Laporkan Masalah

Lengger Banyumas as a Living Organism - Rites de Passage of an Art through Performance, Gender, and Community

Dobrin Tsvetanov Bugov, Dr. Pande Made Kutanegara, M.Si. ; Dr. Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang, M.A.

2025 | Disertasi | S3 Antropologi

Lengger merupakan tari Jawa populer yang mempertemukan penari, masyarakat, dan dewa-dewi dalam pertunjukan yang sungguh lincah dan penuh godaan. Lengger menawarkan ruang yang luas bagi pengalaman, kreativitas, dan ekspresi. Ruang lengger bersifat liminal, artinya bersifat temporal dan terbatas, menawarkan ruang yang aman bagi individu untuk melarikan diri dari struktur masyarakat lalu mengalami momen-momen liminal dan ambigu. Posisi individu dalam liminal juga memengaruhi dinamika seni, yang dapat dilihat dari cara seninya berubah dalam waktu, maka pertanyaan penelitiannya: Mengapa lengger Banyumas dapat dikatakan sebagai organisme yang hidup? Disertasi ini bersifat karya kualitatif-deskriptif dengan pendekatan etnografi. Penulis melakukan pengumpulan dan analisisnya secara bersamaan dengan empat jangka waktu yang telah dijelaskan secara rinci di isi naskah ini. Data terdiri dari sumber primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi, partisipasi aktif, serta wawancara mendalam yang bersifat formal dan semi-formal dengan aneka narasumber, seperti seniman lengger, pejabat pemerintah, praktisi budaya di daerah Banyumas Raya, Jawa Tengah, Indonesia. Wawancara dilakukan dengan orang-orang yang mengetahui dan memiliki pengetahuan tentang lengger, dan difokuskan pada sejarah, dinamika, dan eksistensi lengger. Wawancara tersebut mendukung argumentasi di empat bab inti dari karya ini, yakni sejarah, pertunjukan, gender, dan komunitas. Data visual juga berperan penting dalam karya ini guna menunjukkan kekayaan seni serta mendukung argumen di beberapa bab. Data sekunder diperoleh melalui berbagai sumber pustaka - buku, jurnal, artikel, laporan, dan situs web. Disertasi ini menyoroti kondisi dinamis seni tari terkini, yang menyatakan bahwa seni lengger Banyumas berfungsi sebagai organisme yang hidup. Peneliti membahas empat unsur penting yang memberikan temuan baru terhadap dinamika lengger Banyumas. Yang pertama, cikal bakal seni lengger yang meliputi soal sejarah, definisi, spiritualitas dan terminologi. Kedua, lengger hadir dalam ruang liminal melalui pertunjukannya, pemahaman gender, dan komunitasnya, yang semuanya telah memengaruhi dinamikanya. Telah ditemukan setidaknya sembilan macam pertunjukkan lengger yang masing-masing unik. Dalam aspek gender, lengger terlah menyediakan ruang terbuka untuk ekspresi, representasi gender dan operasionalisasinya bagi dua jenis kelamin. Ruang tersebut telah memengaruhi pada para individu dengan memberikan peluang untuk mengalami yang luar biasa, di luar struktur sosial yang agamis dan ketat. Terakhir, ruang liminal merupakan prasyarat untuk membentuknya komunitas lengger.Pembentukan komunitas lengger dalam bentuk Rumah Lengger Banyumas, proyek, dan aneka acara berkontribusi pada pelestarian seni lengger, yang sifatnya menjadi lebih profan dan praktis. 


Lengger is a popular dance tradition where the connection between the dancer, society and the Divine comes together in a coquettish and energetic performances. Lengger offers room for experience, creativity and expressiveness. This room is strictly liminal, meaning its temporal and limited, offering a safe space for individuals to run away from the structured society and experience the liminal and fleeting moments of ambiguity. The positioning of the individual in the liminal also influences the arts dynamics, further transforming and regenerating it, suggesting that it’s a living organism facing numerous moments of change, or rites de passage. Hence, the question of this study: Why is it important to consider Lengger Banyumas as a living organism? This dissertation is a qualitative-descriptive work using an ethnographic approach. The author carried out data collection and analysis simultaneously. The data used is comprised of primary and secondary sources. The primary data in this study were obtained through direct and in-depth observation and participation, interviews with lengger artists, government people, and cultural practitioners in Banyumas, Central Java. The interviews were conducted with people who are aware and possess knowledge towards lengger, and were focused on the history, dynamics and lengger’s existence. Visual data is also present in the current work to show the richness and versatility of the art, and support arguments. Secondary data was obtained through various literature sources – such as books, journals, articles, reports, and websites. This dissertation highlights the current dynamic conditions of the art, suggesting that it functions as a living organism that undergoes rites de passage. Four important elements are discussed which provide new findings towards the art’s current dynamic. Firstly, a full account on the art of lengger is provided, which discusses broadly the nature of lengger in terms of its history, definition, spirituality and terminology. Secondly, the lengger exists in the liminal space through its performance, gender understanding and community, which all have resulted in changing aspects of its dynamics. The art adapted different approaches to the performance identifying at least nine varieties. In gender aspect the art has come to embrace both biological sexes and has granted space for gender representation. Lastly, the liminal space is prerequisite for the establishment of lengger community. The establishment of lengger community in the face of Rumah Lengger Banyumas, projects and events contribute to the preservation of the art, which nature is becoming more profane and practical, where commodification of the art is noticed. 

Kata Kunci : dance, lengger, community, gender, performance, Banyumas, liminality, rites de passage

  1. S3-2025-487125-abstract.pdf  
  2. S3-2025-487125-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-487125-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-487125-title.pdf