Laporkan Masalah

DIPLOMASI KESEHATAN DI ASEAN: UPAYA WHO DALAM PENANGGULANGAN DIABETES MELITUS DI SINGAPURA, INDONESIA DAN KAMBOJA TAHUN 2013-2023

Nurul Fajriyah, Prof. Dr. Dafri Agussalim

2025 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Diabetes Melitus (DM) telah menjadi salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) dengan peningkatan kasus yang signifikan di kawasan Asia Tenggara, namun prioritas penanganannya seringkali terpinggirkan oleh penyakit menular dan masalah kesehatan lain yang dianggap lebih mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya diplomasi kesehatan global (Global Health Diplomacy/GHD) oleh World Health Organization (WHO) dalam penanggulangan DM di Singapura, Indonesia, dan Kamboja selama periode 2013-2023, dengan fokus pada strategi diplomasi kesehatan WHO dan efektivitas implementasi di tiga negara dengan tingkat ekonomi berbeda. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur terhadap dokumen resmi WHO, publikasi ilmiah, dan kebijakan kesehatan nasional, penelitian ini menerapkan kerangka analisis yang mengintegrasikan konsep diplomasi kesehatan global, teori sekuritisasi, dan perspektif konstruktivisme. Temuan penelitian menunjukkan bahwa WHO telah mengembangkan berbagai inisiatif melalui lima dimensi GHD, termasuk negosiasi kebijakan, pembentukan Global Diabetes Compact, dan kampanye kesadaran masyarakat. Akan tetapi, tingkat keberhasilannya sangat bervariasi di masing masing negara. Singapura sebagai negara berpenghasilan tinggi mampu mengimplementasikan kebijakan secara komprehensif berkat sistem kesehatan yang mapan, sementara Indonesia menghadapi tantangan dalam pemerataan akses dan konsistensi kebijakan, dan Kamboja terkendala oleh keterbatasan infrastruktur kesehatan dasar. Studi ini mengungkap bahwa efektivitas diplomasi kesehatan WHO sangat dipengaruhi oleh kapasitas sistem kesehatan nasional, alokasi anggaran kesehatan, serta konstruksi sosial-budaya terhadap penyakit DM di masing-masing negara. Oleh karena itu WHO perlu memaksimalkan langkah intervensi penanganan DM pada tataran regional dan nasional setiap negara.  

Diabetes Mellitus (DM) has become one of the Non-Communicable Diseases (NCDs) with a significant rise in cases across Southeast Asia. However, its management is often sidelined by infectious diseases and other health issues deemed more urgent. This study aims to analyze the Global Health Diplomacy (GHD) efforts by the World Health Organization (WHO) in addressing DM in Singapore, Indonesia, and Cambodia from 2013 to 2023, focusing on WHO's health diplomacy strategies and their implementation effectiveness in three countries with differing economic levels. Using a qualitative approach through a literature review of WHO official documents, scientific publications, and national health policies, this study applies an analytical framework integrating global health diplomacy concepts, securitization theory, and constructivist perspectives. The findings reveal that WHO has developed various initiatives across five GHD dimensions, including policy negotiations, the establishment of the Global Diabetes Compact, and public awareness campaigns. However, their success levels vary significantly across countries. Singapore, as a high-income country, has implemented comprehensive policies due to its well-established healthcare system. Meanwhile, Indonesia faces challenges in equitable access and policy consistency, and Cambodia struggles with basic healthcare infrastructure limitations. This study highlights that the effectiveness of WHO’s health diplomacy is heavily influenced by national healthcare system capacity, health budget allocation, and socio-cultural perceptions of DM in each country. Therefore, WHO must maximize intervention strategies for DM at both regional and national levels.  

Kata Kunci : Diplomasi Kesehatan Global, WHO, Diabetes Melitus, ASEAN, Sekuritisasi

  1. S2-2025-515709-abstract.pdf  
  2. S2-2025-515709-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-515709-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-515709-title.pdf