HUBUNGAN LETAK RUMAH SAKIT TERHADAP POLA SEBARAN, AKSESIBILITAS SPASIAL, DAN INFRASTRUKTUR SANITASI (Studi Kasus Kota Yogyakarta Masa Kolonial (1901-1929))
Vivi Sandra Sari, Dr. Fahmi Prihantoro, M.A.
2025 | Tesis | S2 Arkeologi
Penelitian ini mengkaji dinamika pendirian rumah sakit dalam konteks tata ruang kota Yogyakarta periode tahun 1901-1929, dengan fokus pada pola sebaran, aksesibilitas spasial, dan korelasi terhadap infrastruktur sanitasi. Penelitian ini menggunakan kajian arkeologi sejarah, memanfaatkan data arkeologi berupa bangunan rumah sakit kolonial dan data sejarah berupa peta dan arsip. Analisis dilakukan dengan teknik analisis tetangga terdekat untuk rekonstruksi pola sebaran, buffer analysis untuk rekonstruksi aksesibilitas spasial, serta pemetaan dan perhitungan distance to nearest hub pada infrastruktur sanitasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1901 hanya terdapat satu rumah sakit yaitu Zendingsziekenhuis Petronella. Jumlah tersebut bertambah menjadi 7 pada 1929 setelah pendirian Hulpziekenhuiz Toengkak (1904), Militaire Hospital (1913), Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders (1923), Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah (1923), Klinik Zuster Prins (1926), dan Ziekenhuis Onder de Bogen (1929). Pola sebaran rumah sakit bersifat acak, menunjukkan upaya distribusi fasilitas dan menghindari konsentrasi bangunan di satu wilayah. Aksesibilitas spasial rumah sakit pada 1901 masih terbatas, namun pada tahun 1929 hampir mencakup seluruh kota. Selain itu, ketersediaan infrastruktur transportasi turut mendukung aksesibilitas spasial. Rumah sakit umumnya terletak dekat sungai, pipa air bersih, dan saluran limbah, menunjukkan keterkaitan dengan infrastruktur sanitasi.
Rumah sakit, sebagai unsur perkotaan yang dibawa oleh pengaruh kolonial memiliki implikasi secara spasial, tercermin pada strategi pemanfaatan ruang, kesenjangan layanan, dan ekspansi permukiman. Keterlibatan berbagai entitas dalam pendirian rumah sakit menunjukkan dinamika sosial-budaya. Dengan demikian, penelitian ini membuka wawasan bahwa rumah sakit merupakan artefak urban, berfungsi sebagai fasilitas kesehatan sekaligus menyimpan jejak perubahan sosial dan spasial dalam sejarah kota.
This thesis examines the dynamics of hospital establishment within the context of urban spatial planning in Yogyakarta between 1901 and 1929. It focuses on distribution patterns, spatial accessibility and the correlation with sanitation infrastructure. A historical archaeology approach was adopted for this research, utilising archaeological data from hospital buildings and historical data such as maps and archival documents. The analysis was conducted using nearest neighbor analysis techniques to reconstruct distribution patterns, buffer analysis to reconstruct spatial accessibility, as well as mapping and calculating the distance to the nearest hub of sanitation infrastructure.
The results show that in 1901 there was only one hospital in the city, the Zendingsziekenhuis Petronella. The number increased to 7 in 1929, after the establishment of Hulpziekenhuiz Toengkak (1904), Militaire Hospital (1913), Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders (1923), Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) Muhammadiyah (1923), Klinik Zuster Prins (1926) and Ziekenhuis Onder de Bogen (1929). The pattern of hospital distribution is random, indicating an effort to distribute facilities and avoid concentration of buildings in one area. While the spatial accessibility of hospitals was limited in 1901, by 1929 it had extended almost throughout the city. In addition, the availability of transportation infrastructure also supported spatial accessibility. Hospitals were typically located near rivers, clean water pipes, and drainage lines, suggesting a connection to sanitation infrastructure.
As urban elements introduced under colonial influence, hospitals had broader spatial implications, which are reflected in strategies for spatial use, service gaps and settlement expansion. The involvement of various entities in the establishment of the hospital shows the socio-cultural dynamics. Thus, this research provided insights into how hospitals are urban artefacts, functioning as health facilities while keeping traces of social and spatial changes in the city's history.
Kata Kunci : hospital, historical archaeology, distribution pattern, spatial accessibility, sanitation infrastructure