Analisis kebutuhan tenaga kesehatan untuk pengembangan RSUD Prof.Dr. Aloei Saboe menjadi Pusat Pelayanan Rujukan Propinsi Gorontalo
BERAHIM, Zaenuddin, dr. Sugianto A., Sp.S.,M.Kes.,Ph.D
2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Perubahan status Gorontalo menjadi propinsi, menyebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi, demografi, transportasi, serta kebutuhan layanan kesehatan yang bermutu. Rumah Sakit Umum Daerah Aloei Saboe adalah Rumah Sakit Kelas C milik Pemerintah Kota Gorontalo, dengan kapasitas tempat tidur 200, akan direalokasi ke rumah sakit baru dengan kapasitas 400 tempat tidur, dan kelasnya ditingkatkan dari RS Kelas C ke Kelas B Non Pendidikan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kesiapan pihak Manajerial Rumah Sakit Umum Aloei Saboe, Pemerintah Kota Gorontalo, dan DPRD Kota Gorontalo dalam menghadapi perubahan tersebut ditinjau dari segi ketenagaan. Metode : Penelitian ini merupakan studi kasus, dengan rancangan penelitian melalui tahapan kuantitatif dan kualitatif. Lokasi penelitian di Rumah sakit Umum Daerah Aloei Saboe Kota Gorontalo, dan subyek penelitian adalah Manajerial Rumah Sakit Umum Daerah Aloei Saboe, serta pihak Stakeholder yakni Pemerintah dan DPRD Kota Gorontalo. Cara pengambilan data kuantitatif melalui dokumen kepegawaian rumah sakit, dan data kualitatif melalui wawancara dengan Manajerial Rumah Sakit Umum Prof. Dr. Aloei Saboe, Walikota Gorontalo dan Wakil Ketua DPRD Kota Gorontalo. Hasil Penelitian: Analisis kuantitatif menunjukan bahwa jumlah ketenagaan khususnya tenaga medis dan paramedis masih kurang, sehingga perlu penambahan agar sesuai dengan standar Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tentang kriteria rumah sakit Kelas B Non Pendidikan dan menjadi pusat layanan rujukan tingkat Propinsi Gorontalo. Alternatif yang dilakukan oleh manajerial rumah sakit yaitu mengirim tenaga dokter umum untuk mengikuti pendidikan spesialisasi, merekrut tenaga paramedis sebagai tenaga kontrak atau hononer, kerjasama dengan institusi pendidikan yakni Universitas Hasanudin Makassar/RSUP DR.Wahidin Sudirohusodo dan Unversitas Sam Ratulangi Manado/RSUP Malalayang. Pemerintah Kota Gorontalo mulai tahun 2004 memprioritaskan 75% penerimaan pegawai adalah tenaga kesehatan. Kesimpulan: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tenaga kesehatan di Rumah Sakit Aloei Saboe masih kurang, dan telah dilakukan upaya serta langkah-langkah oleh pihak manajerial, Pemerintah dan DPRD Kota Gorontalo untuk memenuhi kebutuhan tenaga tersebut.
Backgrounds: The change of Gorontalo statues as province caused sosial economic, demography, transportation, and the need of qualified health service. Aloei Saboe of hospital was C class hospital that belongs to Gorontalo government city. The capacity of hospital was 200 beds but willbe reallocated to new hospital with 400 bed capacities, and the class will be increased from C class to non teaching B class. The study was aimed to find out managerial preparation of Aloei saboe hospital, Gorontalo government, and legislative of Gorontalo city in facing those change from human resources point of view. Methods: This case study used quantitative and qualitative method. The location was in Aloei Saboe hospital. Subject of the study was the managerial of Aloei Saboe hospital and stakeholders. i.e. government and legislative of Gorontalo city. Quantitative data were collected from hospital documents, while qualitative data were collected by interview with managerial of Aloei Saboe hospital, the mayor of Gorontalo city, and legislative representative of Gorontalo city. Results: Quantitative analysis of the study showed that number of empowerment, especially medical staff and paramedic were low so that it need increasing staffs to adjust with health department standard regarding to criteria of B class non teaching hospital and center of referral service in Gorontalo province. To overcome the problem, hospital managerial sending their general doctor to continue their education to specialist education, recruiting nursing paramedic as part time staff, making cooperation with education institution, i.e. Hasanuddin of University Makassar / Dr. Wahidin Sudirohusodo General Hospital and Sam Ratulangi of University Manado / Malalayang Hospital. Conclusion: Health staff of Aloei Saboe hospital is low but the managerial of hospital, government, and legislative of Gorontalo city have tried to fulfill staff need.
Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Pusat Layanan Rujukan,Analisis Kebutuhan Tenaga Kesehatan