HUBUNGAN SOSIODEMOGRAFI DENGAN POLA MAKAN BUAH DAN SAYUR DI DAERAH PERKOTAAN DAN PEDESAAN DI INDONESIA: ANALISIS DATA SURVEI KESEHATAN INDONESIA (SKI) 2023
Azimatul Amini, Aditya Lia Ramadona, S. Si., M. Sc., Ph. D ; Dr. Fitrina M Kusumaningrum, SKM, MPH
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar belakang: Rendahnya konsumsi buah dan sayur merupakan faktor risiko penting dalam kejadian PTM secara global dan nasional. Meskipun Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan konsumsi minimal 5 porsi buah dan sayur per hari, proporsi masyarakat Indonesia yang memenuhi standar ini masih sangat rendah.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sosiodemografi dengan pola konsumsi buah dan sayur di daerah perkotaan dan pedesaan di Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data sekunder diambil dari data SKI 2023. Analisis terdiri dari univariabel, bivariabel menggunakan chi-square dan OR, dan multivariabel menggunakan regresi logistik.
Hasil: Sebagian besar penduduk Indonesia (97,1%), terutama usia dewasa dan lansia, belum memenuhi anjuran konsumsi buah dan sayur dari pemerintah. Baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan di Indonesia, responden yang berjenis kelamin perempuan (AOR=1,27 dan AOR=1,06), memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi (AOR=1,34 dan AOR=1,64), status ekonomi lebih rendah (AOR=0,59 dan AOR=0,74), dan berstatus kawin (AOR=1,24 dan AOR=1,33), cenderung lebih menerapkan pola makan buah dan sayur. Sementara itu, hanya di perkotaan responden yang berusia ?60 tahun serta yang tinggal di wilayah Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua menunjukkan hubungan yang signifikan. Selanjutnya, hanya di pedesaan responden yang bekerja dan tinggal di Maluku menunjukkan hubungan yang signifikan.
Kesimpulan: Perbedaan antarwilayah menunjukkan perlunya intervensi yang bersifat kontekstual dan multi-level. Diperlukan promosi gizi dan kebijakan publik yang adaptif terhadap karakteristik wilayah dan kelompok sosial.
Background: Inadequate fruit and vegetable consumption is a major risk factor for NCDs globally and nationally. Although the Indonesian Ministry of Health recommends a minimum of five servings of fruits and vegetables per day, the proportion of the population meeting this standard remains very low.
Objective: This study aims to analyze the relationship between sociodemographic characteristics and fruit and vegetable consumption patterns across urban and rural areas in Indonesia.
Methods: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. Secondary data were obtained from the 2023 Indonesian Health Survey. The analysis consisted of univariable analysis, bivariable analysis using the chi-square test, and multivariable analysis using logistic regression.
Results: Most Indonesians (97.1%), especially adults and the elderly, do not meet the government’s recommended fruit and vegetable intake. In both urban and rural regions of Indonesia, respondents who are female (OR=1.27 and OR=1.06), have higher levels of education (OR=1.34 and OR=1.64), belong to lower economic status groups (OR=0.59 and OR=0.74), and are married (OR=1.24 and OR=1.33) tend to have better fruit and vegetable consumption patterns. Meanwhile, in urban areas only, respondents aged ?60 years and those living in Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, and Papua showed significant associations. Conversely, in rural areas only, respondents who are employed and those living in Maluku showed significant associations.
Conclusion: There is an urgent need for nutrition promotion and public policies that are adaptive to regional and social group characteristics.
Kata Kunci : Buah dan sayur, sosiodemografi, perkotaan, pedesaan, SDH