STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DALAM MEWUJUDKAN KOTA SEHAT DI ASIA TENGGARA: SCOPING REVIEW
Alifia Ardyara, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes; drg. Arumi Wulansari, MPH
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab utama kematian
dan kecacatan. Sustainable
Development Goals (SDGs) 3.4 mencanangkan upaya mengurangi sepertiga angka
kematian dini akibat PTM pada tahun 2030. World Health Organization
(WHO) hingga tahun 2025 masih menetapkan PTM sebagai penyebab kematian pertama
di dunia. 62?ri semua kematian disebabkan oleh PTM di Asia Tenggara. Penurunan
angka PTM memerlukan kerjasama lintas sektor, selaras dengan program Healthy
Cities. Healthy Cities sebagai salah satu pilar promosi kesehatan merupakan
komitmen untuk mengatasi akar masalah kesehatan. Strategi promosi kesehatan
merupakan pendekatan terencana dan terstruktur untuk meningkatkan kesadaran,
pengetahuan, dan praktik kesehatan pada dari sasaran primer, sekunder, dan
tersier.
Tujuan: Untuk
mendeskripsikan strategi promosi kesehatan advokasi, pemberdayaan, KIE
(komunikasi, informasi, edukasi), dan kemitraan dalam mewujudkan program Kota
Sehat di negara-negara Asia Tenggara
Metode: Penelitian
ini menggunakan scoping review.
Pencarian artikel menggunakan database melalui Google Scholar, Pubmed, Scopus,
dan Ebsco Host yang relevan dengan topik melalui pencarian. Penelitian
dilakukan dan ditulis dengan metode PRISMA-Scr (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis
extension for Scoping Review)
Hasil: Dari
21 artikel yang ditelaah, perwujudan Kota Sehat di 11 negara Asia Tenggara
melalui strategi advokasi berupa komitmen implementasi Kota Sehat, membuat
kebijakan dengan pertimbangan kesehatan dan lingkungan, pengawasan ketat
terhadap pembangunan berbasis kualitas lingkungan, dan pengalokasian anggaran.
Strategi pemberdayaan melibatkan masyarakat dalam perencanaan Kota Sehat
melalui forum diskusi dan konsultasi publik. Strategi KIE dengan menyampaikan
pesan kesehatan kepada masyarakat dengan berbagai media serta upaya pemerataan
akses pelayanan kesehatan sehingga dapat mengedukasi seluruh lapisan
masyarakat. Strategi kemitraan dengan keterlibatan aktif dan komitmen dari
sektor swasta, akademisi, LSM, masyarakat dan dukungan lembaga internasional.
Kesimpulan: Strategi
promosi kesehatan dari tahun ke tahun menunjukkan proses perwujudan Kota Sehat.
Di Asia Tenggara salah satu yang sudah adalah berkurangnya insiden penyakit
yang disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti diare dan infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA). Potensi pertumbuhan Program Kota Sehat tetap besar
mengingat komitmen kuat sebagian besar negara di Asia Tenggara terhadap prinsip
pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan. Dukungan dari lembaga
internasional dan keterlibatan aktif berbagai sektor swasta bermitra dengan
pemerintah juga turut memperkuat upaya mewujudkan Kota Sehat. Masyarakat yang
berdaya menjadikan program Kota Sehat menjadi berkelanjutan.
Kata Kunci: Kota
Sehat, Urban Health, Promosi
Kesehatan, Asia Tenggara
Background: Non-Communicable
Diseases (NCDs) are the leading cause of death and disability. Sustainable
Development Goals (SDGs) 3.4 calls for efforts to reduce premature death rates
due to NCDs by 2030. The World Health Organization (WHO) until 2025 still
determines NCDs as the number one cause of death in the world. 62% of all
deaths are caused by NCDs in Southeast Asia. Reducing NCDs requires
cross-sector collaboration, in line with the Healthy City program. Healthy
Cities as one of the pillars of health promotion is a commitment to addressing
the root of health problems. Health promotion strategies are planned and
structured approaches to increase awareness, knowledge, and health practices in
primary, secondary, and tertiary targets. Objective: To
describe the health promotion strategies of advocacy, empowerment, CIE
(communication, information, education), and partnerships in realizing the
Healthy City program in Southeast Asian countries. Methods: This
study uses a scoping review. Article searches using databases through Google
Scholar, Pubmed, Scopus, and Ebsco Host that are relevant to the topic through
searches. The study was conducted and written using the PRISMA-Scr method
(Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis extension
for Scoping Review) Result: Of
the 21 articles reviewed, the realization of Healthy Cities in 11 Southeast
Asian countries through advocacy strategies in the form of commitments to
implementing Healthy Cities, making policies with health and environmental
considerations, strict supervision of environmental quality-based development,
and budget allocation. Empowerment strategies involve communities in Healthy
City planning through discussion forums and public consultations. IEC
strategies by conveying health messages to the community through various media
and efforts to equalize access to health services so that they can educate all
levels of society. Partnership strategies with active involvement and
commitment from the private sector, academics, NGOs, communities and support
from international institutions. Conclusion: Health
promotion strategies from year to year show the process of realizing a Healthy
City. In Southeast Asia, one of the things that has happened is the reduction
in the incidence of diseases caused by environmental factors, such as diarrhea
and acute respiratory infections (ARI). The potential for growth of the Healthy
City Program remains large considering the strong commitment of most countries
in Southeast Asia to the principle of environmentally-based sustainable
development. Support from international institutions and the active involvement
of various private sectors in partnership with the government also strengthen
efforts to realize a Healthy City. Empowered communities make the Healthy City
program sustainable. Keyword: healthy
cities, urban health, Health Promotion, South East Asia
Kata Kunci : Kota Sehat, Urban Health, Promosi Kesehatan, Asia Tenggara / healthy cities, urban health, Health Promotion, South East Asia