Arah Arus Purba dan Batuan Asal Sedimen Vulkanik Pembawa Fosil Homo erectus di Situs Manusia Purba Sangiran, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.
Herliana Joana Kartika, Dr. Eng. Ir. Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., IPM.; Suwita Nugraha, S.T., M.A.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI
Situs Sangiran sebagai lokasi
penting penemuan fosil Homo erectus menyimpan catatan mengenai evolusi
manusia dan lingkungan purba melalui sedimen vulkanik pembawa fosil yang merekam proses geologi masa lalu. Penelitian
ini mengkaji arah arus purba dan batuan asal sedimen vulkanik pembawa fosil Homo
erectus melalui analisis struktur sedimen (silang-siur dan imbrikasi),
petrografi, serta geokimia. Metode penelitian meliputi pengukuran stratigrafi,
pengukuran arus purba, serta pengambilan sampel sedimen vulkanik pembawa fosil Homo
erectus. Hasil penelitian menunjukkan pola arus purba unimodal dengan
dua domain utama: (1) orientasi utara-barat laut dengan rerata sudut azimut N
27,43°E hingga N 316,67°E, dan (2) orientasi tenggara-selatan dengan rerata
sudut azimut N 147,62°E hingga N 162,69°E. Analisis petrografi mengidentifikasi
dua sumber batuan, yaitu (1) lingkungan busur magmatik (gunung api tidak
terdiseksi hingga terdiseksi), serta (2) lingkungan blok kontinen dengan tipe
pengangkatan batuan dasar. Data geokimia fragmen sedimen vulkanik berupa dasit
dan andesit memperkuat interpretasi batuan asal, dengan sumber dari gunung api intermediet.
Berdasarkan hasil analisis, dapat diinterpretasikan bahwa sedimen vulkanik
pembawa fosil Homo erectus bersumber dari dua gunung api yang berbeda,
yaitu Gunung Telomoyo di sebelah barat laut dan Gunung Lawu Tua (kemudian
berevolusi menjadi Gunung Lawu Muda) yang berada di tenggara Sangiran. Selain
itu, analisis unsur mayor dan jejak (Ca, Mo, dan Cr) mengindikasikan terjadinya
fase glasiasi Pleistosen yang membentuk Paparan Sunda menjadi jembatan darat,
kemudian memfasilitasi migrasi Homo erectus dari Asia ke Jawa.
Integrasi data arah arus purba, petrografi, dan geokimia membuktikan
transportasi sedimen vulkanik dari dua sumber gunungapi yang berbeda, sementara
fluktuasi iklim global yang menyebabkan terjadinya fase glasiasi menjadi faktor
keberadaan Homo erectus di wilayah Jawa akibat migrasi yang terjadi
selama kala Pleistosen Awal hingga Pleistosen Tengah.
The Sangiran Site as a crucial
location for Homo erectus fossil discoveries, preserves records of human
evolution and ancient environments through Homo erectus fossil-bearing
volcanic sediments that encapsulate past geological processes. This study aims
to analyze paleocurrent directions and volcanic sediment provenance through
analyses of sedimentary structures (cross-bedding and imbrication),
petrography, and geochemistry. The research methods include stratigraphic
measurements, paleocurrent measurements, and sampling of Homo erectus-bearing
volcanic sediments. The results indicate unimodal paleocurrent patterns with
two main domains: (1) a north-northwest orientation with an average azimuth of
N 27,43°E to N 316,67°E, and (2) a southeast-south orientation with an average
azimuth of N 147,62°E to N 162,69°E. Petrographic analysis identifies two
distinct source areas: (1) a magmatic arc setting (ranging from undissected to
dissected volcanoes) and (2) a continental block setting with uplifted basement
rock characteristics. Geochemical data of volcanic sediment fragments (dacite
and andesite) further support provenance interpretation, indicating
intermediate volcanic origin. These findings suggest that the Homo erectus-bearing
volcanic sediments were derived from two separate volcanic sources: Mount
Telomoyo in the northwest and Mount Old Lawu (which later evolved into Mount
Lawu) located southeast of Sangiran. Additionally, major and trace element
analyses (Ca, Mo, and Cr) indicate Pleistocene glaciation phases that formed
the Sunda Shelf into land bridge, subsequently facilitating Homo erectus
migration from Asia to Java. The integration of paleocurrent, petrographic, and
geochemical data confirms the transportation of volcanic sediments from two
distinct volcanic sources, while global climate fluctuations, which induced
glacial phases, contributed to the presence of Homo erectus in Java due
to migration events occurring from the Early to Middle Pleistocene.
Kata Kunci : Arah arus purba, batuan asal, Homo erectus, sedimen vulkanik