Pengembangan Atraksi Wisata Budaya Pada Upacara Adat Ngasa Melalui Pemberdayaan Masyarakat Di Kampung Budaya Jalawastu Kabupaten Brebes Jawa Tengah
Shavira Jatu Roro Dyarti, Siti Nurul Rofiqo Irwan, S.P., M.Agr., Ph.D ; Dr. Sri Rahayu Budiani., S.Si. M.Si
2025 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Upacara Adat Ngasa yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kampung Budaya Jalawastu merupakan salah satu atraksi wisata budaya. Pada pelaksanaanya, terdapat tiga kelompok masyarakat di Jalawastu yang dilibatkan. Tiga kelompok tersebut yaitu Dewan Kokolot, Jagabaya, dan Laskar Wanoja. Selain dilibatkan dalam pelaksanaan Upacara Adat Ngasa, tiga kelompok masyarakat tersebut dilibatkan pada pengembangan atraksi wisata di Kampung Budaya Jalawasatu. Namun, Salah satu tantangan dari pengembangan atraksi wisata budaya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan kegiatan pariwisata. Tantangan ini juga dialami di Kampung Budaya Jalawastu. Kurangnya kesadaran masyarakat di Kampung Budaya Jalawastu diakibatkan karena belum adanya dampak ekonomi yang ditimbulkan. Masalah ini menunjukkan perlunya pemberdayaan masyarakat, terutama bagi tiga kelompok masyarakat yang terlibat dalam Upacara Adat Ngasa. Tujuan dari penelitian ini yaitu; mengetahui keterlibatan dan pemberdayaan kelompok masyarakat pada Upacara Adat Ngasa berdasarkan pemberdayaan psikologi, politik, dan sosial. Tujuan penelitian berikutnya yaitu, menganalisis pengembangan Upacara Adat Ngasa sebagai atraksi wisata budaya di Kampung Budaya Jalawastu.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan kuesioner. Wawancara dilakukan kepada perwakilan Dewan Kokolot, Jagabaya, Laskar Wanoja, Penasihat Adat Jalawastu, dan Pengurus Dusun Jalawastu. Selanjutnya, kuesioner dibagikan kepada seluruh anggota dari tiga kelompok masyarakat di Jalawastu yang berjumlah 20 orang. Kusiseoner digunakan sebagai data pendukung wawancara dan observasi. Wawancara, observasi, dan kuesioner digunakan untuk mengetahui pemberdayaan yang dialami oleh tiga kelompok masyarakat di Jalawastu. Pemberdayaan ini meliputi, pemberdayaan psikologi, politik, dan sosial.
Pada pemberdayaan psikologi, tiga kelompok masyarakat di Jalawastu mengalami peningkatan kapasistas penghargaan diri. Hal ini disebabkan oleh adanya kegiatan pariwisata di Jalawastu. Pada pemberdayaan politik, tiga kelompok masyarakat mendapatkan hak untuk memberikan perhatian terhadap pengembangan pariwisata di Jalawastu. Terakhir, dari hasil analisisi pemberdayaan sosial masih perlu ditingkatkan kembali. Hal ini disebabkan kurangnya inisiatif tiga kelompok masyarakat untuk bekerja sama dalam pengembangan atraksi wisata budaya. Berdasrkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan di Jalawastu sudah berjalan baik. Namun, aspek politik dan sosial masih perlu ditingkatkan. Pengembangan atraksi wisata budaya di Jalawastu sudah dapat dilakukan. Pengembangan atraksi wisata budaya ini dapat terwujud jika pengelola mampu memanfaatkan sumber daya pariwisata dan sumber daya manusia yang ada secara optimal.
Upacara Adat Ngasa held by the community in Kampung Budaya Jalawastu is one of the cultural tourism attractions. In its implementation, there are three community groups in Jalawastu involved. The three groups are Dewan Kokolot, Jagabaya, and Laskar Wanoja. In addition to being involved in the implementation of Upacara Adat Ngasa, the three community groups are involved in developing tourist attractions in Kampung Budaya Jalawastu. However, one of the challenges in developing cultural tourism attractions is the lack of public awareness of tourism activities. This challenge is also experienced in Kampung Budaya Jalawastu. The lack of public awareness in Kampung Budaya Jalawastu is due to the absence of a economic impact. This problem shows the need for community empowerment, especially for the three community groups involved in the Upacara Adat Ngasa. The purpose of this study is to determine the involvement and empowerment of community groups in the Ngasa Traditional Ceremony based on psychological, political, and social empowerment. The purpose of the next study is to analyze the development of the Ngasa Traditional Ceremony as a cultural tourism attraction in the Jalawastu Cultural Village.
This study uses data collection methods with interviews, observations, documentation, and questionnaires. Interviews were conducted with consisting of representatives of the Dewan Kokolot, Jagabaya, Laskar Wanoja, Jalawastu Customary Advisors, and Jalawastu Village Administrators. Furthermore, The questionnaire was distributed to all members of the three Jalawastu community groups totaling 20 people. The questionnaire was used as supporting data for interviews and observations. Interviews, observations, and questionnaires were used to determine the empowerment experienced by three community groups in Jalawastu. This empowerment includes psychological, political, and social empowerment.
In psychological empowerment, three community groups in Jalawastu experienced an increase in self-esteem capacity. This was due to the existence of tourism activities in Jalawastu. In political empowerment, three community groups received the right to pay attention to tourism development in Jalawastu. Finally, from the results of the analysis, social empowerment still needs to be improved again. This is due to the lack of initiative of the three community groups to work together in developing cultural tourism attractions. Based on the research that has been done, it can be concluded that empowerment in Jalawastu has gone well. However, political and social aspects still need to be improved. The development of cultural tourism attractions in Jalawastu can be done. The development of cultural tourism attractions can be realized if the manager is able to utilize existing tourism resources and human resources optimally
Kata Kunci : Jalawastu, Pemberdayaan Masyarakat, Upacara Adat Ngasa