PENGARUH WAKTU INISIASI TERAPI ANTIRETROVIRAL TERHADAP LUARAN KLINIS PADA PASIEN HIV DI PUSKESMAS KABUPATEN SLEMAN
Devy Melati, Prof. dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI, FINASIM; Prof. Dr. Erna Kristin, Apt, M.Si
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Tropis
Latar
Belakang. Penyakit HIV/AIDS masih
menjadi salah satu tantangan kesehatan global utama, dengan tingkat penanganan
yang masih belum optimal. Strategi Universal
Test and Treat dilakukan untuk diagnosis dini dan menganjurkan inisiasi
terapi antiretroviral (ARV) dalam waktu tujuh hari setelah diagnosis. Meskipun
pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat pengendalian HIV, bukti mengenai
dampak jangka panjangnya masih terbatas. Tujuan.
Penelitian ini mengevaluasi pengaruh inisiasi cepat terapi antiretroviral
terhadap luaran terapi berupa kepatuhan pengobatan, lost to follow up, supresi viral, dan mortalitas pada pasien HIV di
puskesmas Kabupaten Sleman, DIY. Metode.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kohort retrospektif, melibatkan
307 pasien HIV yang memulai inisiasi terapi antiretroviral pada Januari 2018
hingga Desember 2022 di puskesmas Kabupaten Sleman. Waktu observasi dilakukan
selama 24 bulan. Analisis data dengan menggunakan Kaplan Meier, bivariat (Chi-square), dan multivariat (regresi logistik
dan cox regression). Hasil.
Dari 307 pasien (76,2% inisiasi cepat ART; mayoritas usia 25-49 tahun
[48,5%], laki-laki [84,4%], LSL [67,4%]), stadium klinis 3 berasosiasi dengan
inisiasi lambat (aOR=0,23; p=0,047). Tidak ada perbedaan kepatuhan/supresi
viral antar kelompok inisiasi pada bulan 6, 12, 24, meskipun LTFU (8,5% vs
4,1%) dan mortalitas (3% vs 2,7%) lebih tinggi di kelompok cepat. Kepatuhan
bulan-6 meningkat pada LSL (aOR=2,22; p=0,027), menurun pada pengguna efavirenz
(aOR=0,31); kepatuhan bulan-12/24 rendah pada usia 25-49 tahun (aOR=2,04/1,87)
dan pekerja (aOR=2,01). LTFU lebih tinggi pada narapidana (aHR=15,41; p=0,005),
rendah pada LSL (aHR=0,18; p=0,001) dan pengguna awal efavirenz (aHR=0,18;
p=0,011). Supresi viral bulan-6 lebih rendah pada pengguna efavirenz (aOR=0,35;
p=0,003) dan inisiasi lintas kabupaten (aOR=0,34; p=0,046); lebih tinggi pada
pasien patuh di bulan-24 (aOR=2,02; p=0,008). Mortalitas lebih rendah dengan
pendidikan menengah (aHR=0,11; p=0,035) dan status LSL (aHR=0,05; p=0,007).
Probabilitas survival 24-bulan 97,1% (bebas-LTFU 92,5%) tanpa perbedaan
signifikan antar kelompok inisiasi. Kesimpulan.
Inisiasi cepat ART tidak
memengaruhi luaran terapi, tetapi karakteristik pasien menentukan keberhasilan.
Intervensi berbasis profil populasi diperlukan untuk optimalkan retensi antiretroviral.
Background: HIV/AIDS remains a major global health challenge,
with suboptimal management rates. The Universal Test and Treat (UTT) strategy
aims to enable early diagnosis and recommends initiating antiretroviral therapy
(ART) within seven days of diagnosis. While this approach is expected to
accelerate HIV control, evidence of its long-term impact remains limited. Objective: This study evaluated the
effect of rapid antiretroviral therapy initiation on treatment outcomes –
including medication adherence, loss to follow-up (LTFU), viral suppression,
and mortality – among HIV patients at community health centers in Sleman
Regency, Yogyakarta Special Region (DIY). Methods:
A retrospective cohort study was conducted involving 307 HIV patients who
initiated antiretroviral therapy between January 2018 and December 2022 at
Sleman Regency health centers. Participants were observed for 24 months. Data
analysis utilized Kaplan-Meier survival curves, bivariate analysis
(Chi-square), and multivariate analysis (logistic and Cox regression). Results. Among 307 patients (76.2%
rapid ART initiation; majority aged 25-49 years [48.5%], male [84.4%], MSM
[67.4%]), clinical stage 3 was associated with delayed initiation (aOR=0.23;
p=0.047). No differences in adherence/viral suppression existed between
initiation groups at months 6, 12, 24, though LTFU (8.5% vs 4.1%) and mortality
(3% vs 2.7%) were higher in the rapid-initiation group. Month-6 adherence
increased among MSM (aOR=2.22; p=0.027) but decreased with efavirenz-based
regimens (aOR=0.31); month-12/24 adherence was higher in those aged 25-49 (aOR=2.04/1.87)
and employed patients (aOR=2.01). LTFU increased in prison inmates (aHR=15.41;
p=0.005) but decreased among MSM (aHR=0.18; p=0.001) and TLE
(tenofovir-lamivudine-efavirenz) regimen users (aHR=0.18; p=0.011). Month-6
viral suppression was lower with efavirenz regimens (aOR=0.35; p=0.003) and
cross-regency diagnosis/initiation (aOR=0.34; p=0.046), yet higher in adherent
patients at month 24 (aOR=2.02; p=0.008). Mortality was reduced with secondary
education (aHR=0.11; p=0.035) and MSM status (aHR=0.05; p=0.007). 24-month
survival probability was 97.1% (LTFU-free: 92.5%), with no significant
difference between initiation groups. Conclusions.
Rapid ART initiation did not influence core treatment outcomes, but patient
characteristics determined therapeutic success. Population-profile-based
interventions are essential to optimize antiretroviral retention.
Kata Kunci : Inisiasi cepat, ODHIV, kepatuhan pengobatan, lost to follow up, supresi viral, mortalitas; Rapid initiation, PLHIV, adherence, lost to follow up, viral suppression, mortality