Identifikasi Morfologi dan Kepadatan Nyamuk di Kelurahan Wonolelo
Diva Aurellia Mahsanabila, Prof. Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si.
2025 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Nyamuk merupakan serangga vektor yang dapat menularkan berbagai penyakit, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), dan filariasis. Keberadaan dan aktivitas nyamuk vektor sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama suhu dan kelembapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi morfologi nyamuk dan mengetahui kepadatan nyamuk di Kelurahan Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, serta menganalisis hubungannya dengan suhu dan kelembapan lingkungan. Teknik sampling pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan metode penangkapan nyamuk dewasa menggunakan light trap yang ditempatkan di dalam kandang ternak. Sampling dilakukan selama tujuh minggu dengan penangkapan sebanyak satu kali tiap minggunya dan didapatkan sebanyak 204 ekor nyamuk. Data suhu dan kelembapan dikumpulkan bersamaan dengan pengambilan sampel nyamuk dari website perkiraan cuaca. Identifikasi nyamuk dilakukan berdasarkan morfologi untuk menentukan genus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat genus nyamuk vektor yang berhasil diidentifikasi, yaitu Anopheles (22,06%), Culex (67,65%), Aedes (0,49%), dan Armigeres (9,80%). Dalam penelitian ini diketahui bahwa Culex menjadi genus dominan. Hasil perhitungan korelasi antara kepadatan nyamuk dengan suhu dan kelembapan lingkungan menggunakan metode uji Korelasi Pearson menunjukkan nilai p>0,05 pada tiap-tiap genus. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara suhu dan kelembapan terhadap kepadatan nyamuk vektor di lokasi penelitian. Hal ini diduga disebabkan karena adanya keterbatasan dalam penelitian, seperti pendeknya durasi dan musim pengambilan sampel, terbatasnya lingkup wilayah, serta pengukuran suhu yang tidak dilakukan secara berkala. Oleh karena itu, dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan cakupan wilayah yang lebih luas, pengambilan sampel yang lebih lama dengan musim yang beragam, serta pengukuran suhu dan kelembapan secara berkala untuk memperoleh hasil yang lebih representatif.
Mosquitoes are vector insects capable of transmitting various diseases, such as malaria, dengue hemorrhagic fever (DHF), and filariasis. The presence and activity of vector mosquitoes are strongly influenced by environmental factors, particularly temperature and humidity. This study aimed to identify mosquito morphology and determine mosquito density in Wonolelo Village, Pleret District, Bantul Regency, as well as to analyze their relationship with environmental temperature and humidity. The sampling technique used in this study was purposive sampling, with adult mosquito collection conducted using light traps placed in cattle sheds. Sampling was carried out over a period of seven weeks, with one collection per week, resulting in a total of 204 mosquitoes. Temperature and humidity data were obtained simultaneously with mosquito collection through a weather forecast website. Mosquito identification was performed morphologically to determine the genus. The results showed four mosquito genera were identified Anopheles (22,06%), Culex (67,65%), Aedes (0,49%), and Armigeres (9,80%), with Culex being the dominant genus. The correlation analysis between mosquito density and environmental temperature and humidity, using Pearson’s correlation test, indicated p>0,05 for all genera. This suggests no significant relationship between temperature and humidity and mosquito density at the study site. These results are likely influenced by several limitations, such as the short duration and seasonality of sampling, limited geographic scope, and non-continuous temperature measurement. Further studies are recommended with a broader sampling area, longer duration across different seasons, and regular monitoring of temperature and humidity to obtain more representative results.
Kata Kunci : Kepadatan, Kelembapan, Morfologi, Nyamuk, Suhu, Density, Humidity, Morphology, Mosquito, Temperature