Laporkan Masalah

RESISTANCE AND NEGOTIATION THROUGH TRANSLATING CULTURAL IDENTITY IN FORMAL DOCUMENTS: A CASE STUDY OF UNESCO AGREEMENTS

Ahmad Syafran, Dr. Ni Gusti Ayu Roselani, M.A.

2025 | Tesis | S2 Linguistik

Penelitian ini mengkaji dilema penerjemah dalam menerjemahkan identitas budaya Indonesia dalam dokumen resmi UNESCO dengan dua strategi utama: resistensi (istilah sumber dipertahankan) dan negosiasi (istilah diadaptasi agar dapat dipahami pembaca asing). Dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis komparatif terhadap 417 halaman perjanjian UNESCO, istilah budaya dikategorikan ke dalam klasifikasi, kesenian, kepercayaan, institusi, dan bidang terkait lainnya. Temuan menunjukkan bahwa resistensi lebih banyak digunakan (76,62%) dibandingkan negosiasi (23,38%). Strategi resistensi dominan pada kategori klasifikasi, seni, dan kepercayaan; misalnya, istilah Gamelan Ageng dan Ninik Mamak tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian budaya. Sebaliknya, negosiasi sering muncul dalam kategori klasifikasi, seni, dan institusi; contohnya, bersilaturahmi dan bermusafahah diterjemahkan menjadi meet and greet untuk memperjelas makna. Faktor pendorong meliputi makna simbolik istilah budaya, konteks sosio-historis, perbedaan struktural antarbahasa, dan karakteristik audiens. Implikasi penelitian ini mencakup meningkatnya wawasan budaya bagi pembaca internasional sekaligus risiko distorsi makna akibat domestikasi berlebihan. Kesimpulannya, penerjemahan budaya harus mempertimbangkan pendekatan seimbang untuk mempertahankan keaslian budaya sembari memastikan keterbacaan teks terjemahan. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai panduan bagi penerjemah dan pembuat kebijakan dalam menyusun terjemahan dokumen internasional yang sensitif terhadap konteks budaya. Penelitian ini memberikan wawasan teoretis dan praktis yang penting bagi studi penerjemahan budaya.

 

This study examines the translator’s dilemma in conveying Indonesian cultural identity within official UNESCO documents, focusing on two primary strategies: resistance (retaining source terms) and negotiation (adapting terms for target readers). Using a qualitative descriptive and comparative approach, we analyzed 417 pages of UNESCO heritage agreement texts in Indonesian and their English translations. Cultural were categorized into themes such as classification, art, belief, institution, and elements such as knwoledge, material, language, and behavior. Findings show that resistance predominates (76.62% of cases), especially in classification, art, and belief categories. Examples include retaining Gamelan Ageng and Ninik Mamak to preserve authenticity. Negotiation appears in 23.38% of cases, notably in classification, art, and institutions; for instance, bersilaturahmi dan bermusafahah is rendered as meet and greet for clarity. Key driving factors include the symbolic weight of terms, socio-historical context, structural language differences, and target-audience familiarity. The implications are twofold: foreignization preserves cultural uniqueness and legitimacy, enriching international readers’ cultural insight, whereas domestication improves readability but risks diluting meaning. In conclusion, the study highlights the need for a balanced translation strategy (e.g., maintaining key terms with explanations) to uphold cultural authenticity while ensuring comprehension. The findings offer valuable insights for translators and policymakers and underscore translation’s role as cultural diplomacy

Kata Kunci : resistensi budaya, negosiasi budaya, dokumen UNESCO, transfer budaya

  1. S2-2025-527092-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527092-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527092-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527092-title.pdf