Laporkan Masalah

Dinamika gerakan petani :: STudi tentang aliansi petani dan mahasiswa Yogyakarta

AMINWARA, Rena, Drs. Rahardjo, MSc

2004 | Tesis | S2 Sosiologi

The goal of this research is to understand and describe the motivation, dynamics process and alliance pattern of the peasant movement in Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. The alliance occured between the local peasant and students. The rise of the peasant movement related to land is caused several factors, sort of abudancy of land, innovation in collective cattle farming system, policy of local government related to the outonomy, the rise of early awarness and organizational movement, the deadlock of aspiration channel, the degree of represion from local government, the local society culture, the benefit of the movement, the spirit to stand their rights and to enhance living situation. The above factors supported the theories of resistance movements by Popkin, Landsberger, Eickstein which stressed on the human will to enhance living situation, the role of changing prior to movement and the deadlock of aspiration channel, but the above factors did not support Scott's theory, which emphasized on critical subsistence as factor of the peasant's movement background. This becaused in the peasant structure and rural community, cattle farmer is on the middle class or even higher, with relatively stabil subsistence condition. The above factors drive the peasant in to closed, individual, symbolic movement, but with intervention from the student and the alliance with NGO into the problem of the peasant, drive the empowerment of the peasant's organizational action and set the peasant's movement toward openly and collective movement, which reflected in "the general upraisal of peasant". The synthesized interest between peasant and student is the "enemy", namely the people in charge which keep the status quo. The alliance has specific character because the students get no direct benefit, not as the peasant get, exept the popularity of the student. That condition motivated by ideology, temporary existence, and the limit of fund owned by students, though it might be politized and radicalized, but the contribution of the student on peasant's movement in Sumberharjo is still in empowerment ideology corridor toward peasant. The observation on this study showed that the alliance of the peasant and student and its impact supported the theories of peasant movement, as Scott, Popkin, Landsberger, and Roxborough, that the peasant is actually people which hardly to conduct the movement openly, or even collectively without any alliance from outsider.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi dan mendiskripsikan proses dan dinamika serta pola aliansi yang terjadi dalam gerakan petani peternak Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta yang beraliansi dengan mahasiswa. Munculnya gerakan petani peternak Desa Sumberharjo yang terkait dengan tanah dilatarbelakangi oleh berbagai faktor seperti ketersediaan tanah yang relatif luas, inovasi sistem pemeliharaan ternak sapi secara kolektif, Kebijakan Pemerintah Desa terkait dengan adanya otonomi daerah, munculnya kesadaran awal dan kesadaran organisasional, macetnya mekanisme penyaluran aspirasi, tingkat represi dan Pemerintah Desa, kultur masyarakat setempat, kalkulasi untung rugi, keinginan untuk mempertahankan hak-hak dan memperbaiki situasi. Berbagai faktor tersebut di atas telah memperkuat pendapat beberapa teoritisi gerakan perlawanan seperti Popkin, Landsberger dan Eickstein, yang menekankan faktor keinginan manusia yang selalu ingin memperbaiki situasi, adanya perubahan yang mendahului gerakan dan macetnya mekanisme penyaluran aspirasi, tetapi kurang mendukung pendapat Scott yang menekankan krisis subsistensi sebagai faktor yang melatarbelakangi munculnya gerakan petani peternak. Hal ini karena dalam struktur masyarakat petani maupun desanya, petani peternak termasuk golongan menengah ke atas dengan tingkat subsistensi yang relatif stabil. Bekerjanya berbagai faktor tersebut di atas telah membentuk gerakan petani peternak menjadi gerakan tertutup, individual dan simbolik. Namun dengan masuknya mahasiswa yang kemudian juga menjalin kerjasama dengan LSM, ke dalam persoalan petani ternyata telah mendorong penguatan organisasi aksi dan mengubah gerakan petani menjadi gerakan terbuka dan kolektif sebagaimana yang terrefleksi dalam "Rapat Umum Petani". Titik kepentingan yang menautkan petani dan mahasiswa dalam aliansi gerakan adalah adanya "musuh" bersama yakni status quo. Aliansi tersebut memiliki kekhasan tersendiri karena tidak adanya keuntungan timbal balik secara langsung yang bisa dinikmati mahasiswa, kecuali "nama" mereka yang semakin besar. Hal ini dipengaruhi oleh ideologi, eksistensi yang bersifat temporer dan ketiadaan dana mahasiswa. Walaupun dapat berubah menjadi politisasi maupun radikalisasi, namun kontribusi mahasiswa dalam gerakan petani peternak Desa Sumberharjo masih berada dalam koridor ideologi pemberdayaan. Pengamatan yang dilakukan dalam studi ini menunjukkan bahwa aliansi petani dan mahasiswa dengan berbagai foranya telah memperkuat pendapat teoritisi gerakan petani seperti Scott, Popkin maupun Landsberger juga Roxborough bahwa sesungguhnya petani adalah sosok yang sangat sulit untuk melakukan gerakan terbuka apalagi kolektif tanpa adanya sekutu dan luar yang mendorong terjadinya gerakan tersebut.

Kata Kunci : Sosiologi, Gerakan Petani, Aliansi Petani dan Mahasiswa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.