Strategi Koping Biarawan Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) di Yogyakarta dalam Menghadapi Kesepian karena Menjalani Hidup Selibat (Studi Kualitatif Fenomenologi)
Mariama Oktavia, dr. Mahar Agusno Sp.KJ(K) .; dr. Irwan Supriyanto, Ph.D., Sp.KJ
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Psikiatri
Latar belakang: Hidup selibat dalam gereja Katolik berarti menjalani kehidupan dengan tidak menikah, terikat pada sumpah atau kaul kebiaraan yang diikrarkan, serta hidup sesuai aturan dan norma-norma dalam ordo yang diikuti. Dalam praktiknya, penghayatan dan pelaksanaan hidup selibat tidaklah mudah karena berbagai tantangan yang dapat berujung pada timbulnya perasaan kesepian. Perasaan kesepian berkepanjangan apabila tidak disikapi dengan tepat dapat berujung pada permasalahan kesehatan mental sehingga mengharuskan seorang biarawan melakukan koping.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana strategi koping biarawan Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) di Yogyakarta dalam menghadapi kesepian karena menjalani hidup selibat.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian adalah biarawan Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) yang telah mengikrarkan kaul kekal. Informan dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengambilan data diambil dengan wawancara mendalam semi-terstruktur dengan prinsip kesesuaian dan kecukupan yang merujuk teori saturasi. Verifikasi data dengan triangulasi sumber, triangulasi teknik, triangulasi waktu, observasi terbuka dan member checking.
Hasil dan Simpulan: Pada penelitian ini didapatkan 5 informan utama biarawan ordo OCD, 2 informan pendukung dan 1 informan kunci. Keseluruhan informan utama berjenis kelamin laki-laki, sudah mengikrarkan kaul kekal, semuanya berasal dari NTT dengan tingkat pendidikan S1 Filsafat dan BA Teologi. Macam tema mekanisme koping biarawan ordo OCD dapat dikelompokkan dalam 4 tema sebagai berikut: menjalin relasi yang baik dengan orang lain, melakukan kebiasaan yang menjadi rutinitas kebersamaan, melakukan kegiatan pelayanan rohani di luar biara, dan menerapkan nilai-nilai religi, spiritual dan budaya.
Background: Celibacy in the catholic church means living a life without getting married, bound by the vows that are professed and living according to the rules of the order. Celibate life is not easy because of various challenges that can lead to loneliness. Prolonged loneliness if not addressed properly can lead to mental health problems that require a monk to do coping.
Objective: This study aims to explore how the coping strategies of monks of the Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) in Yogyakarta in facing loneliness due to living a celibate life.
Method: This study is a qualitative study with a phenomenological approach. The subjects of the study were monks of the OCD who had professed eternal vows. Informants were selected using purposive sampling techniques. Data collection was carried out through semi-structured in-depth interviews with the principles of suitability and adequacy referring to saturation theory. Data verification was carried out using source triangulation, technique triangulation, time triangulation, open observation and member checking.
Results and Conclusions: This study obtained 5 main informants of OCD monks, 2 supporting informants and 1 key informant. 7 male informants had professed eternal vows, all came from NTT and 1 female who was not a monk. The types of coping mechanisms of OCD monks found were grouped into 4 themes as follows: establishing good relationships with others, carrying out habits that become routines together, carrying out spiritual service activities outside the monastery, and implementing religious, spiritual and cultural values.
Kata Kunci : biarawan, selibat, kesepian, koping, kualitatif, monks, celibate, loneliness, coping, qualitative.