Makna Teknologi Pertanian bagi Petani Milenial dalam Penyediaan Ketahanan Pangan (Studi pada Petani Milenial di UPTD BP4 Wilayah III Kabupaten Sleman)
Yeni Yuliati, Alia Bihrajihant Raya, S.P., M.P., Ph.D. ; Prof. Dr. Partini, SU.
2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Permasalahan kesenjangan digital (digital divide) pada sektor pertanian menjadi urgensi yang harus segera dituntaskan untuk mencapai ketahanan pangan nasional melalui penguatan transformasi teknologi di daerah. Penelitian ini menyelami bagaimana petani milenial di UPTD BP4 Wilayah III Kabupaten Sleman memaknai teknologi pertanian dalam konteks penyediaan ketahanan pangan. Penelitian ini berupaya memahami mengapa dan bagaimana teknologi hadir di dunia mereka dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di masa depan. Dengan metode dasar kualitatif, penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivisme kritis dan mengadopsi lensa Digital Humanities untuk membongkar bagaimana makna teknologi yang "ramah manusia" terbentuk dalam interaksi sehari-hari petani milenial. Data dikumpulkan melalui indepth interview pada informan, focus group discussion (FGD), observasi, dan studi kepustakaan. Peneliti menggunakan software NVivo 14 untuk menganalisis data serta menguji validitas data melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menemukan bahwa dominasi pragmatisme dan orientasi keuntungan ekonomi jangka pendek di sub-sektor hilir menjadi inti pemaknaan yang paling familiar. Transformasi teknologi pertanian memperlihatkan adanya digital divide, terutama dalam hal akses, literasi, dan pemanfaatan yang telah menghambat pemberdayaan secara merata. Sintesis penelitian menunjukkan bahwa, terlepas dari dorongan kemudahan akses informasi digital, jaringan sosial, dan dukungan pemerintah, isu ketahanan pangan belum menjadi driving force utama dalam adopsi teknologi pertanian. Secara konseptual menunjukkan bahwa novelty penelitian ini terletak pada identifikasi bahwa pemaknaan teknologi pertanian oleh petani milenial terjebak dalam logika pasar digital. Pengintegrasian teknologi pertanian oleh petani milenial di Kabupaten Sleman memiliki potensi untuk mendukung ketahanan pangan, terutama melalui peningkatan pendapatan dan diversifikasi produk. Namun, optimalisasi peran teknologi dalam meningkatkan penyediaan pangan yang berkelanjutan di sektor hulu masih perlu diprioritaskan. Penelitian ini merekomendasikan adanya integrasi kebijakan strategis dalam pengadaan infrastruktur teknologi pertanian yang mutakhir, penguatan literasi digital bagi petani dan penyuluh, serta pemberdayaan jaringan sosial untuk mendorong adopsi teknologi yang lebih holistik dan berkelanjutan.
The problem of the digital divide in the agricultural sector is an urgency that must be resolved immediately to achieve national food security through strengthening technological transformation in the regions. This research explores how millennial farmers in UPTD BP4 Wilayah III Sleman Regency perceive agricultural technology within the context of food security provision. It seeks to understand why and how technology is present in their world, aiming to contribute to future food security. Using a qualitative approach, the research utilizes a critical constructivism paradigm and adopts a Digital Humanities lens to examine how the meaning of "human-friendly" technology is shaped in the daily interactions of these farmers. Data was gathered through in-depth interviews with informants, focus group discussions (FGDs), observations, and literature reviews. The qualitative data was analyzed using NVivo 14 software, and data validity was established through technical and source triangulation. The results of the study found that the dominance of pragmatism and short-term economic profit orientation in the downstream sub-sector became the most familiar core meaning. The transformation of agricultural technology shows the existence of a digital divide, especially in terms of access, literacy, and utilization which has hampered equitable empowerment. The synthesis of the study shows that, despite the encouragement of easy access to digital information, social networks, and government support, the issue of food security has not become the main driving force in the adoption of agricultural technology. Conceptually, it shows that the novelty of this study lies in the identification that the meaning of agricultural technology by millennial farmers is trapped in the logic of the digital market. The integration of agricultural technology by millennial farmers in Sleman Regency has the potential to support food security, especially through increased income and product diversification. However, optimizing the role of technology in enhancing sustainable food provision in the upstream sector remains a priority. The research recommends the strategic integration of policies regarding the procurement of modern agricultural technology infrastructure, the strengthening of digital literacy among farmers and extension workers, and the empowerment of social networks to promote a more holistic and sustainable adoption of technology.
Kata Kunci : Digital Divide, Digital Humanities, Ketahanan Pangan, Petani Milenial, Teknologi Pertanian