Laporkan Masalah

ANALISIS PERAN REZIM NILAI TUKAR TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI DI KAWASAN ASEAN+3

Riadhus Shufa Al Khairi, Diny Ghuzini, S.E., M.Ec., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Rezim nilai tukar memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama saat terjadinya guncangan eksternal. Perbedaan antara sistem nilai tukar tetap, menengah, dan mengambang memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi, namun efektivitasnya masih menjadi perdebatan, khususnya selama masa krisis seperti pandemi COVID-19. Studi ini menganalisis peran rezim nilai tukar dalam memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di negara-negara ASEAN+3 selama masa pandemi dengan menggunakan metode Difference-in-Differences (DiD) dan data panel triwulanan dari tahun 2011–2023. Model ini membandingkan dampak pandemi di antara berbagai rezim nilai tukar, dengan rezim nilai tukar tetap sebagai kelompok kontrol. Hasil temuan menunjukkan bahwa negara-negara dengan rezim nilai tukar menengah dan mengambang mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inflasi yang lebih terkendali dibandingkan dengan negara yang menerapkan rezim nilai tukar tetap. Hal ini mengindikasikan bahwa fleksibilitas nilai tukar meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan global. Selain itu, sistem nilai tukar yang lebih fleksibel memungkinkan penyesuaian yang lebih cepat terhadap fluktuasi ekonomi, sedangkan rezim nilai tukar tetap cenderung lebih kaku dalam merespons ketidakpastian global.

Exchange rate regimes play a crucial role in maintaining economic stability, especially during external shocks. The differences between fixed, intermediate, and floating exchange rate systems impact economic growth and inflation, yet their effectiveness remains debated, particularly during crises such as the COVID-19 pandemic. This study examines the role of exchange rate regimes in influencing economic growth and inflation in ASEAN+3 during the pandemic using the Difference-in-Differences (DiD) method with quarterly panel data from 2011–2023. The model compares the pandemic's impact across different exchange rate regimes, using the fixed exchange rate regime as the control group. The findings reveal that countries with intermediate and floating exchange rate regimes experienced higher economic growth and better-controlled inflation than those with a fixed exchange rate regime. This suggests that exchange rate flexibility enhances economic resilience against global shocks. Moreover, a more flexible exchange rate system allows for quicker adjustments to economic fluctuations, whereas fixed exchange rate regimes tend to be more rigid in responding to global uncertainties.

Kata Kunci : rezim nilai tukar, pertumbuhan ekonomi, inflasi, ASEAN+3, COVID- 19, exchange rate regime, economic growth, inflation, ASEAN+3, COVID- 19

  1. S2-2025-508541-abstract.pdf  
  2. S2-2025-508541-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-508541-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-508541-title.pdf