Keanekaragaman Spesies dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat oleh Masyarakat Desa Adat Suku Toraja Sulawesi Selatan
Esmar Sidang Mangalik, Prof. Dr. Ratna Susandarini, M.Sc.
2025 | Tesis | S2 Biologi
Tumbuhan obat memegang peranan penting dalam praktik pengobatan tradisional masyarakat Suku Toraja, Sulawesi Selatan. Daerah yang terletak di zona Wallacea ini, kaya akan keanekaragaman hayati dan pengetahuan lokal tentang pemanfaatan tumbuhan terutama untuk pengobatan. Pendekatan etnobotani melalui dokumentasi keanekaragaman spesies tumbuhan obat dan pemanfaatannya penting untuk mengungkap potensi sumber daya lokal serta melestarikan pengetahuan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman spesies tumbuhan obat dan pola pemanfaatannya dalam pengobatan tradisional masyarakat Toraja. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan 42 informan yang terdiri dari 23 laki-laki dan 19 perempuan, yang dipilih melalui metode Snowball Sampling dan Purposive Sampling. Eksplorasi lapangan dilakukan untuk mendokumentasikan dan mengumpulkan sampel guna identifikasi serta pembuatan spesimen herbarium. Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif dan kuantitatif menggunakan indikator Use Value (UV), Fidelity Level (FL), dan Informant Consensus Factor (ICF). Data fitokimia diperoleh melalui tinjauan literatur pada basis data Science Direct, Scopus, PubMed, dan Google Scholar. Hasil penelitian mengidentifikasi 133 spesies tumbuhan obat dari 56 famili, dengan famili terbanyak adalah Zingiberaceae (11 spesies) dan Asteraceae (10 spesies). Bagian tumbuhan yang paling sering digunakan adalah daun (48%) dan habitus tumbuhan yang dominan yaitu herba (45%). Penyakit yang paling umum diobati adalah gangguan pencernaan (20%) dan metode pengolahan yang paling banyak digunakan adalah merebus (41%). Spesies dengan nilai UV tertinggi adalah Ageratum conyzoides (0,83) dan Chromolaena odorata (0,79), sedangkan spesies dengan nilai FL tertinggi adalah Strobilanthes crispa untuk pengobatan gangguan kesehatan ginjal dan Sechium edule untuk pengobatan hipertensi (100%). Kategori penyakit dengan nilai ICF tertinggi adalah pendarahan dan mimisan menggunakan Centella asiatica (1) dan panas dalam menggunakan Jatropha curcas (0,82). Analisis fitokimia menunjukkan senyawa dominan dalam tumbuhan obat yang digunakan adalah flavonoid (quercetin, kaempferol, myricetin, luteolin, rutin, catechin, apigenin, vitexin, isovitexin) dan terpenoid (phytol, squalene, limonoid, ?-carotene, carvacrol, momordicin, xanthorrhizol), yang diketahui memiliki aktivitas farmakologis seperti antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, antidiabetes, antiulser, imunodulator, antihipertensi, antihiperlipidemik, antimalaria, dan antikanker. Penelitian ini mengungkap pemahaman mendalam masyarakat Toraja terhadap pemanfaatan tumbuhan obat serta pentingnya konservasi keanekaragaman hayati dan pengetahuan tradisional dalam mendukung pemanfaatan secara berkelanjutan.
Medicinal plants play a significant role in the traditional healing practices of the Toraja people in South Sulawesi. Located within the Wallacea zone, this region is rich in biodiversity and local knowledge regarding the use of plants, particularly for medicinal purposes. An ethnobotanical approach through the documentation of medicinal plant species diversity and their uses is essential to uncover the potential of local resources and preserve traditional knowledge. This study aims to identify the diversity of medicinal plant species and their utilization patterns in the traditional medicine of the Toraja community. Data were collected through semi-structured interviews with 42 informants 23 men and 19 women selected using Snowball Sampling and Purposive Sampling methods. Field explorations were conducted to document and collect samples for species identification and herbarium specimen preparation. Data analysis was carried out both qualitatively and quantitatively using indicators such as Use Value (UV), Fidelity Level (FL), and Informant Consensus Factor (ICF). Phytochemical data were obtained through literature reviews from databases including Science Direct, Scopus, PubMed, and Google Scholar. The study identified 133 medicinal plant species belonging to 56 families, with Zingiberaceae (11 species) and Asteraceae (10 species) being the most represented. Leaves were the most commonly used plant part (48%), and herbs were the dominant growth form (45%). The most commonly treated ailments were digestive disorders (20%), and the most frequently used preparation method was boiling (41%). The species with the highest UV were Ageratum conyzoides (0.83) and Chromolaena odorata (0.79), while the species with the highest FL were Strobilanthes crispa for treating kidney disorders and Sechium edule for hypertension (100%). Disease categories with the highest ICF values were bleeding and nosebleeds treated with Centella asiatica (1), and internal heat treated with Jatropha curcas (0.82). Phytochemical analysis revealed that the dominant compounds in the medicinal plants used were flavonoids (quercetin, kaempferol, myricetin, luteolin, rutin, catechin, apigenin, vitexin, isovitexin) and terpenoids (phytol, squalene, limonoid, ?-carotene, carvacrol, momordicin, xanthorrhizol), which are known to possess pharmacological activities such as antibacterial, anti-inflammatory, antioxidant, antidiabetic, anti-ulcer, immunomodulatory, antihypertensive, antihyperlipidemic, antimalarial, and anticancer properties. This research highlights the Toraja community's in-depth understanding of medicinal plant use and underscores the importance of conserving biodiversity and traditional knowledge to support sustainable utilization.
Kata Kunci : Diversitas, Etnobotani, Pengetahuan tradisional, Tumbuhan obat