Laporkan Masalah

RELASI MANUSIA DAN ALAM DALAM KONSEP EKOFASISME PENTTI LINKOLA DAN EKOSUFISME SEYYED HOSSEIN NASR

Ahmad Rama Dony, Dr. Septiana Dwiputri Maharani, S.S., M.Hum; Dr. Ridwan Ahmad Sukri,S.S.,M.Hum

2025 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Krisis lingkungan telah menjadi masalah global yang begitu mendesak dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Kerusakan ini telah mengaburkan hubungan antara manusia dan alam sebagai suatu bagian dalam jaringan ekologis. Manusia modern cenderung memandang alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi secara bebas demi kepentingan pertumbuhan dan kenyamanan. Akibatnya, kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam semakin terpinggirkan. Pentti Linkola dan Seyyed Hossein Nasr memandang bahwa satu-satunya cara mengatasi krisis lingkungan adalah dengan pendekatan fundamental yang lebih mendalam terhadap persoalan ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai relasi manusia dan alam dalam konsep ekofasisme yang diusung oleh Pentti Linkola dan konsep ekosufisme yang digagas oleh Seyyed Hossein Nasr dalam tinjauan filsafat manusia. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat persamaan dan perbedaan dari pendekatan yang diusulkan oleh Pentti Linkola dan Seyyed Hossein Nasr dengan beberapa indikator utama yaitu hakikat manusia dalam dinamika alam semesta, manusia, teknologi dan modernisasi dan pendekatan manusia terhadap alam. Selain itu, peneliti juga melakukan refleksi dari kedua pendekatan secara kritis dan mendalam untuk melihat pendekatan yang paling memungkinkan dalam mengatasi kerusakan lingkungan. 

 Penelitian ini merupakan studi pustaka dengan pendekatan kualitatif yang mengkaji konsep ekofasisme Pentti Linkola dan ekosufisme Seyyed Hossein Nasr dalam memahami relasi antara manusia dan alam. Metode yang digunakan adalah hermeneutika, dengan unsur-unsur metodis yang meliputi interpretasi, koherensi internal, pendekatan holistik, komparasi, refleksi, serta deskripsi. Pendekatan ini bertujuan untuk menggali makna secara mendalam, menyeluruh, dan kontekstual terhadap pandangan kedua tokoh tersebut dalam kerangka etika lingkungan kontemporer melalui pndekatan filsafat manusia.

Hasil dari penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian utama. Pertama, Pentti Linkola melihat bahwa hubungan manusia dan alam bersifat konfliktual sehingga ia mengusulkan pendekatan fasis di bahwa struktur negara untuk mengatasi krisis. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr bersifat harmoni-spiritual, sehingga ia mengusulkan pendekatan kedalam diri manusia (sufism) untuk mengatasi krisis ekologi. Kedua,  Persamaan pemikiran terletak pada kesepakatan Pentti Linkola dan Seyyed Hossein Nasr bahwa manusia memiliki kesadaran, kesadaran tersebut harus diarahkan kepada upaya yang lebih intim dari diri manusia sendiri, yaitu kesadaran ekologis di luar diri manusia. Perbedaannya dari kedua pemikiran tesebut adalah Pentti Linkola melihat bahwa manusia bukan bagian dari alam, sehingga terlihat relasi subjek-objek. Sedangkan Seyyed Hossein Nasr melihat bahwa manusia bagian dari alam yang saling terhubung dalam relasi Ketuhanan. Ketiga, peneliti lebih sepakat pada tawaran-tawaran yang diusulkan Pentti Linkola seperti pentingnya pendidikan lingkungan untuk menyentuh akar krisis yang tidak hanya berasal dari individu melainkan dari sistem yang lebih besar. 

Environmental crisis has become a pressing global issue that demands serious attention from various stakeholders. This damage has blurred the relationship between humans and nature as an integral part of the ecological web. Modern humans tend to view nature as an object to be freely exploited for the sake of growth and comfort. As a result, awareness of the interconnectedness between humans and nature has been increasingly marginalized. Both Pentti Linkola and Seyyed Hossein Nasr argue that the only way to address the environmental crisis is through a more fundamental and in-depth approach to ecological issues. This study aims to explore the relationship between humans and nature through the lens of Pentti Linkola’s ecofascism and Seyyed Hossein Nasr’s ecosufism within the framework of philosophical anthropology. It also seeks to examine the similarities and differences between their proposed approaches using several key indicators: the essence of humans within the dynamics of the universe, the relationship between humans, technology, and modernization, and the human approach toward nature. Furthermore, this study includes a critical and in-depth reflection on both approaches to identify the most feasible pathway for overcoming environmental degradation.

This research is a qualitative library study focusing on the concepts of ecofascism by Pentti Linkola and ecosufism by Seyyed Hossein Nasr in understanding the human-nature relationship. The method employed is hermeneutics, incorporating methodological elements such as interpretation, internal coherence, holistic analysis, comparison, reflection, and description. This approach aims to uncover the deeper, holistic, and contextual meanings of both thinkers’ views within the realm of contemporary environmental ethics through the perspective of human philosophy.

The findings of this study are divided into three main parts. First, Pentti Linkolaviews the human-nature relationship as conflictual, leading him to propose a fascist state structure to resolve the crisis. In contrast, Seyyed Hossein Nasr adopts a harmony-spiritual perspective, proposing an inward spiritual (Sufim) approach to address ecological issues. Second, the similarity in their thought lies in their shared belief that humans possess consciousness, and this consciousness must be directed toward a deeper awareness namely, ecological consciousness that transcends the self. Their key difference lies in their view of the human-nature relationship: Linkola sees humans as separate from nature, implying a subject-object relationship, while Nasr perceives humans as an integral part of nature, interconnected through a divine relationship. Third, the researcher finds greater alignment with some of Linkola’s proposals, such as the importance of environmental education, which addresses not only individual responsibility but also the broader systemic roots of the crisis.

Kata Kunci : Relasi Manusia dan Alam, Ekofasisme, Ekosufisme, Linkola, Nasr

  1. S2-2025-526192-abstract.pdf  
  2. S2-2025-526192-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-526192-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-526192-title.pdf