Laporkan Masalah

Pengaruh Alterasi Hidrotermal Terhadap Sifat Keteknikan Batuan dan Kestabilan Lereng Pada Domain 7 Tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat

LALU AMMAR MAULANA, Ir. I Gde Budi Indrawan, S.T., M.Eng, Ph.D., IPM; Dr.rer.nat. Ir I Wayan Warmada, IPM.

2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI

Tambang tembaga dan emas Batu Hijau merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terdampak oleh alterasi hidrotermal akibat aktivitas magmatik masa lampau. Alterasi hidrotermal dapat mengubah sifat keteknikan batuan penyusun lereng dan berimplikasi pada tingkat kestabilan lerengnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alterasi yang terdapat pada Batu Hijau dan pengaruhnya terhadap sifat keteknikan batuan dan tingkat kestabilan lereng. Metode yang digunakan pada penelitian ini meliputi pengumpulan data sekunder berupa data bor inti, material properties batuan, model struktur, model RMR, model MAT, Peta Hazard Gempa Indonesia 2010, serta pengambilan data litologi dan struktur geologi di lapangan, pengambilan sampel batuan, analisis petrografi, analisis XRD, uji sifat keteknikan batuan, dan analisis kestabilan lereng dengan metode kesetimbangan batas Morgenstern-Price. Dalam penelitian ini ditemukan ketidaksesuaian hasil analisis kestabilan lereng dengan kondisi aktual di lapangan sehingga dilakukan back analysis dengan mengurangi nilai UCS pada salah satu material lereng yang mengalami keruntuhan hingga didapatkan FK mendekati 1. Hasil penelitian menunjukkan daerah penelitian tersusun oleh satuan breksi andesit dan terdapat struktur geologi berupa sesar dan kekar gerus dengan arah umum baratlaut-tenggara. Dari hasil analisis XRD didapatkan dua tipe alterasi hidrotermal, yaitu propilitik yang dicirikan dengan kehadiran mineral klorit, epidot, kuarsa, dan kalsit, serta serisitik yang dicirikan dengan kehadiran mineral ilit dan kuarsa. Berdasarkan data sifat keteknikan batuan, diketahui bahwa batuan yang teralterasi serisitik memiliki kadar air, porositas, dan tingkat saturasi yang lebih tinggi dibandingkan batuan teralterasi propilitik, sedangkan densitas (kering dan total), unit weight (kering dan total), specific gravity, dan kuat tekan batuannya lebih rendah daripada batuan teralterasi propilitik. Sementara itu, untuk tingkat kestabilan lereng yang ditinjau dari nilai faktor keamanan (FK) menunjukkan bahwa lereng yang tersusun oleh batuan teralterasi serisitik memiliki tingkat kestabilan lereng yang lebih rendah dibandingkan dengan lereng yang tersusun oleh batuan teralterasi propilitik. Hal ini disebabkan karena pada lereng dengan batuan serisitik hadir mineral ilit yang dominan dan kadar air pada batuannya cukup tinggi. 

The Batu Hijau copper and gold mine is one of the areas in Indonesia affected by hydrothermal alteration due to past magmatic activity. Hydrothermal alteration can change the engineering properties of the rocks that make up the slope and have implications for the stability of the slope. This study aims to determine the alteration present at Batu Hijau and its effects on the engineering properties of the rocks and slope stability. The methods used in this study include the collection of secondary data such as core drilling data, rock material properties, structural models, RMR models, MAT models, the 2010 Indonesian Earthquake Hazard Map, as well as field data collection on lithology and geological structure, rock sampling, petrographic analysis, XRD analysis, rock engineering property testing, and slope stability analysis using the Morgenstern-Price limit equilibrium method. In this study, inconsistencies were found between the slope stability analysis results and the actual conditions in the field, so a back analysis was conducted by reducing the UCS value of one of the slope materials that experienced collapse until the FK value approached 1. The results of the study indicate that the study area is composed of andesite breccia units and has geological structures in the form of faults and joint planes with a general northwest-southeast orientation. From the XRD analysis, two types of hydrothermal alteration were obtained, namely propylitic which is characterized by the presence of chlorite, epidote, quartz and calcite minerals, and sericitic which is characterized by the presence of illite and quartz minerals. Based on the rock engineering properties data, it is known that sericitic altered rocks have higher water content, porosity, and saturation levels than propylitic altered rocks, while their density (dry and total), unit weight (dry and total), specific gravity, and compressive strength are lower than propylitic altered rocks. Meanwhile, the slope stability level, as assessed by the safety factor (SF) value, indicates that slopes composed of sericitic altered rock have a lower slope stability level than slopes composed of propylitic altered rock. This is because slopes with sericitic rock contain dominant illite minerals and have relatively high water content.

Kata Kunci : Tambang Batu Hijau, alterasi hidrotermal, sifat keteknikan batuan, analisis kestabilan lereng

  1. S1-2025-463367-abstract.pdf  
  2. S1-2025-463367-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-463367-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-463367-title.pdf