Pola Pergerakan dan Wilayah Jelajah Bungarus candidus (Linnaeus, 1758) dan Bungarus fasciatus (Schneider, 1801) di Kampung satwa
Ananto Puradi Nainggolan, Dr. Rury Eprilurahman, S.Si., M.Sc., Dr. Syahfitri Anita, M.Si.
2025 | Tesis | S2 Biologi
Perkembangan aktivitas manusia mengubah struktur habitat secara drastis sehingga memicu perubahan berbagai aspek biologi hewan, dalam hal ini ular. Ular merupakan salah satu kelompok hewan yang perlu dilindungi karena terancam oleh tekanan antropogenik dan mengalami konflik area dengan manusia. Hal ini menyebabkan risiko gigitan yang dapat merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mengenai pergerakan ular berbisa untuk menurunkan resiko konflik antara manusia dan ular. Pada studi ini dilakukan pengamatan terhadap Bungarus candidus dan Bungarus fasciatus di wilayah Kampung Satwa, Kecamatan Moyudan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode pengamatan dilakukan dengan pendekatan radiotelemetri yang dilakukan dengan penanaman implan cip pemancar pada ular dan kemudian pergerakannya diamati dari Juni hingga November 2024. Data radiotelemetri kemudian dianalisis dengan metode Point to Path dan Minimum Convex Polygon (MCP) untuk mendapatkan data area dan temporal. Hasil analisis menunjukkan perbedaan luas cakupan wilayah antara kedua spesies dimana Bungarus fasciatus memiliki luas jelajah yang lebih besar yaitu 1.471,90 m pada individu Fasciatus 1 dibandingkan dengan 176,51 m pada individu Candidus 1. Individu yang menetap di struktur buatan manusia lebih sering menghabiskan waktu di satu daerah tertentu seperti pada Candidus 1 yang hanya bergerak 7 kali selama 54 hari pengamatan dan sering menggunakan area kanal air. Hal ini mengindikasikan keberadaan struktur buatan manusia berpotensi mengganggu pergerakan alami ular dan meningkatkan mortalitas populasi. Analisis korelasi menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pola pergerakan ular dengan kelembapan dan suhu.
Human activity can alter habitat structure, triggering various changes in animal biological aspects, especially snakes. Transformed habitats require conservation action because they hold the same value as untransformed ones. Snakes are one animal group that needs preservation due to anthropogenic pressures and conflicts with humans in their habitats. This phenomenon presents risks of snakebites and harm to both parties. Thus, there is a need to understand venomous snake movement to prevent human-snake conflict. This research aimed to observe the movement and home range of snakes, Bungarus candidus and Bungarus fasciatus, in the vicinity of Kampung Satwa, Kecamatan Moyudan, Special Region of Yogyakarta. The observation method was performed using transmitter implantation into the snake's body, which was then monitored from June to November, 2024. Radiotelemetry data was analyzed using Point to Path and Minimum Convex Polygon (MCP) to illustrate its area and temporal movement. There is a difference in the home range area, with Bungarus fasciatus covering a larger area of 1,471.90 m2 in Fasciatus 1 compared to 176.51 m2 in Candidus 1. In both species, individuals that stay in human-made structures tend to spend more time in a particular place, such as Candidus 1, which moves seven times during a 54-day observation period, during which an individual spends time in a water canal. The presence of these structures can disrupt snake distribution and increase population mortality. Correlation analysis of temperature, humidity, and snake movement shows no significant results.
Kata Kunci : Home Range, Bungarus candidus, Bungarus fasciatus, radiotelemetri