, Bumi Manusia, This Earth of Mankind