Laporkan Masalah

Perspektif Mahasiswa Sarjana Kedokteran Tentang Keterampilan Komunikasi Informed Shared Decision Making dan Peer Feedback Terhadap Keterampilan Komunikasi

Mira Ayu Dian Raharjo, Prof.dr.Mora Claramita,MHPE.,Ph.D.Sp.KKLP (Sub COPC) ; dr. Rachmadya Nur Hidayah, MSc, PhD

2025 | Tesis | S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran

ABSTRAK

Latar Belakang: Komunikasi dalam pendidikan kedokteran dianggap sebagai keterampilan klinis dasar untuk membangun hubungan dengan pasien, yang membuka jalan untuk diagnosis dan pengobatan yang sukses. Salah satu tahap dalam komunikasi dokter-pasien yang harus dikuasai adalah informed shared decision making (ISDM). Dalam eksplorasi ISDM, pendekatan peer role play merupakan salah satu metode efektif yang dapat digunakan. Metode ini dikenal sebagai salah satu kerangka konseptual untuk mengeksplorasi kelayakan umpan balik dari teman sejawat untuk meningkatkan keterampilan komunikasi. Umpan balik dianggap sebagai elemen kunci dalam pengajaran keterampilan komunikasi. Namun, bukti empiris mengenai cara yang paling efektif untuk memberikan umpan balik guna meningkatkan keterampilan komunikasi pada mahasiswa kedokteran terbatas, terutama untuk keterampilan ISDM.


Tujuan: Untuk mengeksplorasi perspektif mahasiswa sarjana kedokteran mengenai keterampilan komunikasi, khususnya informed shared decision-making (ISDM) dan umpan balik dari teman sejawat (peer feedback)terkait keterampilan komunikasi tertentu, dengan memanfaatkan survei dan data yang dikumpulkan melalui diskusi kelompok yang terfokus (FGD).


Metode: Penelitian ini menggunakan desain metode campuran eksplanatori. Penelitian ini dimulai dengan metode survei berupa kuesioner yang disebarkan kepada 230 mahasiswa. Kuesioner tersebut disebarkan dalam bentuk G-Form dan terdiri dari 16 pertanyaan yang menggali perspektif mahasiswa terhadap 8 kompetensi dalam keterampilan ISDM, yang meliputi: kemitraan, informasi, peran, ide, pilihan, bukti, dan rencana. Setiap pertanyaan dinilai menggunakan skala 0, 1, dan 2, dengan total skor untuk seluruh elemen kompetensi berkisar antara 0 hingga 32. Selain itu, kuesioner ini juga berisi 20 pertanyaan yang mengkaji perspektif mahasiswa mengenai umpan balik sejawat terhadap keterampilan komunikasi. Ke-20 pertanyaan ini mencakup empat variabel, yaitu: efektivitas umpan balik sejawat, perspektif mahasiswa terhadap nilai umpan balik sejawat, serta perspektif mahasiswa mengenai prosedur pencatatan umpan balik sejawat. Setiap pertanyaan dinilai dengan skala 0, 1, dan 2, dengan total skor untuk seluruh pertanyaan berkisar antara 0 hingga 40. Survei ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok terfokus (FGD) yang melibatkan 30 mahasiswa yang dibagi dalam 3 kelompok FGD. FGD ini bertujuan untuk menggali perspektif mahasiswa kedokteran mengenai ISDM dan pandangan mereka terhadap umpan balik sejawat dalam keterampilan komunikasi.


Hasil: Berdasarkan data yang dikumpulkan, diperoleh 132 responden dengan tingkat respons 56% selama pengumpulan data menggunakan metode survei dan kuesioner. Berdasarkan data rata-rata survei mengenai perspektif mahasiswa terhadap keterampilan ISDM, responden memiliki mean total 24 dari skor maksimum 32. Mahasiswa memahami prinsip ISDM dan mendukung keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan, namun masih ada area yang perlu diperbaiki seperti, memberikan informasi yang jelas, membangun kemitraan dokter-pasien, dan mengatasi kekhawatiran pasien. Selain itu, mahasiswa tidak memprioritaskan untuk mempelajari keterampilan komunikasi, khususnya ISDM. Kesenjangan ini sebagian disebabkan oleh kurangnya penekanan pada keterampilan komunikasi ISDM dalam penilaian (OSCE), yang lebih mengutamakan keterampilan procedural. Terdapat serangkaian kompetensi ISDM yang sering untuk dilakukan, seperti: information, partnership, ideas, choices, evidence, desicion dan plan. Sedangkan yang meliputi aspek sulit untuk diterapkan dalam ISDM seperti: decision, ideas, dan evidence. Mahasiswa dapat mengidentifikasi hambatan seperti keterbatasan waktu, perbedaan budaya, dan kesulitan dalam membimbing pasien menuju informasi relevan serta mengelola preferensi pasien. Selain itu, mereka juga dapat mengidentifikasi tantangan seperti perbedaan perspektif antara dokter dan pasien atau keluarga pasien, saat pasien dan dokter menghadapi dilema etis terhadap diagnosa yang serius dan penguasaan kompetensi dalam menangani emosi pasien dan kewajiban untuk menyampaikan bukti ilmiah. Sedangkan, perspektif mahasiswa terhadap umpan balik sejawat terkait keterampilan komunikasi, 132 responden berpartisipasi dengan mean total 28,6 dari skor maksimum 40. Sebagian besar mahasiswa kedokteran merasa percaya diri dalam memberikan dan menerima umpan balik sejawat untuk meningkatkan keterampilan komunikasi. Namun, beberapa merasa keterampilan mereka masih belum optimal dan mencatat perbedaan signifikan antara umpan balik sejawat dan pengajar. Mahasiswa menganggap umpan balik pengajar lebih konstruktif, sementara umpan balik sejawat lebih terbuka dan mendukung diskusi. Kedua metode umpan balik dianggap saling melengkapi dalam mengatasi hambatan komunikasi, terutama dalam penerapan ISDM.


Kesimpulan: Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa meskipun mayoritas mahasiswa kedokteran sarjana memahami pentingnya keterampilan komunikasi dalam pembuatan keputusan bersama (ISDM), keterampilan ini sering kali tudak diprioritaskan. Hasil ini terjadi karena mahasiswa cenderung lebih fokus pada keterampilan klinis atau keterampilan prosedural lainnya dievaluasi selama OSCE. Kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan antara penguasaan keterampilan teknis dan komunikasi, meskipun mahasiswa memahami bahwa komunikasi yang jelas dan efektif sangat penting dalam proses ISDM. Namun dalam pelaksanaanya terdapat Hambatan dan tantangan untuk menerapkan ISDM. Di sisi yang lain, integrasi umpan balik sejawat dalam pelatihan komunikasi dapat membantu mengurangi hambatan-hambatan ini dalam penerapan ISDM. Hal ini memastikan bahwa mahasiswa kedokteran dapat berkomunikasi lebih efektif dan terlibat dalam pengambilan keputusan medis yang lebih kolaboratif dengan pasien. Oleh karena itu, umpan balik sejawat dapat memperkuat kemampuan mahasiswa untuk menguasai keterampilan komunikasi.

ABSTRACT

Background: Communication in medical education is considered as a fundamental clinical skill for establishing relationships with patients, paving the way for successful diagnosis and treatment. One of the stages in doctor-patient communication that must be mastered is informed shared decision making (ISDM). In the exploration of ISDM, the peer role play approach is one effective method that can be utilized. This method is known as one of the conceptual frameworks for exploring the feasibility of peer feedback to improve communication skills. Feedback is considered a key element in teaching communication skills. However, empirical evidence regarding the most effective ways to provide feedback to improve communication skills in medical students is limited especially for the ISDM skills. 


Aims: To explore the perspectives of undergraduate medical students on communication skills, particularly informed shared decision-making (ISDM) and peer feedback on particular communication skills, utilizing surveys and data collected through focus group discussion (FGD).


Methods: This research is a mixed methods explanatory design. This study begins with a survey method in the form of a questionnaire to 230 students. The questionnaire was distributed in the form of a G-Form and consisted of 16 questions that addressed students' perspectives on 8 competencies involved in the ISDM skills, including: partnership, information, role, ideas, choices, evidence, and plan. Each question was rated using a scale of 0, 1, and 2, with the total score for all competency elements ranging from 0 to 32. Additionally, the questionnaire contained 20 questions focusing on students' perspectives regarding peer feedback on communication skills. These 20 questions covered four variables: the effectiveness of peer feedback, students' perspectives on the value of peer feedback, and their perspectives on the peer feedback documentation procedure. Each of these questions was also rated on a scale of 0, 1, and 2, with the total score for all questions ranging from 0 to 40. This survey was followed by FGDs with 30 students, divided into 3 FGD groups. The FGDs explored the perspectives of medical undergraduate students regarding ISDM and their views on peer feedback for communication skills.



Results: Based on the data collected, a total of 132 respondents were obtained, with a response rate of 56% during data collection using survey and questionnaire methods. The average survey data on students' perspectives regarding ISDM skills revealed that respondents had a total mean score of 24 out of a maximum score of 32. The students understood the principles of ISDM and supported patient involvement in decision-making; however, there were still areas that needed improvement, such as providing clear information, building doctor-patient partnerships, and addressing patient concerns. Additionally, students did not prioritize learning communication skills, particularly ISDM. This gap is partly due to the lack of emphasis on ISDM communication skills in assessments (OSCE), which prioritize procedural skills. There are several SDM competencies that are frequently practiced, such as information, partnership, ideas, choices, evidence, decision, and plan. However, aspects such as decision-making, ideas, and evidence were found to be challenging to apply in ISDM. Students identified barriers such as time constraints, cultural differences, and difficulties in guiding patients toward relevant information and managing patient preferences. They also identified challenges such as differing perspectives between doctors and patients or patients' families, especially when faced with ethical dilemmas regarding serious diagnoses, as well as the competence required to manage patients' emotions and the responsibility to communicate scientific evidence. Regarding students' perspectives on peer feedback related to communication skills, 132 respondents participated, with a total mean score of 28.6 out of a maximum score of 40. Most medical students felt confident in giving and receiving peer feedback to improve their communication skills. However, some felt their skills were still not optimal and noted significant differences between peer feedback and feedback from instructors. Students considered instructor feedback to be more constructive, while peer feedback was seen as more open and supportive of discussion. Both feedback methods were regarded as complementary in overcoming communication barriers, particularly in the implementation of ISDM.


Conclusion: Based on the research findings, it can be concluded that although the majority of undergraduate medical students understand the importance of communication skills in informed shared decision-making (ISDM), these skills are often not prioritized. This occurs because students tend to focus more on clinical skills or other procedural skills evaluated during the OSCE. This condition reflects an imbalance between the mastery of technical skills and communication, despite students recognizing that clear and effective communication is crucial in the ISDM process. However, there are barriers and challenges in the implementation of ISDM. On the other hand, the integration of peer feedback in communication training can help mitigate these barriers in the application of SDM. This ensures that medical students can communicate more effectively and engage in more collaborative medical decision-making with patients. Therefore, peer feedback can enhance students' ability to master communication skills.

Kata Kunci : Kata Kunci : ISDM, Umpan Balik Sejawat, Keterampilan Komunikasi, Mahasiswa Sarjana Kedokteran

  1. S2-2025-501511-abstract.pdf  
  2. S2-2025-501511-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-501511-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-501511-title.pdf