TUMBUHAN UNTUK PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN MALARIA OLEH MASYARAKAT SUKU SUMBA NUSA TENGGARA TIMUR
Oktafina Mone, Prof. Dr. Purnomo, M.S.;Abdul Razaq Chasani, S.Si., M.Si., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Biologi
Malaria merupakan penyakit tropis yang hingga saat ini masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Sumba Barat Daya merupakan salah satu bagian dari Indonesia bagian Timur yang tercatat sebagai daerah dengan kasus endemis malaria yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk; mengidentifikasi spesies tumbuhan untuk pencegahan dan pengobatan malaria, mengidentifikasi bagian tumbuhan yang digunakan, menganalisis Use Index Value (UVi), Fidelity Level (FL), Relative Frequency of Citation (RFC) setiap spesies tumbuhan, dan mengidentifikasi jenis senyawa metabolit sekunder yang berperan. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dengan metode snowball sampling dan purposive sampling untuk pemilihan responden, observasi lapangan, dokumentasi, analisis kuantitatif dengan menghitung nilai UVi, FL, dan RFC setiap spesies tumbuhan. Pengumpulan lima sampel tumbuhan dengan nilai UVi rendah dilakukan untuk diskrining fitokimianya menggunakan Gas Chromatography Mass Spektrometri (GC-MS). Analisis data secara kualitatif dengan profiling fitokimia dan efeknya dalam pencegahan dan pengobatan malaria dilakukan berdasarkan tinjauan literatur. Hasilnya diperoleh 43 spesies tumbuhan yang termasuk dalam 32 famili. Famili Fabaceae dan Meliaceae merupakan famili dengan spesies terbanyak. Daun merupakan organ tumbuhan yang dominan digunakan (40%). Spesies Carica papaya dan Momordica balsamina memiliki nilai UVi tertinggi, Carica papaya juga memiliki nilai RFC tertinggi, Nilai FL tertinggi diperoleh pada 24 spesies tumbuhan yang telah digunakan secara eksklusif sebagai pengobatan malaria. Golongan senyawa polifenol merupakan senyawa yang paling dominan ditemukan, namun alkaloid yang paling umum diketahui sebagai agen pengobatan malaria. Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik etnomedisin memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Tumbuhan obat yang digunakan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai alternatif pengobatan modern. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian dan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas serta keamanan penggunaannya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pelestarian keanekaragaman hayati serta peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya di Pulau Sumba.
Malaria is a tropical disease that remains a major public health issue in Indonesia. Southwest Sumba is one of the regions in Eastern Indonesia recorded as having a high incidence of endemic malaria cases. This study aims to: identify plant species used for the prevention and treatment of malaria, identify the plant parts used, analyze the Use Value Index (UVi), Fidelity Level (FL), and Relative Frequency of Citation (RFC) of each plant species, and identify the types of secondary metabolite compounds involved. This research employed semi-structured interview techniques with snowball and purposive sampling methods for respondent selection, field observation, documentation, and quantitative analysis by calculating the UVi, FL, and RFC of each plant species. Five plant samples with low UVi values were collected for phytochemical screening using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Qualitative data analysis was conducted through phytochemical profiling and a literature-based review of their effects on malaria prevention and treatment. The results revealed 43 plant species belonging to 32 families. The Fabaceae and Meliaceae families had the highest number of species. Leaves were the most commonly used plant part (40%). Carica papaya and Momordica balsamina had the highest UVi values, with Carica papaya also having the highest RFC value. The highest FL values were recorded for 24 plant species that had been exclusively used in malaria treatment. Polyphenol compounds were the most frequently identified group, although alkaloids are the most commonly known agents for malaria treatment. This study demonstrates that ethnomedicinal practices play an important role in the lives of local communities. The medicinal plants used have the potential to be further developed as alternatives to modern medicine. Therefore, efforts in conservation and further research on the effectiveness and safety of these plants are essential.
The contribution of this study lies in the preservation of biodiversity and the improvement of public health, particularly in Sumba Island.
Kata Kunci : Kata kunci: etnobotani, etnomedisin, anti-malaria, fitokimia, GC-MS/Keywords: ethnobotany, ethnomedicine, anti-malaria, phytochemistry, GC-MS