Evaluasi Posterosagittal Anorectoplasty pada Atresia Ani di Sub Bagian Bedah Anak RS Dr Sardjito Yogyakarta Tahun 1995-2005
Edi Setiyoso, Dr. Rochadi, Sp.B., Sp.BA ; Dr. Ishandono Dachlan, Sp.B., Sp.BP
2005 | Tesis-Spesialis | S2 PPDS 1-Ilmu Bedah"Latar Belakang: Atresia ani merupakan kelainan kongenital yang terbanyak pada daerah anorektal. Sampai sekarang masih dalam perdebatan, baik mengenai klasifikasi maupun penatalaksanaannya. Klasifikasi Pena yang membagi atresia ani letak tinggi dan rendah lebih banyak dipakai karena mempunyai aspek terapi. Penatalaksanaan atresia ani tergantung klasifikasinya.Pada atresia ani letak tinggi harus dilakukan kolostomi diversi dan dekompresi, berikutnya dilakukan anoplasti. Pena dan de Vries memperkenalkan metode posterosagittal anorectoplasty yang sejak saat itu menjadi pilihan di seluruh dunia, karena hasil operasi yang baik dan hampir semua bentuk kelainan anorektal dapat dikerjakan dengan metode ini. Sejak tahun 1995 posterosagittal anorectoplasty ditetapkan sebagai metode panatalaksanaan atresia ani di RS Dr Sardjito, karena itu perlu dilakukan evaluasi mengenaiangka keberhasilan operasi dengan metode ini. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan rancangan crosssectional yang dilakukan di Sub Bagian Bedah Anak FK UGM I RS Dr. Sardjito Yogyakartapada periode 1 Januari 1995 sampai dengan 31 Oktober 2005. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif melalui catatan medik dan hasil anamnesis terhadap orang tua pasien. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, jenis operasi definitif PSARP, ketinggian lesi, dan jenis fistula. Variabel tergantung adalah skor Klotz yang dinilai pascaoperasi. Karakteristik subyek penelitian dipaparkan secara deskriptif. Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan tergantungdigunakan uji statistik Chi-square. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hasil penatalaksanaan atresia ani dengan metode posterosagittal anorectop/asty adalah sangat baik dan baik pada 73% pasien, cukup pada 27% pasien. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara skor Klotz dengan jenis kelamin, umur saat PSARP, ketinggian lesi, dan jenis operasi. Terdapat hubungan yang bermakna antara skor Klotz dengan ada tidaknya fistula. Simpulan: Penatalaksanaan atresia ani di Sub Bagian Bedah Anak RS Dr Sardjito Yogyakarta tahun 1995-2005 dengan metode posterosagittal anorectoplasty mempunyai hasil operasi yang baik.
"Background: Anal atresia was the most common congenital malformation found in anorectal region. There were controversials and debate in classification and management. Pena's classification that devided anal atresia in to high and low malformation became famous because it had therapeutic aspect. Management of anal atresia was based on classification. In high malformation, diversion and decompression colostomy must be done first, and anoplasty later in a staged operation. Pena and de Vries discovered a definitif repair method in anal atresia called posterosagittal anorectoplasty that then became a standard method around the world because of it's good outcome and almost all of the anorectal malformation could be operated with the methode. In 1995 posterosagittal anorectoplasty was justified as a standard method in management of anal atresia at Or. Sardjito Hospital, then the evaluation of the method became important. Method: This research used cross sectional design, done at Pediatric Surgery Department Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta from 1st January 1995 until 31st October 2005. Data collecting used retrospective approach from Medical Record and anamnesis patient's parent. Independent variables were age, sex, type of PSARP, level of atresia, and fistula type. Dependent variable was the post operative Klotz score. The subject was report in descriptiveform, and to know the interconnection between variables used statistical exercise Chi-square. Result: The outcome of patients done with the posterosagittal anorectoplasty method were very good and good in 73% patients, enough in 27% patients. There's no connection between Klotz score and age, sex, type of PSARP, and level of atresia. There's connection between Klotz score and the presentation of fistula. Conclusion: Management of anal atresia at Pediatric Surgery Department Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta 1995-2005 that used posterosagittal anorectoplasty method had the good outcome.
Kata Kunci : "posterosagittal anorectoplasty, jenis kelamin, umur saat PSARP, ketinggian lesi, jenis operasi, ada tidaknya fistula, posterosagittal anorectoplasty, sex, age, level of atresia, type of PSARP, presentation of fistula."