Laporkan Masalah

Karakeristik sosial ekonomi pedagang kaki lima di pasar Senggol di kota administratif Denpasar kabupaten Badung propinsi Bali tahun 1986

I Dewa Bagus Made Adiyoga, Drs. Sudarsono Kusnomiharjo, S.U.

1987 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Sektor informal umumnya dan pekerjaan sebagai pedagang kaki lima khususnya, mempunyai dua sisi yang berbeda. Di satu pihak pekerjaan tersebut mempunyai daya serap yang besar dibandingkan dengan pekerjaan lain di sektor formal sehingga dapat berfungsi sebagai "klep pengaman" untuk menampung kelebihan angkatan kerja yang tidak tertampung di sektor formal. Sedangkan di pihak lain, pekerjaan ini sering dianggap menimbulkan masalah-masalah yang negatif, terutama yang berhubungan dengan tata ruang kota di daerah perkotaan. Sudah tentu kebijaksanaan yang tepat adalah bagaimana menghilangkan sisi yang negatif dan menumbuhkan sisi yang positif dari pekerjaan tersebut. Untuk itu, sebagai langkah awal diperlukan penelitian-penelitian yang mendalam mengenai sektor informal, khususnya pekerjaan sebagai pedagang kaki lima. Berangkat dari pemikiran di atas, penelitian ini mencoba meneliti karakteristik sosial ekonomi para pedagang kaki lima di pasar senggol di Kota Administratif Denpasar (Kabupaten Badung, Propinsi Bali). Penelitian ini mengambil empat pasar senggol terbesar di kota tersebut, yaitu: pasar senggol Pekambingan, Sanglah, Kumbasari dan Angsoka-Kreneng. Sedangkan penentuan sampel pedagang kaki lima yang digunakan, dilakukan dengan menggunakan metode "Propotional Random Sampling". Jumlah sampel yang diam- bil pada tiap kelompok jenis usaha (makanan-minuman dan non makanan-minuman), sebanding dengan jumlah populasi di tiap kelompok jenis usaha tersebut. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa mayoritas para pedagang kaki lima tersebut adalah pria, berstatus kawin, dan merupakan migran (tempat lahirnya di luar Kabupaten Badung). Kenyataan lain yang diperoleh dari penelitian ini ada- lah bervariasinya jenis barang yang dijual di pasar senggol ini, yang akhirnya menyebabkan bervariasi pula modal, perlengkapan berdagang yang digunakan, dan penghasilan per harinya. Penghasilan per hari para pedagang kaki lima tersebut ternyata berkaitan dengan kelompok jenis usahanya. Para pedagang kaki lima yang menjual makanan dan minuman cenderung berpenghasilan lebih besar dibandingkan mereka yang menjual barang-barang non makanan-minuman. Penghasilan per hari mereka ternyata juga berkaitan dengan modal yang digunakan untuk barang dagangan. Makin besar modal yang digunakan untuk menyediakan barang dagangan, makin besar pula penghasilan per harinya. Dan penghasilan ini akhirnya mempengaruhi kemantapannya bekerja sebagai pedagang kaki lima. Makin besar penghasilan per hari sebagai pedagang kaki lima menyebabkan makin mantap mereka bekerja sebagai pedagang kaki lima. Hal lain yang menarik yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapatnya kecenderungan di antara mereka untuk meminimalkan penggunaan buruh di luar pekerja keluarga. Besarnya angkatan kerja yang terserap oleh pekerjaan ini, bukan disebabkan oleh mekanisme penyerapan angkatan kerja sebagai tenaga buruh melainkan disebabkan oleh kepandaian mereka menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Konsekuensi perilaku dalam menggunakan buruh tersebut ialah makin besarnya jumlah angkatan kerja yang bekerja sebagai pedagang kaki lima, akan diikuti pula dengan makin besarnya jumlah usaha berdagang kaki lima yang timbul.

-

Kata Kunci : Pedagang kaki lima,badung,Denpasar,Bali

  1. S1-1987-2149-I_Dewa_Bagus_Made_Adiyoga-abstract.PDF  
  2. S1-1987-2149-I_Dewa_Bagus_Made_Adiyoga-bibliography.PDF  
  3. S1-1987-2149-I_Dewa_Bagus_Made_Adiyoga-tableofcontent.PDF  
  4. S1-1987-2149-I_Dewa_Bagus_Made_Adiyoga-title.PDF