PLATYPUS JOURNALISM: TELAAH EKONOMI POLITIK PADA PRAKTIK JURNALISME DIGITAL
Rana Akbari Fitriawan, Dr. Budi Irawanto, S.IP.M.A; Dr. Phil. Oki Rahadianto Sutopo
2025 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media
Perubahan lanskap industri media yang dipicu oleh digitalisasi telah mengakibatkan transformasi signifikan, termasuk konvergensi pada media berita dan jurnalisme. Bagi pekerja media massa, konvergensi ini tidak hanya membuat rontok media cetak, akan tetapi juga mendorong adanya perampingan jumlah pekerja khususnya jurnalis. Kondisi ini memunculkan platypus journalism, yakni sebuah siasat yang pada awalnya dimaksudkan agar jurnalis memiliki keahlian lebih sehingga mampu bertahan. Disertasi ini bertujuan mengelaborasi praktik kerja digital yang terjadi pada jurnalis di Indonesia serta upaya-upaya apa saja yang dilakukan platypus journalist dalam menyiasati kepentingan ekonomi politik media. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menyebabkan munculnya prekarisasi kerja pada platypus journalism. Menggunakan pendekatan teori ekonomi politik media serta konsep digital labour dan okupasi ruang digital dari Christian Fuchs serta metode kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa digitalisasi telah menggeser model bisnis yang pada akhirnya membuka peluang munculnya platypus journalism. Media-media raksasa yang diprediksi akan punah, ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Media konvensional seperti surat kabar, televisi dan radio memang mengalami kemunduran tetapi yang memiliki kapital besar mencoba beradaptasi dengan beralih rupa ke media digital berbasis internet dan mendorong menguatnya kapitalisme media digital. Konglomerasi media yang menguasai dunia penyiaran mengubah sebagian dan meleburkan bagian lain agar tetap bertahan dan beroperasi melalui model cross-media, sementara sebagian media lain mencoba model partnership, model jaringan hingga membership. Riset ini juga menunjukkan bahwa kritik terhadap platypus journalism dua dekade lalu masih relevan meski platypus journalism yang terjadi di Indonesia memiliki kerentanan tersendiri sesuai dengan karakter budaya media serta dinamika ekonomi politik yang berkembang. Menghadapi kondisi seperti ini, para platypus journalist merancang tiga bentuk siasat yakni siasat individual, institusional dan organisasional. Pada awalnya siasat ini diharapkan dapat bermuara pada occupy movement terutama pada ruang media digital antara lain dengan memobilisasi audiens serta menumbuhkan kesadaran untuk tidak tunduk pada kapitalisme digital melalui media. Pada praktiknya siasat ini belum bisa dijalankan sesuai dengan yang mereka inginkan. Dengan demikian gagasan Fuchs tentang okupasi media ternyata tidak sepenuhnya dapat diterapkan dalam konteks platypus journalism di Indonesia.
The changing landscape of the media industry triggered by digitalization has resulted in significant transformations, including the convergence of news media and journalism. For mass media workers, this convergence has not only caused the collapse of print media, but also encouraged a reduction in the number of workers, especially journalists. This condition gave rise to platypus journalism, a strategy that was initially intended to give journalists more skills so they could survive. This dissertation aims to elaborate on the digital work practices that occur among journalists in Indonesia and the efforts made by platypus journalists to outwit the political economic interests of the media. This study also identifies the factors that cause the emergence of work precarization in platypus journalism. Using the approach of media political economy theory and the concept of digital labor and occupation of digital space from Christian Fuchs as well as qualitative methods, this study found that digitalization has shifted the business model which ultimately opened up opportunities for the emergence of platypus journalism. The giant media that were predicted to be extinct, turned out not to be completely proven. Conventional media such as newspapers, television and radio have indeed experienced decline, but those with large capital have tried to adapt by switching to internet-based digital media and encouraging the strengthening of digital media capitalism. Media conglomerates that dominate the broadcasting world are changing some and merging other parts in order to survive and operate through a cross-media model, while other media are trying partnership models, network models and membership models. This research also shows that the criticism of platypus journalism two decades ago is still relevant even though platypus journalism that occurred in Indonesia has its own vulnerabilities according to the character of media culture and the dynamics of the developing political economy. Facing conditions like this, platypus journalists designed three forms of strategy, namely individual, institutional and organizational strategies. Initially, this strategy was expected to lead to an occupy movement, especially in the digital media space, including by mobilizing audiences and raising awareness not to submit to digital capitalism through the media. In practice, this strategy has not been able to be implemented as they wanted. Thus, Fuchs' idea of media occupation is not fully applicable in the context of platypus journalism in Indonesia.
Kata Kunci : platypus journalist, ekonomi politik media, digital labour, gerakan okupasi, model bisnis