Karakterisasi Edible Film dari Gelatin Tulang Kelinci dengan Konsentrasi Gliserol yang Berbeda dan Potensi Aplikasi sebagai Kemasan Minyak Kedelai
Siti Rima Pratiwi Putri, Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc.; Dr. Manikharda, S.T.P., M.Agr.
2025 | Tesis | S2 Ilmu dan Teknologi PanganTulang kelinci merupakan limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal berpotensi sebagai sumber gelatin alternatif. Hingga kini, penelitian masih terbatas pada karakterisasi gelatin tulang kelinci, sementara pengembangannya sebagai biodegradable dan edible film pengganti plastik masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh variasi konsentrasi gliserol terhadap sifat fungsional edible film dari gelatin tulang kelinci, serta mengevaluasi potensinya sebagai kemasan minyak kedelai. Film diformulasikan dengan gliserol 20%, 30%, dan 40%, lalu dibandingkan dengan film gelatin sapi (gliserol 30%). Karakterisasi meliputi analisis sifat fisikokimia, mekanik, penghalang, optikal, termal, FTIR, dan mikrostruktur. Perlakuan terbaik digunakan sebagai pengemas minyak kedelai yang disimpan pada suhu 27?°C dan RH 50% selama 15 hari. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi gliserol menyebabkan peningkatan ketebalan (0,087–0,109?mm), kadar air (9,96–19,16%), solubilitas (31,77–50,84%), elongasi (99,29–163,11%), dan permeabilitas uap air (0,63–2,43?×?10???g·m?¹·Pa?¹·s?¹), namun menurunkan opasitas (2,13–1,62), kuat tarik (7,34–3,00?MPa), dan suhu leleh (178,46–149,34?°C). Film dengan konsentrasi gliserol 20% menunjukkan nilai kuat tarik (7,34?MPa), permeabilitas uap air (0,63?×?10???g·m?¹·Pa?¹·s?¹), sifat termal dan optikal yang baik, sehingga digunakan untuk mengemas minyak kedelai. Film mampu menahan peningkatan bilangan peroksida hingga hari ke-9 (6,57?meq O?/kg; LDPE: 13,12?meq O?/kg), menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menghambat oksidasi primer. Nilai bilangan anisidin edible film lebih tinggi (12,15; LDPE:6,5) sejak hari ke-3, namun tidak berbeda signifikan pada akhir penyimpanan. Kadar asam lemak bebas relatif stabil pada kedua kemasan. Secara keseluruhan, edible film dengan konsentrasi gliserol 20% menunjukkan potensi sebagai kemasan biodegradable untuk minyak kedelai, namun diperlukan inovasi lanjutan untuk meningkatkan ketahanannya terhadap oksidasi.
Rabbit bone is an underutilized by-product with potential as an alternative source of gelatin. Although previous studies have characterized rabbit bone gelatin, its development into biodegradable edible films as a plastic substitute remains limited. This study aimed to investigate the effect of varying glycerol concentrations on the functional properties of rabbit bone gelatin-based edible films and evaluate their potential as soybean oil packaging. Edible films were prepared with 20%, 30%, and 40% glycerol and compared with a bovine gelatin film containing 30% glycerol. Characterization included physicochemical, mechanical, barrier, optical, thermal, FTIR, and microstructural properties. The best-performing film was used to package soybean oil stored at 27?°C and 50% RH for 15 days. Increasing glycerol concentration increased thickness (0.087–0.109?mm), moisture content (9.96–19.16%), solubility (31.77–50.84%), elongation (99.29–163.11%), and water vapor permeability (0.63–2.43?×?10???g·m?¹·Pa?¹·s?¹), while decreasing tensile strength (7.34–3.00?MPa), opacity (2.13–1.62), and melting temperature (178.46–149.34?°C). The film with 20% glycerol demonstrated favorable tensile strength (7.34?MPa), water vapor permeability (0,63?×?10???g·m?¹·Pa?¹·s?¹), optical and thermal characteristics. When applied as oil packaging, it effectively delayed primary oxidation (day 9 PV: 6.57?meq O?/kg; LDPE: 13.12?meq O?/kg). Although anisidine values were higher (12.15; LDPE: 6.5) from day 3, no significant difference was observed at the end of storage. Free fatty acid content remained relatively stable in both films. In conclusion, the 20% glycerol film showed potential as biodegradable soybean oil packaging, although further innovation is needed to enhance its resistance to oxidation.
Kata Kunci : bilangan peroksida, film berbasis protein, gelatin tulang kelinci, kemasan biodegradable, sifat mekanik