Laporkan Masalah

PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN PENDEKATAN KERANGKA KONSEP BALANCED SCORECARD YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN METODE OBJECTIVE MATRIX (Studi Kasus di AHASS “X”, Purbalingga)

Adin Atina, Dr.Eng. Ir. M. Arif Wibisono, S.T., M.T. IPM. ASEAN. Eng

2010 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Selama ini pengukuran kinerja perusahaan hanya menitikberatkan pada pengukuran keuangan saja. Balanced Scorecard adalah metode pengukuran kinerja yang juga melibatkan pengukuran kinerja non-keuangan. Metode yang dapat dikombinasikan dengan Balanced Scorecard yaitu metode Objective Matrix. Dengan metode Objective Matrix hasil pengukuran kinerja dengan pendekatan Balanced Scorecard dapat dihasilkan nilai tunggal sehingga memudahkan bagi manajer untuk mengevaluasi hasil kinerja perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja perusahaan dengan objek penelitian yaitu AHASS “X”, di Purbalingga, Jawa Tengah. Langkah-langkah yang dilakukan dalam merancang Balanced Scorecard meliputi: menerjemahkan pernyataan visi dan misi perusahaan, menentukan perspektif dan tujuan strategis perusahaan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menyusun hirarki, melakukan pembobotan dan konsistensi, kemudian tahap selanjutnya melakukan pengukuran dengan metode Objective Matrix, mengkombinasikan empat perspektif Balanced Scorecard dengan metode Objective Matrix, mengevaluasi tingkat perbaikan perusahaan, dan memberikan usulan inisiatif inisiatif strategis kepada perusahaan. Hasil pengukuran kinerja AHASS “X” periode 2007-2009 menyatakan bahwa perspektif keuangan memiliki kinerja yang sangat buruk dengan indeks kinerja sebesar 0,040. Perspektif pelanggan memiliki kinerja buruk dengan indeks sebesar 0,451. Indeks perspektif proses bisnis internal sebesar 1,562 yang artinya usaha-usaha yang dilakukan dalam perspektif ini masih di bawah rata-rata. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan memiliki indeks kinerja sebesar 4,117. Secara keseluruhan tingkat kinerja perusahaan berada pada level 2 yaitu dengan indeks kinerja sebesar 2,212 dengan tingkat perbaikan kinerja sebesar -26,27%. Nilai indeks kinerja pada level buruk (skor 2) dan tingkat perbaikan berada pada nilai negatif, dapat menjadi acuan perkembangan perusahaan untuk melalui tahap bertumbuh dengan lebih memaksimalkan potensi dan sumberdaya yang dimiliki perusahaan.

Kata Kunci : balanced scorecard, objective matrix, analytic hierarchy process, pengukuran kinerja, indeks kinerja

  1. S1-FTK-2010-Adin_Atina-abstract.pdf  
  2. S1-FTK-2010-Adin_Atina-bibliographyy.pdf  
  3. S1-FTK-2010-Adin_Atina-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FTK-2010-Adin_Atina-title.pdf