Laporkan Masalah

Menyuarakan Tradisi Dalam Bayang - bayang Konservasi : Konflik dan Resistensi Masyarakat Lamalera Terhadap Kebijakan Konservasi Laut Sawu Tahun 2000 - 2009

Marselinus Antonius Majo Tufan, Dr. Suripto, S.I.P., M.P.A

2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik

Penelitian ini membahas konflik antara kebijakan konservasi dan praktik penangkapan Paus tradisional Leva Nuang di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata. Kebijakan konservasi yang diterapkan oleh pemerintah dan aktor eksternal sering kali berbenturan dengan nilai-nilai budaya, sistem sosial, dan ketahanan ekonomi masyarakat lokal.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kerangka Policy Conflict Framework (PCF), penelitian ini menganalisis bentuk dinamika konflik yang terjadi, faktor penyebab dan dampaknya, eskalasi konflik dan resistensi masyarakat serta dinamika relasi antara aktor-aktor yang terlibat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan konservasi yang tidak partisipatif dan bersifat top down memicu penolakan aktif dari masyarakat Lamalera, yang merasa terpinggirkan secara kultural, sosial, dan ekonomi. Tradisi Leva Nuang bukan hanya simbol identitas budaya, tetapi juga pondasi dalam struktur sosial dan sumber utama penghidupan. Konflik ini mengindikasikan pentingnya pengakuan terhadap pengetahuan lokal dan pelibatan masyarakat dalam proses perumusan kebijakan agar tercipta solusi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Kegagalan kebijakan konservasi Laut Sawu dalam konteks Lamalera disebabkan oleh tidak adanya pelibatan masyarakat secara penuh, pengabaian terhadap nilai-nilai budaya lokal, dan dominasi aktor negara yang menciptakan ketimpangan relasi kuasa. Upaya konservasi yang tidak adaptif terhadap realitas sosial dan budaya justru memicu resistensi dan memperdalam konflik, menegaskan pentingnya pendekatan kebijakan yang inklusif dan berbasis kearifan lokal.

This study examines the conflict between conservation policies and the traditional whale hunting practice of Leva Nuang in Lamalera Village, Lembata Regency. Conservation policies implemented by the government and external actors often clash with the cultural values, social systems, and economic resilience of the local community.

Using a qualitative approach and the Policy Conflict Framework (PCF), this research analyzes the dynamics of the conflict, its root causes and impacts, the escalation of the conflict, community resistance, and the power relations among the actors involved.

The findings reveal that top-down and non-participatory conservation policies have triggered active rejection from the Lamalera community, who feel culturally, socially, and economically marginalized. The Leva Nuang tradition is not only a symbol of cultural identity but also a foundation of the social structure and a primary source of livelihood. This conflict underscores the importance of recognizing local knowledge and involving communities in policy-making processes to create more just and sustainable solutions.

The failure of the Sawu Sea conservation policy in the context of Lamalera stems from the lack of full community involvement, the disregard for local cultural values, and the dominance of state actors that generates unequal power relations. Conservation efforts that are not adaptive to social and cultural realities tend to provoke resistance and deepen conflict, highlighting the need for inclusive policies rooted in local wisdom.

Kata Kunci : Leva Nuang, kebijakan konservasi, konflik kebijakan, resistensi masyarakat, Lamalera.

  1. S2-2025-525931-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525931-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525931-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525931-title.pdf