TIpomorfologi Kawasan Pusat Kota Manokwari
Francho Charols Christopedro Gerrits Wulur, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc.,Ph.D.
2025 | Tesis | MAGISTER RANCANG KOTA
Perkembangan kawasan pusat kota merupakan bagian dari dinamika perkotaan sebagai pusat aktivitas. Hal ini mencerminkan bagaimana kota berkembang seiring waktu sebagai respons terhadap faktor-faktor ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan. Secara makro, perkembangan ini dapat dianalisis melalui studi tipomorfologi kota, yaitu pendekatan untuk memahami perkembangan bentuk, struktur, jaringan, dan pergerakan kota yang diamati.Penelitian ini menjabarkan tentang perkembangan kawasan pusat kota Manokwari, di mana Kota Manokwari merupakan salah satu kota administrasi tertua di Papua. Kajian ini memfokuskan pada identifikasi perkembangan pusat kegiatan wilayah di Manokwari dengan melihat bentuk fisik dan karakteristik pada tiga kawasan utama, yaitu Padarni, Sanggeng, dan Wosi. Dengan menggunakan studi tipomorfologi, penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan bagaimana perkembangan kawasan pusat kota Manokwari terjadi berdasarkan periodisasi dari tahun 1926 hingga 2024, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sinkronik dan diakronik untuk menjelaskan urutan periodisasi perkembangan kawasan pusat kota di Manokwari. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis pola perkembangan bentuk fisik, struktur kota, dan jaringan perkotaan secara menyeluruh. Hasil penelitian akan dibagi ke dalam tiga tingkatan analisis, yaitu makro, meso, dan mikro. Pada tingkat makro, penelitian mengungkapkan bahwa pola perkembangan Kota Manokwari bergerak dari pola monosentris ke polisentris, yang terbentuk dalam tiga tahap perkembangan dan delapan periode. Pada tingkat ini, ditemukan lima tipologi perkembangan, yaitu dua tipologi monosentris, satu tipologi transisi, dan dua tipologi polisentris.Sementara itu, pada tingkat meso, penelitian menemukan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan kawasan Padarni, Sanggeng, dan Wosi. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor geografis, peran era pemerintahan kolonial Belanda sebagai pusat pemerintahan dan kemaritiman, masa penjajahan Jepang, serta perkembangan pada era pemerintahan Indonesia
The development of the city center area is part of the urban dynamics as a hub of activity. This reflects how cities evolve over time in response to economic, social, political, and environmental factors. At a macro level, this development can be analyzed through the study of urban typomorphology, an approach that aims to understand the transformation of the city's form, structure, network, and movement patterns.
This research describes the development of the central area of Manokwari, one of the oldest administrative cities in Papua. The study focuses on identifying the growth of core activity zones within Manokwari by examining the physical forms and characteristics of three main areas: Padarni, Sanggeng, and Wosi. Using the typomorphological approach, this study aims to reveal how the development of Manokwari’s city center has occurred based on periodization from 1926 to 2024, along with the factors that have influenced this transformation.
The methodology employed in this research involves both synchronic and diachronic approaches to explain the sequence of urban center development in Manokwari. These approaches are used to analyze the patterns of physical form, urban structure, and urban network in a comprehensive manner.
The research findings are categorized into three levels of analysis: macro, meso, and micro. At the macro level, the study reveals that Manokwari's urban growth pattern has shifted from a monocentric to a polycentric model, which developed through three main phases and eight distinct periods. At this level, five typologies of development were identified: two monocentric typologies, one transitional typology, and two polycentric typologies.
At the meso level, the study identifies various factors that influenced the development of the Padarni, Sanggeng, and Wosi areas. These factors include geographical features, the role of the Dutch colonial government as an administrative and maritime center, the Japanese occupation era, and developments during the Indonesian governance period.
Kata Kunci : Tipomorfologi Kota, Monosentris, Polisentris, Manokwari