Dekomposisi Profit Layanan Operasi Pasien BPJS Kesehatan dan Efisiensi Operasional Kamar Operasi (Studi pada Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan)
M Asro Abdih Y, Sumiyana, Dr., M.Si., Ak., CA.
2025 | Tesis | S2 Manajemen
Kamar operasi adalah salah satu unit layanan strategis di rumah sakit dengan tingkat kompleksitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profitabilitas pelayanan operasi pasien BPJS Kesehatan melalui pendekatan dekomposisi profit dalam skema tarif INA-CBGs dan efisiensi operasional kamar operasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi kasus di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan.
Hasilnya menunjukkan bahwa dari 68 paket tindakan operasi yang dianalisis, ada 49 paket menghasilkan profit positif dan 19 paket mengalami defisit. Komponen biaya utama penyumbang terbesar pada profit positif adalah biaya operasi dan biaya obat, sedangkan pada profit negatif adalah biaya kamar dan biaya operasi yang melebihi proporsi yang ditetapkan dari tarif INA-CBGs. Efisiensi operasional kamar operasi dinilai dari empat indikator utama: utilisasi kamar operasi, ketepatan waktu memulai operasi, rasio jumlah asisten bedah dan asisten anestesi, dan penundaan operasi akibat ketidaksiapan alat. Ditemukan bahwa utilisasi kamar operasi 62% (kategori kurang), ketidaksiapan alat menyumbang penundaan operasi sebesar 5,34%, melampaui batas efisiensi ideal <5>
The operating room is a strategic and complex hospital unit, particularly in serving BPJS Kesehatan patients under the INA-CBGs case-based payment scheme. This study aims to analyze the profitability and operational efficiency of the operating room at Muhammadiyah Lamongan Hospital using a profit decomposition approach. A descriptive qualitative method with a case study design was employed. The results showed that of the 68 surgical procedure packages analyzed, 49 generated positive profit while 19 resulted in a deficit. The main cost components contributing to the highest profit were surgery costs and medication for the positive margin, and room and surgical costs for the negative margin. Operational efficiency was assessed using four key indicators : operating room utilization (62%, categorized as low), on-time surgery initiation, assistant-to-surgery ratio, and equipment readiness. It was found that equipment unpreparedness contributed to 5.34% of surgery delays, exceeding the ideal threshold of <5>
Kata Kunci : dekomposisi profit, profitabilitas, kamar operasi, BPJS Kesehatan, efisiensi operasional, INA-CBGs