Kontinuitas Melewati Era: Masyarakat Kampung dalam Dinamika Politik Kota Surabaya 1915-1958
Farandika Daneswara, Dr. Farabi Fakih, M.Phil.
2025 | Tesis | S2 Sejarah
Penelitian ini berfokus pada faktor yang melatarbelakangi para masyarakat kampung di Kota Surabaya berani untuk mengekspresikan sikap resistennya pada Pemerintah Kota Surabaya maupun elite-elite politik kota sejak era rezim kolonial hingga era demokrasi konstitusional (1915-1958). Penelitian ini berusaha melihat dan memfokuskan pada “keaktifan” masyarakat kampung di Kota Surabaya sebagai subjek politik dalam dinamika politik kota, sejak dari periode kebangkitan nasional (1908-1942) dengan kesadaran emansipatorisnya, periode Jepang, kemerdekaan dan revolusi Indonesia (1942-1949) dengan praktik militerisme dan konfliknya, dan demokrasi konstitusional (1950-1957) dengan tradisi liberalisme klasiknya yang ternyata saling “berkesinambungan”, terlihat dari kesamaan budaya politik dan “karakteristik” yang dimiliki masyarakat kampung di Kota Surabaya itu sendiri, demi memperjuangkan problematika kampung yang belum juga terselesaikan.
Menggunakan metode sejarah, penelitian ini memanfaatkan sumber-sumber sejarah berupa surat-surat kabar dan arsip-arsip Kota Surabaya yang menyebutkan aktivitas-aktivitas politik masyarakat kampung di sana. Setelah itu, lantas dilakukan verifikasi dan interpretasi atas pelbagai temuan fakta tersebut. Dari sini kemudian mengonstruksi secara kronologis proses transformasi masyarakat kampung di Kota Surabaya menjadi wujud pengorganisasian berbasis komunitas serta praktik budaya politik populisme kiri yang sudah muncul sejak 1915, sehingga dapat menemukan benang merah dari setiap era yang pernah dilalui oleh masyarakat kampung perihal politik kota hingga 1958 ketika Kota Surabaya berganti rezim.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberanian masyarakat kampung di Kota Surabaya dalam mengekspresikan sikap resistennya terhadap pemerintah kota maupun elite-elite politik adalah pengimplementasian budaya politik populisme kiri dengan karakteristik “komunis” berupa pandangan realistis-materialistik, sikap radikal-revolusionernya, serta pengejawantahan transformasi masyarakat kampung Kota Surabaya menjadi wujud pengorganisasian berbasis komunitas yang memiliki legitimasi politik kuat. Validasi Kota Surabaya sebagai “kota bergejolak” serta “kota merah” tidak hanya berasal dari manuver partai dan elite politik semata, tetapi juga budaya politik dan “karakteristik” masyarakat kampung di Kota Surabaya itu sendiri sebagai sumber radikalisme Kota Surabaya.
This research focuses on factors behind the courage of the kampong society in Surabaya in expressing their resistance to Surabaya city government and city’s political elites since the colonial regime era to the constitutional democracy era (1915-1958). This research attempts to see and focus on the “activeness” of the kampong society in Surabaya as political subjects in the dynamics of city politics since since the period of national awakening (1908-1942) with its emancipatory awareness, the Japanese period, independence and Indonesian Revolution (1942-1949) with its militarism practices and conflicts, and the constitutional democracy (1950-1957) with classical liberalism tradition which turned out to be “continuous”, as seen from similarites in political culture and “characteristic” possessed by the kampong society in Surabaya themselves, in order to fight for problems of their kampong that have not been resolved.
Using historical methods, this research utilizes many historical sources like newspapers and archives of Surabaya city which mention political activities of the kampong society there. After that, verification and interpretation of various findings of facts were carried out. From here, chronological construction of transformation process of the kampong society in Surabaya city into a form of community-based organizing and the practice of left populism as political culture that has emerged since 1915 was carried out, so that we can find a common thread from each era that kampong society has gone through regarding city politics until 1958 when Surabaya changed regime.
This research concludes that the courage of kampong society in Surabaya in expressing their resistance to city government and political elites is implementation of left populism as a political culture with “communist” characteristic in the form of realistic-materialistic views, radical-revolutionary attitude and embodiment of kampong’s society transformation into a form of community-based organizing that has strong political legitimacy. The validation of Surabaya as a “turnmoil city” and a “red city” does not only came from political parties and elites maneuvers, but also political culture and “characteristics” of the kampung society in Surabaya as a source of radicalism in the city.
Kata Kunci : masyarakat kampung, Kota Surabaya, pengorganisasian berbasis komunitas, populisme kiri