Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA PENGALAMAN BULLYING DENGAN PEMBENTUKAN BODY IMAGE PADA REMAJA AWAL: ANALISIS DATA SEKUNDER GLOBAL EARLY ADOLESCENT STUDY 2018

Nanda Tri Rahmatika, dr. Ifta Choiriyyah, MSPH., Ph.D.; Dr.Grhasta Dian Perestroika, S.ST., M.Kes.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Perubahan fisik, psikologis, emosional, maupun sosial yang pesat pada remaja membuat remaja semakin memperhatikan penampilan dan membangun citra tubuhnya, sehingga remaja menjadi fase kritis dalam pembentukan citra tubuh. Remaja juga semakin memperhatikan pandangan dan perlakuan orang lain terhadap dirinya, termasuk lewat bullying. Bullying dapat memperburuk citra tubuh remaja yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan makan dan mental, serta berdampak pada kualitas hidup mereka. Hingga saat ini, belum ditemukan studi berbasis populasi di Indonesia yang mengeksplorasi hubungan antara bullying dan body image pada remaja awal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengalaman bullying dengan pembentukan body image pada remaja awal. Metode: Penelitian cross sectional dengan menganalisis data Global Early Adolescent Study 2018. Populasi penelitian ini adalah remaja awal usia 10-14 tahun di kota Lampung, Semarang, dan Denpasar. Sampel penelitian melibatkan seluruh responden GEAS 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, yaitu 3.596 responden. Variabel body image disusun berdasarkan jawaban atas tiga pertanyaan mengenai persepsi remaja mengenai berat badan, tinggi badan, dan kecepatan pertumbuhan mereka. Analisis yang digunakan terdiri dari analisis deskriptif, bivariabel dengan uji regresi logistik sederhana, dan multivariabel dengan uji regresi logistik berganda. Analisis multivariabel digunakan untuk menguji hubungan pengalaman bullying dengan body image setelah mempertimbangkan variabel kovariat. Hasil: Dari 3.596 remaja, 36,18% mengalami bullying verbal, 1,89% mengalami bullying fisik, dan 14,15% mengalami bullying verbal dan fisik. Body image negatif dilaporkan oleh 83,01% remaja. Bullying verbal dan fisik secara signifikan berhubungan dengan body image dalam analisis bivariabel (OR=2,13; 95% CI=1,52-3,00) dan multivariabel (aOR=1,74; 95% CI=1,19-2,64). Remaja yang tinggal di Bandar Lampung (aOR=1,42; 95% CI=1,07-1,90), prapubertas (aOR=1,68; 95% CI=1,31-2,16), memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tuanya (aOR=1,37; 95% CI = 1,10-1,71), dan memiliki pengalaman hubungan romantis (aOR=1,35; 95% CI=1,09-1,68) secara signifikan berhubungan dengan citra tubuh negatif. Sebaliknya, usia, jenis kelamin, status ekonomi keluarga, riwayat ACEs, dan durasi penggunaan media tidak berhubungan secara signifikan. Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa pengalaman bullying menjadi prediktor body image negatif pada remaja. Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi multi-stakeholder untuk mencegah bullying dan mempromosikan body image positif dengan mempertimbangkan perubahan fisik dan emosional yang terjadi pada remaja. Keterbatasan dari penelitian ini terletak pada pengukuran body image yang hanya didasarkan pada persepsi remaja terhadap berat badan, tinggi badan, dan tingkat pertumbuhan mereka. Meskipun demikian, pendekatan ini tetap relevan dan konsisten dengan penelitian sebelumnya.

Background: The rapid physical and psychological changes during adolescence increase adolescents’ focus on their appearance and body image, so that adolescence becomes a critical period for body image formation. Bullying can worsen adolescents' body image, which causes various health issues such as eating disorders, mental health problems, and reduced quality of life. Until now, there has been no population-based study in Indonesia exploring the association between bullying and body image among early adolescents. Objective: This study aims to examine the association between bullying experiences and body image development in early adolescents. Methods: This cross-sectional study analyzed data from the 2018 Global Early Adolescent Study (GEAS). The subjects of this study were early adolescents aged 10–14 years old living in Bandar Lampung, Semarang, and Denpasar cities. A total of 3,596 participants met the inclusion and exclusion criteria. Descriptive, bivariable (using simple logistic regression), and multivariable (using multiple logistic regression) analyses were conducted. Multivariable analysis was used to examine the association between bullying experienced and body image after controlling for covariate variables. Results: Among 3,596 adolescents, 36.18% were verbally bullied, 1.89% were physically bullied, and 14.15% were both verbally and physically bullied. Negative body image was experienced by 83,01% of adolescents. Verbal and physical bullying significantly predicts body image in both bivariable (OR=2.13; 95% CI=1.52- 3.00) and multivariable (aOR=1.74; 95% CI=1.19- 2.64) analyses. Living in Bandar Lampung (aOR=1.42; 95% CI=1.07- 1.90), pre-pubertal stage (aOR=1,68; 95% CI=1,31-2,16), having a poor relationship with their parents (aOR=1,37; 95% CI = 1,10-1,71), and having romantic experience (aOR=1,35; 95% CI=1,09-1,68) were significantly associated with negative body image. In contrast, age, gender, family economic status, history of ACEs, and duration of media use were not significantly associated. Conclusion: This study highlights that bullying experienced is a significant predictor of negative body image, indicating the need for multi-stakeholder interventions to prevent bullying and promote positive body image by considering the physical and emotional changes that are occurring in adolescents. The limitation of this study is that body image was measured only by adolescents’ perceptions of their weight, height, and growth rate. However, this approach remains relevant and consistent with previous studies.

Kata Kunci : bullying, citra tubuh, kepuasan tubuh, remaja

  1. S2-2025-525359-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525359-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525359-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525359-title.pdf