Laporkan Masalah

Pengaruh Kontinuitas dan Orientasi Serat Sutra sebagai Inti Pasak terhadap Ketahanan Fraktur Gigi

Berty Maharani Febrianty, drg. Margareta Rinastiti, MKes., SpKG.Sub.Sp.KR(K)., PhD; Dr. drg. Yulita Kristanti, MKes., SpKG, Subsp. KR(K)

2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Konservasi Gigi

Pita serat digunakan sebagai bahan pasak pada gigi tetap karena bentuknya yang elastis dan tidak memerlukan pembesaran dari saluran akar. Terdapat berbagai jenis serat yang mempengaruhi kekuatan dan daya dukung sistem beban. Penelitian ini bertujuan untuk memicu pengaruh kontinuitas dan orientasi serat sutra sebagai inti pasak terhadap ketahanan fraktur gigi.

Empat puluh gigi gigi premolar rahang bawah pasca pencabutan bebas karies dan berukuran rata-rata panjang akar sama dievaluasi keretakannya menggunakan transluminasi kemudian dibersihkan dan dipotong bagian koronal. Persiapan dan obturasi saluran pasak dilakukan dengan ukuran 9 mm . Spesimen penelitian dibagi dalam 4 kelompok, yaitu kelompok Ia direstorasi dengan serat sutra unidirection kontinu , kelompok Ib dengan serat sutra unidirection diskontinu, kelompok IIa serat sutra jalinan kontinu , kelompok IIb serat sutra jalinan diskontinu . Setelah dilakukan penyimpanan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 24 jam, dilakukan uji ketahanan fraktur menggunakan universal test machine dalam satuan Newton (N). Analisis data menggunakan uji ANAVA dua jalur (?=0,05) dan uji Post Hoc Tukey (?=0,05).  

Hasil analisis disimpulkan bahwa orientasi serat sutra jalinan mempunyai ketahanan fraktur lebih tinggi daripada searah , pita kontinuitas mempunyai ketahanan fraktur lebih tinggi dibandingkan pita diskontinu dan terdapat interaksi kontinuitas dan orientasi serat sebagai pasak terhadap ketahanan fraktur gigi, dimana o rientasi serat jalinan kontinuitas mempunyai ketahanan fraktur paling tinggi.


Pita serat umumnya digunakan sebagai bahan pasak pada gigi permanen karena strukturnya yang elastis dan tidak memerlukan pelebaran saluran akar. Kapasitas menahan beban dan kekuatan sistem dipengaruhi oleh berbagai jenis serat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh kontinuitas dan orientasi serat sutra sebagai inti pasak terhadap ketahanan fraktur gigi.

Transluminasi digunakan untuk menilai fisura dari empat puluh gigi premolar mandibula bebas karies, semuanya menunjukkan panjang akar rata-rata yang sama. Gigi-gigi tersebut kemudian dibersihkan dan dipotong secara koronal. Obturasi dan preparasi pasca-kanal dilakukan dengan diameter 9 mm. Spesimen penelitian dikategorikan ke dalam empat kelompok: kelompok Ia, direstorasi dengan serat sutra searah pita kontinu; kelompok Ib, direstorasi dengan serat sutra searah pita terputus-putus; kelompok IIa, direstorasi dengan serat sutra jalinan pita kontinu; kelompok IIb, direstorasi dengan serat sutra jalinan pita terputus-putus. Setelah inkubasi 24 jam pada suhu 37°C, peralatan uji universal digunakan untuk melakukan penilaian ketahanan fraktur yang dikuantifikasi dalam Newton (N). ANOVA dua arah (? = 0,05) dan uji Tukey Post Hoc (? = 0,05) digunakan untuk analisis data.

Studi ini menyimpulkan bahwa orientasi serat sutra yang dikepang menunjukkan ketahanan terhadap patah yang lebih unggul dibandingkan dengan serat searah, pita kontinu menunjukkan ketahanan terhadap patah yang lebih besar daripada pita terputus-putus, dan terdapat interaksi antara kontinuitas dan orientasi serat yang memengaruhi ketahanan terhadap patah gigi, dengan orientasi serat kepang kontinu menghasilkan ketahanan terhadap patah yang paling tinggi.


Kata Kunci : continuity, orientation, silk fiber, unidirectional, braided, fracture resistance.

  1. SPESIALIS-2025-495768-abstract.pdf  
  2. SPESIALIS-2025-495768-bibliography.pdf  
  3. SPESIALIS-2025-495768-tableofcontent.pdf  
  4. SPESIALIS-2025-495768-title.pdf