Laporkan Masalah

Pengaruh seni terhadap politik menurut Jean-Francois Lyotard (1924-1984)

ABROR, Robby Habiba, Prof.Dr. H. Lasiyo, MA.,MM

2004 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Seni memiliki kapasitas energetik. Energi seni adalah dorongan yang tidak dikendalikan oleh nalar maupun kesadaran. Lyotard melihat seni sebagai pencarian yang menentang kemungkinan stabilitas melalui “representasi yang tak terpresentasikan” (“yang sublim”). Lyotard menerima gagasan “yang sublim” dari sublim Kantian tentang estetika. Gagasan ini justru memperkuat keyakinanya akan sesuatu “yang tak terpresentasikan” (Nicht-Darstellbares) pada ungkapan seni. Keyakinan ini pula yang membawa Lyotard pada keadaan bahwa tidak pernah ada yang “di luar” atau “yang lain”. Perbedaan antara “modern” dan “postmodern” bagi Lyotard hanya ada pada pengakuan pada “yang tak terpresentasikan” dan tampilan. Estetika “modern” dan “postmodern” masing-masing sama dalam memiliki daya ledak avant-garde namun yang pertama tak berhasil dalam tampilan. Seni juga memiliki daya ledak yang mampu membuat peristiwa yang bisa memancarkan visi dan tidak kompromistik terhadap ketidakadilan dalam politik. Seni hendaknya tidak menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi sebaliknya mengikuti daya energiknya untuk mencapai sublimitas. Lyotard membuka kembali wacana Kant tentang “yang sublim” ke dalam ranah seni dan keindahan. “Yang sublim” adalah acuan utama seni merupakan perasaan estetis yang paling berlawanan, dimana bukan hanya satu-satunya kesenangan yang tidak “berkepentingan” dan sebuah semesta tanpa konsep saja, tetapi sama-sama paradoks dari anti-finalitas, yaitu perlawanan total terhadap tujuan apapun, dan kesenangan akan penderitaan. “Yang sublim” menghasilkan heterogenitas radikal ke dalam filsafat Kant. Pembelaan ini menghapuskan kemungkinan apapun untuk menemukan solusi atas perbedaan baik dalam “universalitas moral” ataupun dalam “universalisasi estetika”. Bagi Lyotard, “yang sublim” menimbulkan “penghancuran salah satu oleh yang lainnya melalui kekerasan atas perbedaannya.” Perbedaan itu sendiri tidak dapat menuntut dibagi oleh gagasan apapun, bahkan ketika dipertimbangkan secara subjektif. Universalitas, gagasan komunitas tanpa kriteria mendasar, menolak penyerapan ke dalam ungkapan kognitif. Sehingga hal ini tidak pernah menjadi objek ilmu pengetahuan, tetapi terus eksis dalam perasaan atas perbedaan yang mengingatkan kita pada tidak sahnya gagasan tertentu tentang keadilan dan perlu adanya keadilan yang berkeserbaragaman.

Art has an energetic capacity. An art energy is a drive which is not controlled by any logical reasoning or an awarness. Lyotard sees an art as e quest opposing a stability possibility trough “a representation unpresentable” (“the sublime”). Lyotard accepted the idea of “the sublime” came from Kantian sublime on aesthetics. The ide even made his belief stronger on something “unrepresentable” (Nicht-Darstellbares) in an art expression. It is the belief that bring Lyotard on a situasion that there was never something “outside” orbeing “other”. Differences between “modern” and “postmodern” for Lyotard only exist on confession of “the unpresentable” and presentation. The “modern” and “postmodern” aesthetics each is same on having explosive capacity of avant-garde but the first was not succeed in its presentation. The art has also an explosive capacity capable of making events that can emit a vision and uncompromising to injustice in politics. The art should never adjust itself to the situation, but in contrast it should follow its energetic power to reach the sublimity. Lyotard reopen the Kant’s discourse on “the sublime” into the beauty and art domains. “The sublime” is the main reference of the art and it is the most opponent aesthetics sense, where it is not merely the one of “insignificant pleasures and a universe without a sheer concept, but as same as paradox of the anti-finality, that is a total resistance to any objective, and a pleasure of suffering. “The sublime” yields a radical heterogenity in the Kant’s philosophy. This defense eliminates any possibility to find a solution over the differences both in “moral universaslity” or in “aesthetics universality”. For Lyotard, “the sublime” causes “total destruction of one and each other through a violence over its difference.” The difference itself can not demand to be divided into any idea, even when it is considered subjectively. Universality, a community idea without a basic criteria, refuse tha absorption on the cognitive expression. Thus the matter never being an object of science, but continue to exist in the sense over the difference remembering us on an invalid certain idea on justice and the need of a diversity justice.

Kata Kunci : Filsuf Jean,Francois Lyotard,Seni dan Politik, art, politics, “the sublime” avant-garde, difference, justice


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.