Laporkan Masalah

Peran Transfer Rumah Tangga Orang Tua terhadap Perilaku Transfer Rumah Tangga Anak

Apoh Ibrahim Saragih, Prof. Dr. Sukamdi, M.Sc.; Elan Satriawan, M.Ec., Ph.D.; Dr. Agr. Evita Hanie Pangaribowo, S.E., M.IDEC.

2024 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN

Pemahaman empiris mengenai karakteristik dan hubungan transfer antar rumah tangga di Indonesia khususnya yang berfokus pada pengaruh transfer orang tua (origin) terhadap transfer generasi berikutnya (split off) masih sedikit. Fokus banyak ditujukan pada hubungan transfer antar rumah tangga dengan transfer dari pemerintah seperti crowding-out effect yang menggerus modal sosial tersebut. Termasuk pada upaya-upaya pengumpulan dana sosial melalui aplikasi-aplikasi yang bergabung dengan unicorn sehingga jangkauannya menjadi tak terbatas dan menawarkan kemudahan berdonasi, transparansi penggunaan dana dan anonimitas. Hasil survei rutin skala internasional oleh Charity Foundation International yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling giving di dunia (2017) semakin memperkuat urgensi analisis karakteristik dan hubungan transfer antar rumah tangga di Indonesia secara empiris. Minimnya penelitian terkait karena terbatasnya data transfer privat. Salah satu institusi yang seharusnya dapat menjadi sumber data analisis ini adalah Badan Amil Zakat Nasional. Namun rendahnya tingkat partisipasi masyarakat berdonasi (berzakat, infaq dan sedekah) tidak dapat digunakan untuk menganalisis hubungan transfer tersebut. Pemahaman empiris ini sangat strategis dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Pola ini telah dan sedang dipraktekkan secara global sesuai dengan karakteristik negaranya masing-masing. Salah satu data yang sangat lengkap untuk menganalisa masalah ini adalah Indonesia Family Lifetime Survey (IFLS). Survei ini merupakan data panel mengenai berbagai topik mengenai rumah tangga (termasuk transfer rumah tangga) dan fasilitas masyarakat di Indonesia sejak tahun 1993 - 2014 dan terus berlangsung sampai sekarang. Data dengan sampel yang sangat banyak dan lengkap ini memberikan ruang untuk lebih memahami karakteristik transfer rumah tangga di Indonesia. Hasil penelitian empiris termutakhir mengenai hubungan transfer antar generasi di Indonesia yang menggunakan IFLS (Partha Deb dan rekan, 2010) menemukan bahwa terdapat role model yang positif dari origin terhadap split off di Indonesia. Artinya semakin besar transfer (moneter) origin maka semakin besar pula transfer split off. Hubungan ini disebut gotong royong yang merupakan karakteristik bangsa yang saling tolong menolong. Namun metodologi yang digunakan dalam penelitian ini kurang relevan dengan teori yang mendasarinya. Contohnya adalah penggunaan data transfer origin dan split off pada tahun yang sama (IFLS 1997) untuk melihat pengaruh orang tua terhadap rumah tangga anaknya. Penelitian disertasi ini merelaksasi asumsi sebelumnya yakni bahwa keputusan transfer origin dan split off bersifat independen. Artinya data transfer pada tahun yang berbeda memberikan waktu observasi bagi anak maupun upaya transmisi nilai-nilai dari orang tua. Selain itu, penelitian ini menganalisis transfer ke rumah tangga asing yang sebelumnya belum diteliti. Jenis transfer ini bermotif lebih murni dibandingkan jenis transfer lain seperti transfer ke rumah tangga kerabat atau transfer ke lembaga kemasyarakatan. Ketersediaan data panel pada IFLS sejak tahun 1994-2014 juga dioptimalkan penggunaannya dengan mentransformasi data-data tersebut menjadi data yang secara statistik menggambarkan perilaku transfer origin dan split off secara umum. Asumsi endogenitas pada variabel transfer origin dalam persamaan transfer split off dan penggunaan adanya jeda waktu observasi perilaku transfer origin oleh split off turut memberikan hasil penelitian role model yang berbeda. Role model orang tua terhadap anaknya dalam konteks transfer rumah tangga di Indonesia mempunyai pola yang tidak seragam, namun akan spesifik sesuai dengan jenis transfer dan tujuan transfer. Pada generasi anak, definisi rumah tangga kerabat dan rumah tangga asing cenderung tidak berbeda sangat jauh. Perilaku transfer mereka cenderung sama ke kedua jenis rumah tangga ini. Hal ini dibuktikan dengan komposisi suatu rumah tangga di Indonesia yang secara rata-rata terdapat anggota rumah tangga yang bukan keluarga inti. Ketidakseragaman pola role model transfer origin ke transfer split off merupakan indikator adanya hal-hal yang tidak terobservasi dalam data/kuesioner yang digunakan. Korelasi faktor-faktor yang tidak terobservasi tersebut bernilai positif dan signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan komplementer antara jenis transfer baik dalam satu generasi maupun antar generasi (meskipun hubungannya semakin melemah). Penelitian ini merekomendasikan metode penelitian yang mengasumsikan endogenitas variabel transfer RT orang tua dan adanya jeda waktu untuk observasi anak pada penentuan pasangan orang tua - anak untuk memperkuat pentingnya menerapkan metode penelitian tersebut pada teori role model atau yang berkaitan dengan teori ini. Selain itu, para pemangku kepentingan modal sosial (pemerintah, lembaga pengumpul dana masyarakat untuk kemanusiaan, lembaga keagamaan) dapat memanfaatkan semakin mandirinya RT anak dalam menentukan tujuan transfer RT mereka. Lembaga-lembaga tersebut dapat memperhatikan variabel sosio-ekonomi yang signifikan mempengaruhi jumlah transfer RT anak seperti usia, pengeluaran per kapita dan status pernikahan, jenis kelamin kepada RT dan ukuran RT. Selain variabel tersebut, pengaruh transfer RT orang tua yang sangat kuat terhadap transfer RT asing merupakan modal yang kuat yang sudah dimiliki oleh masyarakat Indonesia untuk memperkuat gotong royong dengan mengarahkan transfer tersebut ke orang yang paling membutuhkan.

There is little empirical understanding regarding the characteristics and relationships between household transfers in Indonesia, especially those that focus on the influence of parental transfers (origin) on transfers from the next generation (split off). Much of the focus is on the relationship between these transfers and transfers from the government, such as the crowding-out effect that erodes social capital. The focus is also on efforts to collect social funds through simple and friendly applications and offering transparency and anonymity simultaneously. The Charity Foundation International ranked Indonesia as the most giving country globally (2017), indicating the urgency of empirical analysis of characteristics and relationships between household transfers in Indonesia. The lack of related research is due to limited private transfer data. One of the institutions that should be a solution for this analysis is the National Zakat Amil Agency. However, this agency informs that the level of community participation in donations (zakat, infaq, and alms) is insufficient for the analysis. This empirical understanding is very strategic in efforts to reduce poverty in Indonesia. This pattern has been and is being practiced globally according to the characteristics of each country. One of the most complete data to analyze this problem is the Indonesia Family Lifetime Survey (IFLS). This survey is panel data on various topics regarding households (including household transfers) and community facilities in Indonesia from 1993 to 2014 and continues until now. The latest empirical research on the relationship between generational transfers in Indonesia using IFLS (Partha Deb and colleagues, 2010) found a positive role model from origin to split off in Indonesia, meaning the substantial the origin (monetary) transfer, the substantial the split-off transfer. This relationship is called gotong royong, a characteristic of Indonesians that means helping each other. However, the methodology used in this research is less relevant to the underlying theory. An example is the use of transfer origin and split-off data in the same year (IFLS 1997) to see the influence of parents on their children's households. This dissertation research relaxes previous assumptions, namely that transfer origin and split-off decisions are independent. Data transfer in different years provides observation time for children and efforts to transmit values from parents. In addition, this study analyzes transfers to foreign households with a purer motive than other transfers (transfers to relatives or social institutions). The availability of panel data in IFLS from 1994-2014 is suitable for this research by transforming the data into data that statistically describes the behavior of transfer origins and split-offs in general. The assumption of endogeneity in the transfer origin variable in the split-off transfer equation and usage of a time lag in observing origin transfer behavior by split-off also provide different role model research results. The role model of parents towards their children in the context of household transfers in Indonesia has a pattern that is not uniform but will be specific according to the type of transfer and its purpose. In the children's generation, the definitions of relatives and strangers households tend not to differ significantly. Their transfer behavior tends to be the same across these two types. A household in Indonesia consists of not only nuclear families but also others. The lack of uniformity in the role model pattern of origin transfer to split-off transfer indicates unobserved variables in the data/questionnaire used. The correlation of these unobserved factors is positive and significant, signaling a complementary relationship between types of transfer both within one generation and between generations (although the relationship is getting weaker). This study recommends a research method that assumes the endogeneity of the parental RT transfer variable and a time lag for child observations in determining parent-child pairs to strengthen the importance of applying this research method to role model theory or those related to this theory. In addition, social capital stakeholders (government, community fund-raising institutions for humanity, religious institutions) can take advantage of the increasing independence of children's RTs in determining the goals of their RT transfers. These institutions can pay attention to socio-economic variables that significantly influence the number of RT transfers for children such as age, per capita expenditure and marital status, gender to the RT and size of the RT. Apart from these variables, the substantial influence of parental RT transfers on foreign RT transfers is a significant capital that the Indonesian people already have to strengthen mutual cooperation by directing these transfers to people who need it most.

Kata Kunci : transfer rumah tangga, role model, endogenitas

  1. S3-2024-450499-abstract.pdf  
  2. S3-2024-450499-bibliography.pdf  
  3. S3-2024-450499-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2024-450499-title.pdf