Laporkan Masalah

Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) sebagai lembaga sosial ekonomi kerakyatan :: STudi kasus BMT Mitra Usaha Insani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, Yogyakarta

MUCHTAR, Abdul Chaliq, Dr. Susetiawan

2004 | Tesis | S2 Sosiologi

Dalam kehidupan sosial ekonomi, bangsa Indonesia telah mengalami krisis falsafah kehidupan, karena pandangan yang parsial terhadap asumsi dasar tentang hakekat manusia, hakekat masyarakat dan hakekat hubungan antar keduanya, yang menjadi subyect matter dari kajian sosiologi. Karena hakekat manusia tidak dipandang secara utuh, disatu sisi hanya dari segi manusia sebagai mahluk sosial (annas), dan dari sisi yang lain hanya memandang manusia sebagai mahluk individual (Al Insan). Akibatnya kita telah terlibat kedalam dua aliran, positifistik dan humanistik yang selama ini telah membuat suasana dunia selalu dalam keadaan konflik terus menerus, dan krisis demensional tidak dapat dihindari. Dalam suasana seperti itu muncullah konsep BMT sebagai lembaga sosial ekonomi kerakyatan, yang secara ideologis, filosofis dan historis, cukup mendasar karena berasal dari konsep Tuhan (syariah) yang lahir semenjak zaman Nabi. Lembaga yang satu ini cukup menarik untuk dikaji secara sosiologis, karena pandangannya yang utuh terhadap existensi dan esensi manusia dalam upayanya untuk mensejahterakan manusia lahir dan batin, sebagai jalan terang menuju back to basic. Teori tentang lembaga yang paling tepat untuk membedah profil BMT, ialah dari Horton dan Hunt yang mengatakan bahwa lembaga adalah sistem hubungan sosial yang terorganisasi yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum tertentu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Disebutkan juga lima lembaga-lembaga dasar sosial yaitu pendidikan, ekonomi, agama, keluarga dan pemerintahan. Dari perspektif teori tersebut dapat dirumuskan masalahnya (1) Nilai- nilai apakah yang akan diejawantahkan oleh program BMT dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat? (2) Produk-produk apakah yang dioperasionalkan oleh BMT dan bagaimana prosedur pelaksanaannya? (3) Sampai dimanakah tingkat kebenaran perilaku para pengelolanya dalam melaksanakan syariat Islam untuk menyongsong masa depan BMT. Subyek materi yang diteliti ialah aspek jasadiyah (kinerja keuangan, kelembagaan dan managemen) dan aspek ruhiyah (visi dan misi, kepekaan sosial, rasa memiliki dan pelaksanaan prinsip-prinsip syariah), dengan metoda kualitatif penelitian bertujuan untuk mengukur kemampuan BMT dalam melaksanakan syariah dibidang sosial ekonomi kerakyatan dengan bagi hasil dan bebas riba. Visi BMT sebagai cita-cita yang diharapkan akan tercapai pada masa mendatang yaitu terwujudnya sistem ekonomi kerakyatan yang Islami, adil dan bebas bunga yang diharamkan oleh Allah, untuk meningkatkan kesejahteraan bersama lahir dan batin. Visi ini sebagai variabel terpengaruh, maka sebagai variabel pengaruhnya ialah misi BMT yaitu melaksanakan produk-produk ekonomi kerakyatan, dengan sistem bagi hasil dan jual beli, sesuai dengan tuntunan syariah, menentukan rencana strategi dalam mengelola hubungan kerja sama fungsional antara pemilik dan pemakai modal, secara profesional dengan etos kerja yang maksimal. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh misi BMT terhadap visinya cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan yang cukup pesat, modal awal yang pada tahun pertama (1996) hanya sebesar Rp. 2.631.425,- selama enam tahun (2001) sudah menjadi Rp. 1.814.649.168,- dengan jumlah anggota 2.307 orang.

In social economy life, Indonesian has experienced a life philosophy crisis because of a partial point of view of basic assumption about human essence, society essence, or the essence of both relations that becomes a subject matter in sociology discussion. Because human essence is not fully taken into account, people are seen as social (an-nas) in one side, and in other side, people are seen as individual (Al Insan). As a result, we are involved in two ideology, positivism and humanism, which make the situation of the world recently become in continuous conflict and we cannot avoid dimensional crisis to happen. In this situation, BMT concept as a proletariat social-economy institution that is critical ideologically, philosophically, and historically arises because it is God concept (syari’ah) that has existed since our Prophet era. Sociologically, this institution is necessary to discuss because of its full consideration of the existence and essence of human being in its attempt to bring people in a good wealth physically and emotionally as a straight path to be back to basic. The best theory of institution to define BMT profile is of Horton and Hunt who suggest that an institution is an organized social-relation system defining certain general value and procedure and fulfilling the society basic needs. It is also said that the five basic social institutions are education, economy, religion, family and government. The problems formulated from the theory perspective are: (1) Which values will BMT program define in its attempt to fulfill people’s basic needs? (2) What product will BMT operate and how is the procedures? (3) How far is the truth of its staff behavior in conducting Islamic syari’ah to face its future? The subject materials studied are physical aspect (financial operation, institution and management) and spiritual aspect (vision and mission, social awareness, sense of belonging, and syari’ah principle operation). A qualitative method is used to measure BMT ability in conducting syari’ah in proletariat-social economy with profit sharing and free of usury system. BMT vision as the realization of Islamic proletariat economy system that is fair and free of interest - that Allah forbids – in enhancing prosperity physically and emotionally is hopefully realized in the future. It is a dependent variable and BMT mission – conducting proletariat economic products with profit sharing system and buying and selling as suggested by syari’ah; determining the strategic plan in managing a professional functional-cooperation relationship between owner and shareholders in maximum working condition is the independent one. The research result shows that the effect of BMT mission toward its vision is significant. It can be seen from its rapid development; the first capital in the first year (1996) was only Rp. 2,631,425; and after six years (2001) it becomes Rp. 1,814,649,168, with 2,307 people as members.

Kata Kunci : Sosiologi Agama,Lembaga Ekonomi Kerakyatan,BMT, Social institution, proletariat economy, profit sharing and bank interest


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.