Perbandingan Efektivitas Antara Pelembap yang Diperkaya Seramid Dengan yang Diperkaya Provitamin D3 Terhadap Kulit Kering Pada Pasien HIV
Wan Gifanni Efmadian Shelly, Prof.Dr.med.dr.Retno Danarti, Sp.D.V.E,Subsp.D.A; Dr.dr. Satiti Retno Pudjiati, Sp.D.V.E, Subsp.Ven.
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Pendahuluan: Xerosis, gangguan sawar kulit non-infeksi, umum terjadi pada pasien HIV dengan prevalensi 30% sebelum era ART, menurun menjadi 19–28% pasca-ART. Faktor risiko meliputi gangguan mikrosirkulasi, nutrisi tidak adekuat, disfungsi saraf otonom, perubahan kelenjar keringat/sebasea, dan efek pada sel mast kulit, serta efek samping ART. Pelembap topikal dirancang untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi sawar kulit. Seramid berperan penting dalam mempertahankan permeabilitas air pada kulit, dan pelembap yang mengandung seramid terbukti lebih efektif dibandingkan pelembap klasik. Vitamin D juga membantu memperbaiki sawar kulit melalui regulasi keratinosit, filaggrin, dan lipid epidermal. Namun, studi perbandingan pelembap dengan Vitamin D dan seramid masih terbatas.
Tujuan: Mengetahui perbandingan efektivitas pelembap yang diperkaya provitamin D3 dengan pelembap yang diperkaya seramid terhadap kelembapan kulit yang diukur menggunakan overall dry skin score (ODS), dan specified symptom sum score (SRRC) serta menilai tingkat penguapan kulit melalui epidermis (transepidermal water loss) dan tingkat hidrasi kulit (skin capacitance) terhadap kulit kering pada pasien HIV.
Metode: Desain penelitian ini uji acak terkendali buta ganda terkontrol. Subjek penelitian merupakan pasien HIV yang dibagi menjadi kelompok yang mendapatkan pelembap yang diperkaya provitamin D3, pelembap basis, dan pelembap seramid. Kelembapan diukur pada minggu ke-0 dan ke-4 menggunakan skor klinis Overall Dry Skin Score (ODS) dan Specified Symptom Sum Score (SRRC) dan secara objektif dengan melihat nilai penguapan air melalui epidermis (TEWL, transepidermal water loss), hidrasi kulit (skin capacitance), dan pH kulit. Analisis statistik dilakukan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian pelembap pada ketiga kelompok.
Hasil: Sebanyak 66 orang dibagi menjadi tiga kelompok. Empat orang subjek dieksklusi karena tidak mengikuti penelitian hingga akhir. Evaluasi pada minggu ke-4 didapatlam penurunan skor ODS dan SRRC pada ketiga kelompok namun tidak bermakna secara statistik. Terjadi rerata penurunan TEWL pada ketiga kelompok pelembap namun tidak bermakna secara statistik pada kelompok provitamin D3 dan seramid (p>0.05). Terdapat peningkatan rerata hidrasi kulit pada tiap kelompok pelembap (p<0>0.05). Jika dibandingkan antar tiga kelompok pelembap, pelembap provitamin D3 dan pelembap seramid sebanding dalam menurunkan TEWL, meningkatkan hidrasi kulit serta dalam mempertahankan pH kulit.
Kesimpulan: Pemberian pelembap yang diperkaya provitamin D3, pelembap basis dan pelembap seramid sama baiknya dalam menurunkan skor ODS dan SRRC. Pelembap provitamin D3 dan pelembap seramid sebanding dalam menurunkan TEWL, meningkatkan hidrasi kulit dan mempertahankan pH kulit.
Introduction: Xerosis is common in HIV patients with a prevalence of 30?fore ART, decreasing to 19–28% post-ART. Risk factors include microcirculatory disorders, inadequate nutrition, autonomic nervous dysfunction, sweat/sebaceous gland changes, and effects on skin mast cells, as well as side effects of ART. Topical moisturizers are designed to improve and maintain skin barrier function. Ceramides play an important role in maintaining water permeability in the skin, and moisturizers containing ceramides have been shown to be more effective than classic moisturizers. Vitamin D also helps repair the skin barrier through the regulation of keratinocytes, filaggrin, and epidermal lipids. However, comparative studies of moisturizers with Vitamin D and ceramides are limited.Objective: To determine the comparative effectiveness of moisturizers enriched with provitamin D3 and moisturizers enriched with ceramides on skin moisture measured using the overall dry skin score (ODS), and specified symptom sum score (SRRC) and to assess the level of skin evaporation through the epidermis (transepidermal water loss) and the level of skin hydration (skin capacitance) on dry skin in HIV patients.
Methods: The design of this study was a double-blind randomized controlled trial. The subjects were HIV patients who were divided into groups enriched with provitamin D3, base moisturizer, and ceramide moisturizer. Moisture was measured at weeks 0 and 4 using the clinical scores Specified Symptom Sum Score (SRRC) and Overall Dry Skin Score (ODS) and objectively by looking at the value of water evaporation through the epidermis (transepidermal water loss), skin hydration (skin capacitance), and skin pH. Statistical analysis was performed to determine the differences in the effects of moisturizing in the three groups.
Results: A total of 66 people were divided into three groups. Four subjects were excluded because they did not follow the study until the end. Evaluation at week 4 found a decrease in ODS and SRRC scores in all three groups but was not statistically significant. There was an average decrease in TEWL in all three moisturizer groups but was not statistically significant in the provitamin D3 and ceramide groups (p>0.05). There was an increase in the average skin hydration in each moisturizer group (p<0>0.05). When compared between the three moisturizer groups, provitamin D3 moisturizer and ceramide moisturizer were comparable in reducing TEWL, increasing skin hydration and maintaining skin pH.
Conclusion: Application of provitamin D3-enriched moisturizer, base moisturizer and ceramide moisturizer were equally effective in reducing ODS and SRRC scores. Provitamin D3 moisturizer and ceramide moisturizer were comparable in reducing TEWL, increasing skin hydration and maintaining skin pH.
Kata Kunci : provitamin D3 moisturizer, ceramide, skin moisture, dry skin, HIV