Karakteristik urat kuarsa di Daerah Hargantoro - Hargosari, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia
CLAUDIO HERVIAN, Dr.Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., IPU., Ir. A. Dewi Titisari, M.T., Ph.D., IPU.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI
Desa Hargantoro dan daerah sekitarnya, di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri merupakan daerah yang dikenal sebagai daerah penghasil opal oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai batu kaca merah atau batu kaca saja. Daerah yang memiliki kemunculan opal sangat memungkinkan untuk terjadinya mineralisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi serta perngaruhnya terhadap pembentukan urat kuarsa dengan karakteristik yang berbeda – beda sehingga diperlukan adanya penelitian dan karakterisasi lebih lanjut mengenai urat kuarsa yang terdapat di daerah penelitian. Penelitian yang dilakukan kali ini membahas karakteristik urat kuarsa menggunakan sayatan tipis atau petrografi untuk mengetahui tekstur urat kuarsa yang berada di daerah penelitian, serta mengetahui mineralogi batuan yang berada di daerah penelitian, analisis mineragrafi yang dilakukan untuk mengetahui jenis mineral bijih yang terdapat pada urat, XRF untuk mengetahui komposisi geokimia urat, XRD untuk mengetahui mineral yang terdapat pada batuan teralterasi dan urat kuarsa sehingga dapat menentukan jenis alterasi yang terdapat di batuan dan komposisi mineralogi urat. Kondisi geologi daerah penelitian tersusun atas tuf, lava andesit, lava andesit basaltik, breksi gunungapi, intrusi dasit, dan endapan aluvial. Breksi gunungapi, lava andesit yang terdapat di bagian utara daerah penelitian teralterasi dan menghasilkan klorit sebagai alterasi propilitik. Dasit yang terdapat pada daerah penelitian memiliki mineral montmorilonit yang dihasilkan karena kontrol struktur sesar berupa sesar geser dengan pola NW-SE. Urat kuarsa yang terdapat di daerah penelitian dibagi menjadi dua jenis di mana bagian utara memiliki urat kuarsa massive dan opaline, dan di bagian selatan di dominasi tekstur combing dan feathery. Terdapat mineralisasi bijih berupa pirit dan kehadiran mineral supergen berupa krisokola pada urat di bagian selatan daerah penelitian dengan kadar unsur Cu dan SiO2 yaitu 56540 ppm dan 82,8 wt% secara berurutan, pada bagian utara hasil analisis geokimia menunjukan bahwa mineralisasi jarang ditemukan dengan analisis geokimia didominasi SiO2 yang mencapai lebih dari 90 wt%. Berdasarkan karakteristik urat kuarsa, dapat diinterpretasikan bahwa daerah penelitian merupakan endapan epitermal sulfidasi rendah yang zonanya terbagi menjadi 3 yaitu bagian utara dan selatan di mana bagian utara cenderung mengarah pada mineralisasi di massive chalcedony zone, di bagian tengah yaitu crystalline chalcedony zone dan di bagian selatan cenderung dengan mineralisasi di super-crystallized zone
Hargantoro Village and its
surrounding areas, located in Tirtomoyo District, Wonogiri Regency, are known
by the local community as an opal-producing region, often referred to as “red
glass stone” or simply “glass stone.” The occurrence of opal indicates high
potential for mineralization. The objective of this study is to examine the
geological conditions and how they influence the formation of quartz veins with
varying characteristics, highlighting the need for further investigation and
detailed characterization. This study focuses on analyzing the characteristics
of quartz veins through thin section analysis (petrography) to determine quartz
vein textures and rock mineralogy. Mineragraphy was conducted to identify ore
minerals within the veins, XRF analysis was used to determine the geochemical
composition of the veins, and XRD analysis was employed to identify minerals in
both the altered host rocks and the quartz veins. These analyses are used to
determine the alteration types and the mineralogical composition of the veins. The
geology of the study area comprises tuff, andesitic lava, basaltic andesite
lava, volcanic breccia, dacitic intrusion, and alluvial deposits. The volcanic
breccia and andesitic lava in the northern part of the area show alteration
forming chlorite, indicative of propylitic alteration. The dacite unit in the
area contains montmorillonite, interpreted to have formed due to structural
control by a NW–SE dextral fault system. Quartz veins in the study area are
classified into two types: the northern area is dominated by massive and
opaline quartz veins, while the southern area is characterized by combing and
feathery textures. Ore mineralization in the southern veins includes pyrite and
the presence of supergene minerals such as chrysocolla, with Cu and SiO?
contents reaching 56,540 ppm and 82.8 wt%, respectively. In contrast, the
northern area shows limited mineralization, with geochemical analyses dominated
by SiO? contents exceeding 90 wt%. Based on the characteristics of the quartz
veins, the study area is interpreted as a low sulfidation epithermal deposit,
with zonation divided into three parts: the northern area trending toward
mineralization within the massive chalcedony zone, the central part
representing the crystalline chalcedony zone, and the southern area
corresponding to the super-crystallized zone.
Kata Kunci : Urat kuarsa, endapan hidrotermal, mineralisasi, Tirtomoyo.